Jung Dan Lada, Tionghoa Dalam Catatan Sejarah Banjar

Pedagang-pedagang Tionghoa secara khusus aktif dalam perdagangan lada sejak tahun 1700. Mereka datang ke Banjarmasin dari Pelabuhan Amoy, Kanton, Kingpao dan Makao.

Para nakhoda kapal barang Tiongkok diterima dengan baik di Pulau Tatas dan Kayu Tangi. Era itu, pedagang-pedagang Tionghoa yang berdagang di Banjarmasin terbagi dua, yakni pedagang-pedagang jung dan pedagang-pedagang yang menetap.

Kelompok pertama, yakni pedagang-pedagang jung Tionghoa tinggal sementara di Tatas atau di tempat lain di daerah Banjar. Setelah selesai aktivitas perdagangannya termasuk mengisi perbekalan kapalnya, mereka kembali berlayar ke Kanton, Amoy, Kingpao dan Makao di Tiongkok. Setelah itu, mereka akan kembali ke Banjarmasin pada musim berikutnya.

Sementara kelompok kedua, pedagang- pedagang Tionghoa yang menetap, semula mereka seperti pedagang-pedagang jung. Ketika melihat kondisi yang memungkinkan menetap di Banjarmasin, maka mereka menjadi penduduk kota Bandar Niaga kawasan Tatas Banjarmasin. Mereka membangun toko di kota dan pelabuhan Banjarmasin.

Perkampungan Cina (Pecinan) di tepian Sungai Martapura, Banjarmasin. Foto : KILTV Leiden


Pedagang Tionghoa kaya di Banjarmasin tahun 1718 di antaranya Ong Gie Ko dan Lim Kim Ko. Kapal dagang besar lainnya adalah milik Lau Kim Kong merupakan kapal dagang yang dikenal sebagai kapal pantai besar. Kapalnya mampu mengirim 800 pikul lada ke Batavia dalam tahun 1728. Kapal Tionghoa lainnya adalah milik Oey Hwan Ko dengan kapasitas muatan kapal yang juga besar.

Pada tahun 1736 dengan izin Sultan Hamidullah (1700-1734), orang-orang Tionghoa mendirikan perkampungan di dekat Pelabuhan Tatas. Perkampungan orang-orang Cina ini dikepalai Kapiten Cina yang setiap bulan menyerahkan sejumlah uang sewa kepada Sultan. Terdapat sekitar 80 keluarga Cina di Tatas dan Kayu Tangi sebelum tahun 1708.

Jumlah mereka terus bertambah menjadi sekitar 200 keluarga sesudah periode itu. Bertahap beberapa di antara mereka dapat berkomunikasi dalam bahasa setempat. Di samping itu, dalam keadaan mendesak misalnya terjadi perang, kapiten wajib membantu Sultan dengan meminjamkan perahu bila diperlukan.

Hubungan erat dengan Sultan merupakan penyebab mengapa Sultan Banjar pada dasawarsa pertama abad ke-18, mengangkat seorang Tionghoa bernama Lin Bien Ko sebagai Syahbandar di Pelabuhan Tatas.

Pada versi lain dituliskan bahwa pimpinan mereka di Banjar, Kapten Lin Bien Ko, sering diutus para penguasa Kesultanan Banjar untuk ikut mewakili dalam perundingan-perundingan dengan orang-orang Eropa.

Kapten Beeckman, perwakilan Inggris, menjelaskan laporan perjalanannya ke Tatas dalam tahun 1873. Untuk sampai ke Tatas kapal harus melalui Sungai Cina. Sungai Cina adalah Sungai Barito. Dari catatan ini, keberadaan Tionghoa dalam catatan sejarah Banjar memberi banyak peran dan warna.***

________________

Oleh: Mansyur ‘Sammy’

  • Penulis adalah Penasihat Komunitas Historia Indonesia Chapter Kalsel;
  • Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (SKS2B) Kalimantan;
  • Dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP ULM Banjarmasin

Sumber: Klik disini!

Comments

You need to login to give a comment