Pelatihan Pemandu Sejarah KHI

Pada 26 Juli 2020, Divisi Pendidikan dan SDM KHI mengadakan Pelatihan Pemandu Sejarah. Kegiatan ini terbuka untuk seluruh anggota KHI serta bertujuan untuk mengembangkan minat dan bakat peserta pada sejarah. Selain itu, peserta juga dapat belajar dan berwisata bersama, namun tetap mengedepankan protokol kesehatan.  

Kegiatan Pelatihan Kepemanduan kali ini berlokasi di Taman Mini Indonesia Indah, tepatnya di Anjungan Sumatera Barat, Anjungan Sumatera Utara, dan Anjungan Nanggroe Aceh Darussalam. Para peserta mulai berkumpul pada pukul 10 pagi, di Anjungan Riau. Sambil menunggu pengajar serta peserta lainnya, mereka duduk-duduk dan mengobrol bersama, serta ada pula yang berkeliling Anjungan Riau.

Menjelang tengah hari, pengajar pemandu dan peserta lain pun berdatangan. Pengajar Pemandu terdiri dari Ibu Maria Sri Utami, Bapak Adjie Hadipriawan, Bapak Asep Saepudin¸serta 8 Anggota KHI lainnya. Sebelum memulai kegiatan pelatihan, pengajar dan peserta terlebih dahulu makan siang di Rumah Makan Padang yang terdapat di Anjungan Sumatera Barat. Setelah perut terisi oleh masakan Padang yang lamak banaaa, peserta pun memulai “petualangan” mereka.

Bapak Asep Saepudin atau biasa dipanggil “Pak Cepy” menyampaikan beberapa tips apabila kita menjadi seorang pemandu. Hal yang paling penting adalah melakukan riset atau mempelajari apa yang akan kita sampaikan, agar tidak ada kesalahan informasi saat menyampaikan pada wisatawan. Selain itu kami juga belajar bagaimana cara menyampaikan narasi dengan baik dan benar, seperti mengucapkan kalimat konsonan vokal yang jelas, dengan intonasi yang tidak terlalu cepat tetapi juga tidak terlalu lambat. Sebagai pemandu kami juga harus pandai membuat kalimat menjadi diksi yang menarik agar informasi yang diucapkan dapat melekat di ingatan para wisatawan. Tidak lupa juga memberikan trivia, fun fact dan juga unique selling point agar wisatawan semakin tertarik dengan sejarah. 

Anjungan Sumatera Barat

  Memasuki Anjungan Sumatera Barat, Ibu Tami menceritakan tentang asal-usul nama “Minangkabau”. Di belakang patung kerbau Ibu Tami dan Pak Cepy menjelaskan secara bergantian, bahwa tanah Minangkabau dulunya dimenangkan dalam sebuah pertandingan kerbau. Pada awalnya Kerajaan Majapahit datang ke Kerajaan Pagaruyung untuk menginvasi ranah Minang pada tahun 1409. Pagaruyung menolak untuk tunduk pada Majapahit. Majapahit kemuudian mengumumkan perang pada Pagaruyung, dengan membawa 200.000 prajurit dan kerbau raksasa sebesar gajah dari Pulau Jawa. Namun ajakan perang Majapahit ditolak oleh Pagaruyung, yang tidak menginginkan adanya pertumpahan darah, maka diusulkanlah pertandingan adu kerbau sebagai simbolis pertarungan antar kerajaan, pihak yang kerbaunya kalah harus tunduk kepada pihak pemenang. Kerajaan Majapahit memilih kerbau besar, lincah, kekar dan agresif sebagai perwakilan Majapahit, sedangkan kerbau dari Pagaruyung adalah seekor anak kerbau yang kecil, namun tanduk anak kerbau itu telah diasah setajam bilah pisau dan anak kerbau tersebut dibuat kehausan dan kelaparan terlebih dahulu.

Singkat cerita, kerbau milik Pagaruyung yang memenangkan pertandingan tersebut. Kata “Minangkabau” sendiri diambil dari kata “Manang/ Minang” yang berarti Menang dan “Kabau” yang berarti Kerbau. Dari sanalah kerbau menjadi simbol kebudayaan historis yang sangat berarti bagi masyarakat Minang. Hal tersebut bisa kita lihat dari atap Rumah Gadang yang menyerupai tanduk kerbau dan “Tikuluak” atau tutup kepala perempuan Minang yang dilipat dan dibentuk sedemikian rupa membentuk tanduk kerbau.

Setelah mendengar cerita sekaligus melihat praktik kepemanduan dari Ibu Tami, Pak Cepy dan Pak Aji. Mereka menjelaskan bahwa artikulasi yang jelas sangat penting pada saat menyampaikan cerita di depan umum. Kami juga mengetahui dari Pak Cepy bahwa Anjungan ini pernah dipakai untuk opening iklan RCTI pada tahun 90an. Kemudian, para peserta pun masuk ke Rumah Gadang yang difungsikan sebagai ruang pameran dan galeri, terdapat pakaian adat pernikahan dari berbagai kabupaten di Sumatera Barat. Selain itu, ditampilkan pula alat-alat survival penduduk Minang pada zaman dahulu seperti peralatan menangkap ikan dan berbagai macam tombak untuk berburu.

Anjungan Sumatera Utara

  Di dalam area Anjungan Sumatera Utara terdapat 4 bangunan rumah adat suku Batak, yaitu: Rumah Adat Toba, Rumah Adat Simalungun, Rumah Adat Batak Karo dan Rumah Adat Nias. Suku Batak sendiri terdiri dari beberapa suku yaitu; Toba, Karo, Angkola-Mandailing, Pakpak/Dairi, Simalungun, Tapanuli, dan Nias.

  Pada rumah adat Simalungun yang berdiri kokoh kita bisa membaca tulisan “Habonaron Do Bona” yang berarti “Kebenaran Itu Adalah Pokok”. Rumah adat Simalungun kental dengan nuansa warna merah dan hitam. Warna merah melambangan keberanian dan hitam yang melambangkan ketegasan. Sayangnya, rumah-rumah adat di anjungan ini sedang tidak dibuka untuk umum, sehingga peserta hanya bisa memandangi kekokohan rumah adat Batak dari luar saja. 

Tiba disamping rumah adat Nias, terdapat sebuah batu setinggi kurang dari dua meter. Bapak Aji menjelaskan batu tersebut dipakai untuk ritual upacara pendewasaan seorang anak laki-laki yang disebut “Fahombo”(Lompat Batu). Dahulu, seorang anak berumur 10 tahun sudah dipersiapkan untuk megantri Fahombo mereka. Fahombo adalah ritual yang penting bagi “Urang Nieh” (Suku Nias). Pada saat ritual pemuda Nias harus mencoba melawati batu berbentuk piramida dengan permukaan datar tersebut, jika sang pemuda berhasil melompati dan mendarat dengan aman maka pemuda tersebut telah resmi menyandang status kedewasaan mereka, dengan lulusnya seorang pemuda dari ritual Fahombo ini maka ia akan akan dikenakan baju Pejuang Nias. Pemuda yang berhasil melewati lompat batu akan dianggap sudah pantas untuk ikut bertempur dengan pejuang lainnya dan mengembang tanggung jawab sebagai laki-laki dewasa. Di masa kini, Fahombo lebih dikenal sebagai olahraga tradisional yang menginspirasi cabang olahraga lompat jauh atau lompat gawang.

Anjungan Nanggroe Aceh Darussalam

Setelah mengunjungi tanah Batak, para peserta tiba di destinasi terakhir yaitu negeri “Serambi Mekah”. Gelar Serambi Mekah ini diperkirakan sudah ada dari abad ke-15, karena dulu Aceh merupakan tempat berlabuh kapal-kapal yang membawa para calon jemaah haji. Di masa lampau, Kerajaan Aceh juga pernah mendapat pengakuan dari Syarif Makkah sebagai “pelindung” kerajaan-kerajaan Islam  di Nusantara. Karena itu seluruh sultan-sultan nusantara mengakui Sultan Aceh sebagai “payung” mereka dalam menjalankan tugas kerajaan. Hingga saat ini hal tersebut telah berkembang menjadi sebuah karakter orang Aceh yang taat dan takwa dalam menjalankan syariat agama.

  Di Anjungan ini terdapat dua model rumah adat sebagai bangunan utama, salah satunya adalah Rumoh Cut Meutia yang merupakan bangunan asli, yang sengaja dibawa ke TMII. Lebih kurang rumah ini sudah berusia 200 tahun. Sayangnya kemarin Anjungan Aceh tidak dibuka. Para peserta hanya bisa melihat dari luar sekaligus mendengar cerita tentang pesawat Dakota RI-001 Seulawah yang replikanya terparkir di anjungan ini. Dakota RI-001 Seulawah merupakan pesawat angkutan pertama milik Indonesia, yang dibeli oleh uang hasil sumbangan dari rakyat Aceh. “Seulawah” sendiri berarti Gunung Emas.

Setelah selesai melakukan “study tour” yang bermanfaat, berilmu dan menyenangkan ini, para peserta duduk-duduk dan mengadakan evaluasi. Setelah melakukan evaluasi, perjalanan beranjut ke Anjungan Jawa Timur untuk melihat makam “Bapa Kuning”.Konon beliau adalah seorang dermawan yang memiliki tanah yang luas di area TMII sebelum tanah ini menjadi milik negara. Peserta juga sempat melanjutkan jalan-jalan ke Museum Hakka, namun karena jam kunjung kami terlalu sore dan hari mulai gelap, peserta hanya bisa mampir sebentar dan melihat taman serta patung-patung yang melambangkan shio Tionghoa.

Para peserta sangat senang dapat menjadi bagian dari pendidikan kepemanduan ini. Mereka berharap untuk bisa lebih baik lagi dalam berbagi dan menyampaikan informasi sejarah dan budaya Indonesia pada masyarakat atau wisatawan. Kegiatan ini membuat para peserta semakin bangga akan kekayaan etnik dan budaya Ibu Pertiwi. Semoga bersama KHI, kita bisa menjadi garda terdepan dalam melestarikan dan mengenalkan sejarah dan budaya Indonesia. Budaya yang kuat, bangsa yang berdaulat!


Comments

You need to login to give a comment