INDONESIA, THAILAND, DAN ASAM JAWA

Siapa yang tidak mengenal  Asam Jawa, rempah asli Indonesia yang sering digunakan sebagai bumbu pelengkap sayur dan kuliner Indonesia ini menjadi primadona dan resep kunci turun temurun dari nenek moyang bangsa Indonesia. Meskipun ditemukannya pertama kali di benua Afrika, namun tanaman dengan nama latin Tamarindus Indica ini dipercaya sudah tumbuh sejak era Mataram kuno yang konon dipergunakan sebagai bahan obat-obatan dan rempah sayuran,. Selain itu pohon Asam Jawa yang memiliki postur besar dan rindang dijadikan sebagai tanaman peneduh di pinggir jalan kerajaam Mataram kuno saat itu.

Lalu, apakah yang membuat menarik dari hubungan Indonesia-Thailand dengan Asam Jawa? Jika anda sedang berlibur di kota Bangkok, Thailand. Anda akan diajak tour ke beberapa sudut kota Bangkok, mengunjungi kuil-kuil Budha kuno yang dibangun pada abad ke-15, kuliner ekstrem di beberapa pasar dan area perbelanjaan favorit, serta jalanan teduh di sepanjang aliran sungai Chao Phraya, termasuk istana kerajaan yang menyimpan sejarah panjang dan hubungan kharismatik dengan Indonesia.

Indonesia dan Thailand. Dua negara ini tidak hanya terikat sebagai satu kesatuan negara berkembang di Asia Tenggara, namun lebih dari itu, mereka memiliki ikatan persaudaraan yang kuat dan tumbuh sejak beberapa dekade yang lalu. Keduanya memiliki persamaan di dalam sistem kerajaan di dalam pemerintahan. Meskipun Thailand tidak pernah merasakan pahitnya dijajah oleh negara lain, di bawah kepemimpinan Raja Bhumibol Adulyadej, negara ini sangat menghargai dan memiliki hubungan dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara.

Pada tahun 1960 Raja Bhumibol didampingi Ratu Sirikit tercatat pernah berkunjung ke Indonesia, salah satu kota yang pernah dikunjunginya adalah Bali dan Magelang, Jawa Tengah. Atas undangan khusus presiden Sukarno, Raja Bhumibol menginap selama 7 hari di istana Tampak Siring Bali sebagai tamu kenegaraan pertama di istana tersebut pasca dibangun pada tahun 1957. Pada kesempatan tersebut, raja Bhumibol juga memberikan pidato kenegaraan yang isinya : 

“Saya percaya bahwa hubungan yang membahagiakan antara kedua negara (Thailand-Indonesia) akan terus berkembang dan harus menghasilkan kesatuan  yang utuh dalam hal tujuan dan  pemahaman yang sempurna”.

 Begitulah pidato sang raja yang menandai persabatan kedua negara dan diabadikan di dalam catatan situs The Royal Imprint on International Relations. Selain kunjungan ke istana tersebut, Raja yang dijuluki Rama IX itu juga menginjakkan kakinya selama  3 hari di kota Magelang, didampingi oleh Raja Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan Hamengkubuwono IX, turut datang mengunjungi Akademi Militer Nasional (AMN) dan Candi Borobudur, Magelang.Kunjungan raja Thailand pertama ini ke Indonesia menandai persahabatan dan jalinan persaudaraan yang sangat erat antara Indonesia dan Thailand.

Kejadian unik terjadi ketika di dalam mobil kenegaraan dan iring-iringan mobil pengawal kepresidenan memasuki kawasan Desa Menoreh menuju Candi Borobudur. Jalur perjalanan yang mereka melalui diantaranya Jogjakarta-Kulon Progo-Bagelen-Don Bosco-Alun-alun Purworejo kemudian menuju Magelang melalui Salaman. sang Raja begitu terpesona melihat pohon besar berjejer di sepanjang jalan utama, pohon tersebut begitu besar, rindang dan tertata rapi berjarak 10 meter antar pohon. Suasana sejuk dan hembusan udara perbukitan Menoreh menerpa wajah sang Raja ketika beliau membuka jendela kaca mobilnya. Di dalam mobil Cadillac 48, mobil kenegaraan presiden Sukarno. Raja Bhumibol sempat menanyakan perihal nama pohon tersebut.

“Bung Karno, saudaraku, apakah gerangan nama pohon yang berjajar rapi di pinggir jalan ini? Jika diperbolehkan aku ingin berhenti sejenak menikmati rindangnya pohon-pohon ini.”

Tak ayal, presiden Sukarno yang sedari tadi sedikit tertunduk karena kantuk menjadi terperanjat mendengar permintaan sang Raja. Presiden Sukarno lantas menyuruh sang supir untuk menepi dan berhenti di bawah pohon besar tersebut yang tidak lain adalah pohon asam Jawa yang memang ditanam di pinggir jalan Purworejo-Magelang. Pohon Asam Jawa yang ditanam di pinggir jalan Purworejo-Magelang tidak terlepas dari sejarah panjang pembangunan jalan tersebut yang dibangun oleh  RAA Cokronegoro I dan R De Filletaz Bousqet atas perintah Karesidenan Bagelen, Jonkh JGOS Don Schmidt pada tahun 1845-1850. Untuk mengenang pembukaan dan pembangunan jalan tersebut dibangunlah tugu prasasti di kecamatan Bener, kabupaten Purworejo berbentuk Obelisk. Sebagai perindang jalan, ditanamilah semacam pepohonan keras, dan dipilihlah pohon asam Jawa. Hal ini dengan berbagai pertimbangan bahwa pohon Asam Jawa memiliki batang tubuh yang kuat dan dapat hidup ratusan tahun, sedangkan dari buahnya dapat dijadikan rempah masakan dan obat-obatan.

Setelah berhenti dan beristirahat kurang lebih 15 menit di bawah pohon Asam Jawa, Raja Bhumibol mencoba memetik buah pohon asam tersebut dan mencoba untuk memakannya. Dengan kedua matanya sedikit tertutup dan bunyi gigi yang beradu akibat rasa asam yang ditimbulkannya, Raja Bhumibol malah semakin ketagihan. Maklum, di negaranya belum pernah dia jumpai pohon dengan buah asam semacam ini. Dia memerintahkan pengawalnya untuk mengambilkannya lebih banyak lagi. Melihat hal tersebut, timbul ide unik dari presiden Sukarno. Tanpa pikir panjang, sang presiden langsung memerintahkan Mangil Martowidjojo, ajudannya untuk mengumpulkan bibit pohon Asam Jawa yang ada di sekitar Magelang dan Purworejo. Dalam hitungan jam, terkumpullah seribuan bibit pohon Asam Jawa dari daerah Purworejo dan Magelang.

Sepertinya, ide tersebut terlaksana ketika menjelang keberangkatan Raja Bhumibol kembali ke negaranya, presiden Sukarno menghadiahkan 1.000 bibit pohon asam Jawa asli dari Purworejo dan Magelang. Raja Bhumibol sempat tertawa dan kaget ketika mendapatkan hadiah yang begitu menarik baginya, Asam Jawa. Presiden Sukarno juga berpesan kepada sang Raja untuk menanamnya di negaranya sendiri, sebagai wujud dan tanda persahabatan dua negara. Hingga saat ini, jika anda berkunjung atau berlibur di kota Bangkok, Thailand, anda akan menjumpai deretan pohon Asam Jawa tumbuh subur di jalan-jalan kota. Ukurannyapun besar dan tinggi, mengingat di dalam istana Raja Bhumibol terdapat budidaya pertanian dan perkebunan yang dikelola langsung oleh istana, maka tidak aneh apabila pohon Asam jawa dapat tumbuh subur di Thailand. Itulah sedikit cerita menarik dan tidak pernah terpublikasikan dari cerita persahabatan pohon Asam Jawa yang berasal dari Indonesia, hadiah dari sang Presiden untuk sang Raja.***

Salam, Mas Awan.

Sumber : Wikipedia.org, Kaskus, dinparbud.purworejokab.go.id

Comments

You need to login to give a comment