Kedekatan Sukarno dengan Pelukis Etnis Tionghoa

Pada masa Orde Lama, Presiden Republik Indonesia Ir. Sukarno memiliki kecintaan dan ketertarikan terhadap dunia kesenian ditunjukkan dengan aktivitas kreatif berkesenian serta mulai mengoleksi lukisan karya-karya seniman lokal maupun luar negeri. Beberapa karya lukis dipindahkan ke kediamannya di Jalan Pegangsaan Timur.Koleksipresiden Sukarno berupa barang-barangseni,tercatat ribuan karya seni rupa dalam daftar koleksi Istana Negara, baik berupa lukisan, patung, dan keramik, yang semuanya masih tersimpan di Istana Negara. Beberapakarya seni diarsipkan dan ditempatkan di empat istana Negara yang berbeda, yaituIstanaMerdeka, Istana Bogor, Istana Tampaksiring di Bali, Gedung Agung Yogyakarta, dan Istana Cipanas. Karya-karya seni rupa tersebut mampu mempresentasikan kisahsejarah melaluiseniman-seniman pembuatnya, seperti Raden Saleh, Basuki Abdullah, Affandi, Trubus, Dullah, Lee Man Fong, dan Lim Wasim.

Beberapa hasil karya seniman yang dipajang di istana merupakan seleksiPresiden Sukarnopadamasa itu berdasar selera pribadi dan instuisi seninya. PresidenSukarnomerupakan seseorang yang menaruh perhatian dan memilikiminat tersendiri terhadap seni lukis dan patung karya seniman Nusantara. Para seniman yang sering dibicarakan di kalangan Istana Negara pada masaitu di antaranyaadalahHenk Ngantung, Sudjojono, Lee Man Fong, Basuki Abdullah, dan lain-lain.Masing-masing seniman menampilkantema, gaya, serta teknik yang berbeda pada karya-karyanya.

Perkembangan masyarakat Indonesia pada masa 1950-60-an penuh dengan pergolakan, polarisasi dan pertentangan ideologi politik,menciptakan situasi yang tidak kondusif bagi para seniman untuk mengekspresikan kebebasan terutama dalam bidang kebudayaan. Pada tahun 1950merupakan periode transisi untuk mencari bentuk dan corak identitas keIndonesiaan.Pemikiran, perdebatan dan pertarungan intelektual ditujukan untuk menemukan bentuk seni yang beridentitas keIndonesiaan.

Selain pelukis-pelukis Indonesia, pada masa itu juga telah tampil pelukis-pelukisketurunan Tionghoa, yangmenunjukkan kekuatan dan pengaruh tersendiri. Keberadaan seniman dan pelukis Tionghoa pada periode tersebut sangat beragam, memiliki karakteristik unik, langgam tersendiri, mampu memperlihatkan signifikansinya dalam dunia seni rupa, khususnya seni lukis di Indonesia. Realitas tersebutmelatarbelakangiberdirinyaLembaga seniman Yin Hua padatahun1955.

Lembaga seniman Yin Hua digunakan sebagai rumah pelatihan keterampilan dan tempat pengembangan seni lukis,yangmemiliki anggota kurang lebih 100 seniman pada awal pembentukannya.Lembaga Seniman Yin Hua bisa mengubah betapa pentingnya perkumpulan seni ini dengan perkumpulan seni lainnya, seperti Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), Sanggar Bumi Tarung, atau sanggar-sanggar seni pribumi lainnya. Selain itu, juga melihat bagaimana peran dan pentingnya seni lukis Tionghoa untuk dilihat, artinya seni lukis Tionghoa itu juga penting untuk dilihat, kenapa pada hari ini tidak tampak, karena beberapa kasus politik yang menyebabkan orang Tionghoa atau kebudayaannya tertutup saat pemerintah Orde Baru. Menariknya beberapa anggota dari Yin Hua ada yang diangkat menjadi pelukis istana, yaitu Lee Man Fong dan Lim Wasim tahun 1961.

Manajemen Organisasi

Keberadaan organisasi seni ini tidak bertujuan “menepuk dada” (self glorifying) yang membanggakan kebesaran etnis Tionghoa (Tionghoa sentries) dibandingkan dengan suku lainnya. Lembaga seniman Yin Hua justru merajut heterogenitas yang menciptakan suasana pluralitas. Nama Yin Hua mengandung makna yaitu Yin berarti “Indonesia” dan Huabermakna “Tionghoa”. Jadi menggambarkan relasi kultural antara Indonesia dan Tionghoa yang berkontribusi pada bangsa dan negara lewat kebudayaan.

Kelahiran Yin Hua terinspirasi oleh keberadaan organisasi sosial yang bernama Sin Ming Huiatau Perkumpulan Terang Baru yang berdiri pada 20 Januari 1946. Perkumpulan tersebut bertempat di kantor media massa Sin Podi Jalan Asemka, Jakarta Kota. Melalui Yin Hua diharapkan etnis Tionghoa mampu mengenal dan lebih menghayati diri sendiri, sekaligus mampu menghapuskan anggapan negatif (stigma) yang telah melekat di kalangan etnis Tionghoa sebagai golongan yang berbeda atau asing dengan penduduk pribumi.

Lembaga seniman Yin Hua menyadari, bahwa setiap kemampuan yang ada dalam diri masyarakat Tionghoa di Indonesia mampu diberdayakan dan digunakan secara baik dan produktif. Kegiatan di bidang seni lukis merupakan salah satu strategi menggerakkan pelukis Tionghoa untuk tetap berjuang, memaksimalkan, dan memusatkan energi mewujudkan tujuan berbangsa. 

Untuk memenuhi tuntutan sebagai sebuah organisasi yang baik, diperlukan seperangkat aturan, berupa Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) serta peraturan lain yang diperlukan. Meskipun lembaga seniman atau pelukis dipandang memiliki “jiwa bebas dan merdeka”, tetapi perlu memiliki aturan atau regulasi untuk mencapai cita-cita atau tujuan organisasi. Lembaga seniman Yin Hua menyusun suatu aturan yang telah disepakati bersama sebagai dasar mengambil keputusan dan dalam menentukan tindakan. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Yin Hua termuat dalam buku katalog yang diterbitkan saat pameran bersama pertama tahun 1956 di Paviliun Hotel Des Indes (kini menjadi pusat pertokoan Duta Merlin, hingga menjadi Carrefour daerah Jakarta Pusat).

Dalam pameran tersebut tersusun katalog pameran dengan format yang moderen, berkualitas, serta tampilan padat jika diukur penerbitan bentuk katalog pada zamannya yang berupa leafletatau selembar kertas berisi informasi mengenai judul karya-karya tanpa disertai dengan gambar lukisan yang dipamerkan.Katalog pameran ini tersusun cukup tebal, dibaca mulai dari alur kanan ke kiri seperti cara membaca buku asal Tiongkok. Katalog pameran ini memuat informasi pengurus Lembaga Seni Yin Hua yang terdiri dari 19 orang, anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) tersusun 16 pasal peraturan keanggotaan, sebuah artikel dari Hsu Chung Ming (populer dengan nama C.M. Hsu) yang berjudul “Seni Lukis Western School di Indonesia”, serta nama-nama anggota Lembaga Seniman Yin Hua yang melakukan pameran yang mencapai 92 orang dari berbagai daerah seperti Jakarta, Bandung, Cirebon, Surabaya, Semarang, Solo, Pekalongan, dan Malang.

Lembaga seniman Yin Hua berkomitmen serta memiliki visi yang jelas, tegas, serta jernih yaitu berusaha menghayati, menggali, dan mengembangkan segala potensi, baik teknis serta praktis bagi seniman Tionghoa. Hal ini diatur melalui keputusan yang disepakati bersama dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) pasal 3 yang berbunyi, “melakukan penjelidikan dalam ilmu seni serta memperkembangkan kesenian dan mempertinggi kebudajaan”.Peraturan ini dijadikan program prioritas serta menunjukkan komitmen Lembaga Seniman Yin Hua sebagai pusat menelaah dan mengembangkan potensi bagi seniman Tionghoa. Selain itu, lembaga ini mampu menumbuhkembangkan keterampilan di bidang seni, khususnya seni lukis bagi seniman Tionghoa. 

Hal yang perlu diberi catatan adalah mengenai persyaratan untuk menjadi anggota lembaga seniman Yin Hua, tercantum pada pasal 4 yang berbunyi:

”Orang-orang jang dapat diterima mendjadi anggauta ialah suku Tionghoa jang hidup dan bertempat tinggal di Indonesia, tidak dibedakan kewarganegaraannja dan kelamin, jang genap berusia 18 tahun dan menjetudjui azas tudjuan perkumpulan ini, dengan perantaraannya dua anggauta setelah mendapat persetudjuan dewan pengurus lantas dapat diterima mendjadi anggauta”.

Pasal ini mengandung makna bahwa lembaga seni ini tidak membeda-bedakan asal-usul kewarganegaraan dan memberikan kesempatan kepada masyarakat Tionghoa untuk berperan, dan berfungsi dalam pembangunan bangsa dan negara serta tidak melakukan kegiatan politik praktis secara jelas. 

Sementara itu,isu kewarganegaraan menjadi persoalan masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia. Sistem kewarganegaraan menimbulkan diskriminasi, kebingungan serta kerumitan. Negara Tiongkok saat itu menerapkan aturan dalam hal kewarganegaraan yaitu setiap orang yang lahir dengan orang tua berstatus Tionghoa menjadi warga negara Tiongkok (konsep Ius Sanguinis), sedangkan di negara Indonesia berlaku setiap orang yang lahir di wilayah tanah air Indonesia merupakan warga negara Indonesia (konsep Ius Soli).

Hal tersebut mengakibatkan banyak masyarakat Tionghoa yang tinggal di Indonesia memiliki status kewarganegaraan ganda, sehingga masalah politik yang berkaitan dengan kewarganegaraan, yang mulanya berawal dari Konferensi Meja Bundar (KMB) tahun 1949, diselesaikan dengan suatu perjanjian bilateral antara negara Indonesia dan Republik Rakyat Tiongkok. Penduduk Tionghoa secara otomatis menjadi warga negara Indonesia dengan catatan tidak menyatakan penolakan atau memilih sebagai warga negara Tiongkok, tetapi kebanyakan penduduk Tionghoa ragu memilih kewarganegaraan Indonesia atau Tiongkok. Persoalan mengenai kewarganegaraan mampu diselesaikan melalui jalur diplomasi kewarganegaraan ganda antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah RRT saat di sela-sela Konferensi Asia Afrika 1955.

Kegiatan seni dari Yin Hua mengalami pasang surut akibat kebijakan diskrimasi yang berbasis ras dan tidak berjalannya regenerasi di dalam organisasi Yin Hua. Anggota-anggota Yin Hua yang tersebar di seluruh Indonesia memiliki gaya, aliran, dan teknik bervariasi. Ada yang menerapkan gaya tradisional Cina klasik yang bercirikan memanjang dan melebar dalam lukisannya serta ada pula yang menggunakan teknik moderen (Western Painting).

Peranan Lembaga seniman Yin Hua sangat berarti bagi pelukis-pelukis Tionghoa yaitusebagaiwadah untuk menghasilkan karya-karya unik serta mampu memperkaya khazanah dunia senilukisdi Indonesia. Lembaga seniman Yin Hua sering menjadi tempat berkumpul, belajar bersama, saling berinteraksi sesama pelukis, bertukar pikiran, berbagi teknik dan pengetahuan mengenai dunia seni lukis serta melakukan aktivitas sosial melukis secara bersama dengan pelukis-pelukis Indonesia (pribumi). Selain itu beberapa anggota Yin Hua ada yang menjadi profesi sebagai pelukis Istana, yaitu Lee Man Fong dan Lim Wasim pada tahun 1961 yang telah berkontribusi bagi dunia seni rupa, terutama seni lukis di Indonesia. Adapula anggota dari Lembaga seniman Yin Hua yang berkunjung ke Tiongkok tahun 1956, antara lain Chang I-Ou (Bandung), Chouw Yeuh Fen (Jakarta), Han Jeh-Kuang (Surabaya), Lay Man Hong (Jakarta), Lee Maan Fong (Jakarta), Ling Nan Lung (Jakarta), Tjeng Tjiam-Hwie (Malang), Wen Poer (Jakarta), Yap Thay-Hwa untuk melakukan kunjungan atau misi kebudayaan memperkenalkan seni budaya Indonesia dan menjalin hubungan dengan seniman Tiongkok.***


Oleh: Reza Jurnaliston 

Alumni Jurusan Sejarah Universitas Diponegoro

_______________

DAFTAR PUSTAKA

Arsip

Katalog Lembaga Seniman Yin Hua, Pameran Seni Lukis Lembaga Seniman Yin Hua tahun 1956,(Jakarta: N.V. Percetakan Sin Po, 1956).

Lembaga Seniman Yin Hua, Pameran Seni Lukis Lembaga Seniman Yin Hua Ke II (Jakarta: N.V. Percetakan Sin Po, 1957).

Buku, Artikel, Penelitian, dan Situs Internet

Adi, W dan Sumartono et al (eds),Aspek-Aspek Seni Visual Indonesia: Politik dan Gender(Yogyakarta: Yayasan Seni Cemeti, 2001).

Agus Dermawan T., Bukit-Bukit Perhatian, dari Seniman Politik, Lukisan Palsu sampai Kosmologi Seni Bung Karno (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2004).

Agus Dermawan T, Melipat Air Jurus Budaya Pendekar Tionghoa: Lee Man Fong, Siauw Tik Kwie, LimWasim(Jakarta: Kepustakaan Populer Jakarta, 2016). 

Agus Dermawan T. Arie Smit: Hikayat Luar Biasa Tentara Penembak Cahaya(Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2016).

B. Horton, Chester L. Hunt, Sosiologi,terjemahan Aminuddin Ram dan Tita Sobari (Jakarta: Erlangga, 1984).

Bogaerts,Els, “’Kemana Arah Kebudajaan Kita’ Menggagas Kembali Kebudayaan di Indonesia pada Masa Dekolonisasi”, dalam Jennifer Lindsay dan Maya H.T. Liem, ed., Ahli Waris Budaya Dunia: Menjadi Indonesia, 1950-1965 (Denpasar-Jakarta: Pustaka Larasan dan KITLV, 2011).

Brigitta Isabella dan Yerry Wirawan, “Praktik Seni Rupa Seniman Tionghoa Indonesia 1955-1965” (Yogyakarta: Indonesian Visual Art Archive, 2015).

Burhan, M. Agus, Seni Lukis Indonesia, Masa Jepang Sampai Lekra(UNS PRESS, 2013).

Burhan, M.Agus, “Paradoks Dalam Seni Lukis Indonesia Masa Jepang”, Pidato Ilmiah Dies Natalis ISI Yogyakarta XX (Lustrum IV), Jumat, 23 Juli 2004.

Darmawan, Darwin, Identitas Hibrid Orang Cina(Yogyakarta: Gading Publishing, 2014).

Digest, Isandrinesta, “100 Tahun Seni Lukis Modern Indonesia” (http://isandri.blogspot.co.id/2008/05/100-tahun-seni-lukis-modern.indonesia.html?m=1, diakses pada Rabu, 7 Desember 2016, pukul 10.18 WIB).

Dullah (ed), Lukisan-Lukisan Koleksi Ir. Dr. Sukarno(Peking: Pustaka Kesenian Rakyat Tiongkok, jilid I dan II, 1956).

Dullah (ed), Lukisan-Lukisan Koleksi Ir. Dr. Sukarno(Peking: Pustaka Kesenian Rakyat Tiongkok, jilid III dan IV, 1956).

Gostchalk,Louis, Mengerti Sejarah, terjemah Nugroho Notosusanto (Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1987).

Hidayat, Z. M., Masyarakat dan Kebudayaan Cina di Indonesia (Bandung: Tarsito, 1977). 

Holt, Claire, Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia, terjemahan: Soedarsono (Jakarta: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia, 2000).

Ismayanto, Darma, “Pelukis Istana Asal Negeri Sutra” (http://historia.id/budaya/ pelukis- istana- asal- negeri- sutra, diakses Rabu,7 Desember 2016, pukul 10.24 WIB). 

Joshua, Norman, “Memperkenalkan Indonesia Kepada Dunia: Diplomasi Budaya Indonesia dan Uni Soviet, 1950-1965” (Makalah pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2013).

Karnadi, Koes, Modern Indonesian Art: From Raden Saleh to the Present Day (Bali: Koes Artbooks, 2006).

Ki Ageng Suryomentaram, Wejangan Pokok Ilmu Bahagia(Jakarta:Yayasan Idayu, 1981).

Kusnadi dkk, Sejarah Seni Rupa Indonesia (Jakarta: Direktorat Jenderal Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1976/1977).

Krauss, Werner, “Chinese Influence on Early Modern Indonesian Art? Hoa Qua: a Chinese Painter in 19th-century Java” (Archipel Volume 69, 2005).

Kwee, John B., “Kwee Tek Hoay: A Productive Chinese Writter Of Java (18880-1952)”. Dalam Archipel Vol.19 1980.

Lee Man Fong dan Lim Wasim (ed), Lukisan-Lukisan dan Patung-Patung Kolleksi Presiden Sukarno dari Republik Indonesia (Tokyo: Panitia Penerbitan Lukisan-Lukisan dan Patung-Patung Kolleksi Presiden Sukarno dan PT. Topan, jilid I-V, 1964).


Comments

You need to login to give a comment