Menggugat Proklamasi (Repost tahun 2011)

Masih perlu kah merayakan proklamasi?

Walau tanggal 17 Agustus masih jauh, segala persiapan untuk merayakan proklamasi sudah dimulai. Bahkan di beberapa daerah di Indonesia ada yang merayakannya sengaja di akhir Juli ini dengan perlombaan ala 17-an . Mungkin ini pertimbangan teknis, karena 1 Agustus telah memasuki bulan Ramadhan. Sehingga, dengan pertimbangan puasa, perayaan Proklamasi Kemerdekaan di percepat. Hal ini tentu memunculkan pertanyaan, apakah masyarakat benar-benar memahami fakta sejarah Proklamasi? dan apakah mereka tahu bahwa Proklamasi Kemerdekaan RI terjadi pada hari Jumat, 17 Agustus 1945 yang saat itu jatuh pada tanggal 9 Ramadhan 1366 H?

Perayaan 17-an sudah menjadi tradisi yang turun temurun, dari pemerintah pusat hingga daerah, dari kelompok darma wanita pusat hingga ibu-ibu di lingkungan RT/RW. Mereka merayakannya dengan hiburan, sukacita dan bersenang-senang melalui permainan dan lomba seperti balap karung, makan kerupuk, dan panjat pinang, serta perlombaan lain seperti lomba/karnaval mobil hias, sepeda hias dan karnaval anak-anak dengan hiasan baju adat tradisional, dan lain sebagainya. Nampaknya, proklamasi masih menjadi momen penting bagi bangsa yang berpenduduk lebih dari 250 juta jiwa ini.

Namun, pertanyaannya, masih pantaskah perayaan Proklamasi kemerdekaan yang dahulu diperjuangkan dengan darah, air mata dan nyawa oleh para pahlawan dan pendiri bangsa ini hanya dirayakan dengan perlombaan-perlombaan seperti itu? Apakah dengan perlombaan-perlombaan itu kita makin kenal dengan para pahlawan bangsa? Makin tahu cita-citanya, semangat perjuangannya dan kiprah pengorbanannya? Karena semakin kita tahu pengorbanan seseorang untuk kita, kita akan semakin menyangi orang tersebut. Termasuk para pahlawan bangsa ini, semakin kita tahu perjuangannya, kita akan makin mencintai republik ini. 

Apakah tidak ada cara lain yang lebih arif, mendidik dan bermartabat demi pembangunan karakter dan generasi yang lebih baik nantinya? Atau memang kita nggak peduli? Faktanya, perayaan-perayaan semacam itu telah menghasilkan generasi masa kini yang pragmatis, individualis, hedonis dan materialis akut.

Lantas, kalau ada yang bilang cara kita merayakan proklamasi tidak ada hubungannya dengan keterpurukan bangsa/atau dilecehkannya kita oleh bangsa lain, berarti mereka tidak memahami korelasi antara masa lalu dengan masa kini, dan masa kini dengan masa depan. 

Perlu diingat, setiap apa yg kita lakukan dalam merayakan sesuatu adalah cermin dari diri dan identitas kita sebagai bangsa yang akan berimplikasi kuat dan akan hadir di masa depan. Dari sini lah terlihat, bahwa kita sudah pragmatis, individualis dan hedonis-materialis yang bukan lagi gosip, tetapi sudah menjadi fakta. Perayaan proklamasi misalnya, jadi tidak berjiwa, karena hanya memburu kesenangan belaka. Pesta pora, kriaan, sebatas itu.

Nina bobo yang diberikan oleh Belanda sejak jaman penjajahan masih kita lestarikan. Bermain injak-injakkan, saling kotor-kotoran untuk memperebutkan sesuatu yang menurut saya nilainya tidak seberapa, tak jarang ada kisah pilu karena memakan korban jiwa. Hanya lucu-lucuan, saling menertawakan, tanpa sadar semakin hari kita semakin melupakan jati diri dan identitas kita sebagai bangsa. Tanpa sadar bahwa penjajahan bentuk baru telah menyerang dengan cepat terhadap bangsa ini. Dimana "soft power" kita lah yang "diserang dan dihancurkan" oleh bangsa lain melalui globalisasi dan modernisasi, melalui kemudahan teknologi dan kenyamanan masa kini, melalui HAM dan demokratisasi ala barat serta liberalisasi ekonomi. Hasilnya, kita menjadi tak berakar, bangsa kita menjadi tak berjiwa, lemah dan mudah putus asa.

Kita terlena, kita dibuai dengan sekonyong-konyongnyanya melupakan masa lalu, kita melupakan tradisi dan kearifan lokal, kita melupakan asal dan akar tempat kita berpijak. Kita menjadi rapuh, kita menjadi mudah diadu domba dan dilecehkan oleh bangasa/kelompok lain. Karena kita tidak memiliki rasa & semangat membela ketika sebagian dari apa yang kita miliki dicabik-cabik oleh bangsa lain, karena kita tidak mengenali dan menyadarinya, bahwa itu milik dan hak kita. (Tahun 2011 ada ribut soal klaim oleh negeri jiran, hehe)

"Untuk menghancurkan suatu bangsa, hancurkan ingatan sejarah generasi mudanya!" (Asep Kambali) 

Semua problema mendasar di atas hanya mampu diselesaikan melalui kesadaran sejarah (history consciousnees) dan kesadaran budaya. Hanya akan selesai jika kita memiliki harmoni antara moderenisasi dengan tradisi, antara globalisasi dengan glokalitas, antara masa kini dengan masa lalu. 

Untuk itu lah, cara-cara kita berkehidupan seyogyanya berlandaskan pada sejarah dan kebudayaan. Karena disitulah letak kearifan/kebijaksanaan. Coba saja, kita tanya anak-anak remaja, mungkin juga sebagian orang tua kita, apa mereka tahu arti Indonesia? Siapa yang memberi nama Indonesia pertama kali? Kapan? Dll. Siapa pahlawan yang ada di uang sepuluh ribu yang lama? Apakah mereka mengenalinya? Belum lagi jika diminta menyebutkan pancasila, teks proklamasi, lagu-lagu perjuangan dan nasional/daerah, apakah mereka mampu memahami dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari2? Apakah mereka tahu letak Pulau Dana, Pulau We dan Rote? 

Nah, jika proklamasi dirayakan semata-mata hanya untuk kesenangan belaka yang dicari, hasilnya saya yakin kita akan semakin melupakan sejarah dan budaya kita. Kita akan jadi tidak berjati diri dan tidak berkarakter. Tidak akan ada lagi ruang bagi kita untuk mengasah pemahaman dan membangun harmonisasi kehidupan. Dampaknya, ketika ada klaim sejarah dan budaya dari bangsa lain, kita hanya mampu diam seribu bahasa, karena kita tidak memiliki pemahaman dan pengetahuan terhadap apa yang diklaim bangsa asing itu. Ingat, The knowledges is the power! Akibatnya, kita harus rela kehilangan. Karena kita tidak mengenalinya, karena kita tidak merasa memilikinya. Jika tak kenal, maka tentu kita tak akan sayang. Begitulah kita terhadap bangsa sendiri. Ironis bukan?! 

Saya tekankan bahwa, bukan berarti perayaan yang sudah ada sekarang yang sering kita selenggarakan itu semuanya tidak baik dan tidak bermanfaat, tetapi alangkah lebih bijaksana jika kemerdekaan itu kita maknai sebagai sarana introspeksi, sarana belajar mengenal Indonesia secara mendalam melalui sejarah dan budayanya, sarana membangun kesadaran tentang bagaimana cara mengisi kemerdekaan agar nasionalisme kita tidak semu, agar nasionalisme kita berdasar pada pemahaman sejarah dan budaya yang luhur, sehingga identitas dan jati diri itu terbangun, karena itulah yang disebut sebagai upaya membangun karakter bangsa itu. 

Usulan Coba deh, kita merayakan kemerdekaan dengan mengadakan lomba baca teks proklamasi, lomba menyanyikan lagu perjuangan, lomba mirip pahlawan, role playing/bermain peran tokoh sejarah dan pejuang, memecahkan puzzle sejarah, membuat media interaktif sejarah, nonton bareng film sejarah perjuangan, diskusi dan malam renungan kemerdekaan, napak tilas proklamasi, berkunjung ke Tugu Proklamasi, historia amazing race, kunjungan ke keluarga pejuang, dll., masih banyak lagi... kalau itu sudah dilakukan, jauh lebih bangga disebut bangsa terdidik yang bijak, ketimbang disebut sebagai bangsa hedon yang pragmatis, bukan?***


Bekasi, 31 Juli 2011 

Asep Kambali 

Sejarawan/Pendiri Komunitas Historia Indonesia (KHI)

*Tulisan ini dimaksudkan agar perayaan Proklamasi mendatang yang kita selenggarakan dapat lebih mendidik dan bermartabat, namun tetap seru dan fun. Semoga! 


Comments

You need to login to give a comment