Bukan Itu yang Diinginkan Kartini

“Saya heran sudah berpuluh-puluh tahun Orang Indonesia merayakan Hari Kartini-nya dengan menganjurkan Perempuan-perempuan berkebaya cantik dengan konde yang besar-besar, bahkan selalu diadakan lomba-lomba kebaya & konde yang besar-besar. 


Lomba semacam ini saya sangat setuju sekali, tetapi TIDAK ADA HUBUNGAN NYA dengan gaya sikap R.A. Kartini...” 


Penggalan artikel di atas merupakan ungkapan dan pandangan Harry Darsono, seorang perancang busana kawakan yang multi talenta berkaliber internasional. Pandangannya itu saya peroleh dalam sebuah group Whatsapp yang saya kelola. 


Apa yang diungkapkan dalam pandangannya itu, Harry Darsono, yang juga pemilik Museum Harry Darsono dikawasan Cilandak itu, menggambarkan suatu kekesalan yang amat mendalam. Ya, saya sebagai kawan karibnya yang sama-sama menggemari kebudayaan, terutama museum, pandangannya itu amatlah berdasar. 


Di negara kita, Indonesia, sekarang ini banyak seremonial yang salah kaprah. Momen-momen bersejarah jadi bias makna. Sama seperti lomba panjat pinang, balap karung, makan kerupuk, dan perlombaan lain yang kerap disimbolkan untuk merayakaan kemerdekaan Indonesia. 


Padahal semua perlombaan itu menurut saya kurang tepat, atau sebenarnya bukan itu maksud dan makna yang seharusnya kita petik dari perayaan kemerdekaan itu. Ada hal-hal yang sangat fundamental melebihi dari semua perlombaan itu. Cara-cara kita dalam merayakan kemerdekaan terbukti menjauhkan diri kita dengan para pejuang dan pahlawan bangsa. 


Kita tidak semakin mengenal siapa saja para pendiri republik ini, apa semangat dan nilai-nilai perjuangan serta cita-cita mereka dalam memperjuangkan dan membangun negeri ini? Semua itu jauh lebih penting kita kenali dan maknai untuk kita jadikan “obor” penerang dan “bahan bakar” (red: semangat) dalam meneruskan dan mengisi kemerdekaan untuk membangun negeri yang kita cintai ini. 


Saya sangat berterima kasih sekali kepada pak Harry, sapaan akrab saya untuknya, yang telah memberikan pencerahan dan semangat perubahan kepada kita. Pak Harry telah menyadarkan kita bahwa sesungguhnya terdapat hal-hal yang jauh lebih penting dan mendasar dari apa yang kerap kita simbolkan dan lakukan dari semua perayaan-perayaan itu. 


Soal Kartini saya sependapat, bukan dengan semua perlombaan simbol-simbol ke-Kartini-an, tapi justru sejarah dan semangat perjuangan Kartini yang musti kita kenali dan petik, yang dapat kita jadikan sebagai “obor” dan “bahan bakar” tersebut untuk mengisi dan membangun kemerdekaan yang telah kita raih.


Apa yang telah kita lakukan, atau tepatnya apa yang telah perempuan-perempuan Indonesia lakukan dan pencapaian-pencapaian apa saja yang telah diraih oleh mereka dalam mengisi kemerdekaan saat ini? Itu jauh lebih penting kita ketahui. Apakah yg mereka lakukan dan capai telah seperti Kartini? Yang telah peduli pada nasib dan pendidikan anak-anak perempuan di jamannya. Yang berarti, sosok Kartini tidak berkerja untuk dirinya sendiri, tetapi ia telah berjuang untuk kepentingan orang banyak di sekitarnya. 


Faktanya, saat ini kita kerap disuguhkan bahwa kesuksesan itu dinilai dari apa yang dihasilkan oleh kita, bukan dari apa yang telah kita bagikan kepada orang lain untuk membantu dan memberikan kesempatan sukses bagi mereka. Itu lah yang sesungguhnya dilakukan Kartini di masa lalu. Dengan memberikan “modal” pendidikan kepada anak-anak perempuan secara gratis, Kartini meyakini bahwa perempuan Indonesia bisa bangkit dan maju. Tidak seperti dirinya, yang terbelenggu, terjebak dalam sistem feodalisme yang menyebabkan ia harus pasrah dan menerima apa yang telah menjadi keputusan orang tuanya. 


Kartini tidak bisa bersekolah. Keinginannya kuliah di Belanda harus kandas karena dilarang orang tuanya. Bahkan keinginannya untuk kuliah keguruan di Batavia (kini Jakarta) juga harus ia urungkan karena orang tuanya memaksa dia menikah dengan bupati Rembang menjadi istri ke-4. Kartini adalah sosok penurut, taat dan sangat menerima dan menghargai budaya Jawa. Ia tidak pernah melawan dan tidak membentak kepada orang tuanya. Bagi Kartini, sosok orang tuanya itu adalah panutan dan teladan. Apakah kita, atau tepatnya apakah para perempuan Indonesia yang kerap merayakan Hari Kartini telah benar-benar memahami dan telah melakukan seperti apa yang dilakukan Kartini? Bukan dengan berlomba-lomba memakai kebaya, konde dan sanggul yang besar-besar seperti yang dikeluhkan Harry Darsono.


Apa yang dilakukan Kartini saat itu, telah melampaui batas dari apa yang dilakukan perempuan-perempuan lain di jamannya. Semua itu dimungkinkan, karena sang ayah adalah seorang Bupati Jepara yang disegani. Kartini mahir berkomunikasi dengan teman-temannya di Eropa menggunakan bahasa Belanda, membaca semua literatur asing, majalah dan bacaan lain, semua itu telah membuka cakrawalanya. Namun, ia tetap rendah hati dan penurut yang setia. 


Jauh lebih mulia daripada itu, Kartini banyak mengorbankan waktu, biaya dan tenaganya untuk mendidik anak-anak perempuan di daerah sekitarnya yang saat itu sangat sulit dan tidak memungkinkan bagi seorang perempuan untuk bersekolah. Sekolah yang ia dirikan dibuka di dalam komplek kantor bupati yang telah mendapatkan ijin dan dukungan suaminya. 


Jadi, apakah perempuan Indonesia saat ini telah mempelajari dan memahami sejarah Kartini yang demikian hebat itu? Dan apakah telah juga meneladaninya? Ingat, seperti kata Harry Darsono, sekali lagi, bukan dengan memakai kebaya dan sanggul yang besar-besar itu loh. Tapi mari bangun karakter yang tangguh dan hidupkan semangat juang Kartini di dalam jiwa kita. 

Demikian, semoga bermanfaat.

Oleh: Asep Kambali*

*Sejarawan; Guru sejarah keliling; Pendiri Komunitas Historia Indonesia (KHI) 

http://id.wikipedia.org/wiki/asep_kambali 

Comments

You need to login to give a comment