Museum Bahari Terbakar, Para Pecinta Sejarah dan Museum Berduka

JAKARTA | Saat melakukan pantauan di lapangan, saya dan tim Komunitas Historia Indonesia (KHI) merasakan kesedihan dan duka yg mendalam, gedung peninggalan masa VOC Belanda yang kini menjadi Museum Bahari terbakar. Tidak banyak yang kami lakukan, selain memberikan dukungan kepada Kepala Museum Bahari dan staf seraya menggali informasi sebanyak-banyaknya perihal peristiwa tersebut.

Seperti diketahui, pada malam perayaan akhir tahun 2017 dan menyambut tahun baru 2018, KHI berkomitmen untuk mempromosikan semua museum di Indonesia, termasuk Museum Bahari kepada publik dengan berbagai cara, dengan segenap kemampuan, sekuat tenaga. Untuk itu, berbagai program telah dirancang, bahkan satu kegiatan perdana telah dilaksanakan pada 13 Januari 2018 yang lalu. Salah satu tujuan utamanya adalah untuk mengajak dan "memindahkan" masyarakat yang berkunjung ke Taman Fatahillah agar datang mengunjungi Museum Bahari dan kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa. 


Pasalnya, pengunjung Taman Fatahillah kurang memahami bahwa kawasan Wisata Kota Tua Jakarta itu bukan hanya ada di Taman Fatahillah dengan Museum Sejarah Jakarta, Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Wayang, Museum Bank Mandiri dan Museum Bank Indonesia saja. Namun, ada kawasan lain seperti Museum Bahari dan Pelabuhan Sunda Kelapa ini. Tentunya disamping Kampung Pekojan, Kampung Bandan dan Kampung Pecinan. 

Dari stasiun KA Jakarta Kota dan Halte Transjakarta Kota, pengunjung datang puluhan ribu setiap weekend-nya, dan hanya singgah di Taman Fatahillah, kemudian kembali lagi ke stasiun dan halte transjakarta untuk pulang, hanya itu. KHI berupaya keras untuk mempromosikan Museum Bahari dan Pelabuhan Sunda Kelapa, agar potensi Wisata Kota Tua Jakarta dapat merata dinikmati masyarakat luas.

Save Museum Bahari!

Berdasarkan pantauan, dari ketiga gedung A, B dan C yang ada di Museum Bahari, satu gedung selamat dari amukan api saat kebakaran tersebut, yaitu gedung B. Komplek Menara Syahbandar juga tidak terkena dampak. Kepala Museum Bahari, Husnison Nizar menyampaikan, bahwa dirinya tengah bersama staf saat kebakaran yang baru diketahuinya itu pada pukul 08.45 wib. Seluruh staf berjuang semampunya memadamkan api dengan menggunakan APAR (alat  pemadam api ringan) dan ember berisi air. Namun, api terlalu besar sehingga sulit dipadamkan. 


Seperti kita ketahui, gedung Museum Bahari merupakan gedung peninggalan VOC sejak tahun 1700-an, usianya 300 tahun lebih. Dengan usia yang demikian, Museum Bahari tampak indah dan megah, bahkan baru saja direnovasi akhir November 2017 lalu. 

Sebelum terbakar, tidak nampak lagi kesan kusam, kumuh dan berdebu seperti umumnya gedung tua lain. Hal ini dibuktikan langsung oleh ratusan anggota Komunitas Historia Indonesia (KHI) saat menggelar walking tour bertajuk "Bandar Termegah Se-Asia" pada 13 Januari 2018 yang lalu. Museum Bahari sungguh terawat dan terjaga dengan baik. Itu kesimpulan kami.


Entah apa penyebabanya, musibah kebakaran terjadi pagi ini. Sontak mengejutkan ratusan anggota KHI yang tiga hari lalu berkunjung kesini. Semua menyayangkan, tak sedikit yang menyesalkan... Bahkan ada yang berlinang air mata. Kenapa peristiwa ini menimpa museum secantik itu? Beruntung tim dari dinas pemadam kebakaran berhasil memadamkan api pada pukul 13.30 wib. Petugas pemadam kebakaran dibantu Basarnas, kepolisian, tentara, pegawai museum dan masyarakat akhirnya dapat menyelematkan sebagian besar aset bangsa yang tak ternilai, yaitu gedung Museum Bahari.


Berkaca pada musibah ini, tidak hanya gedung tua, ataupun museum, semua bangunan memiliki peluang yang sama dalam hal kebakaran. Oleh sebab itu, perlu menerapkan standar kemanan, pengamanan dan keselamatan bangunan museum yang baik. 

Dalam berbagai kesempatan, seringkali persoalan keamanan dan pengamanan gedung museum ini dibahas dalam forum permuseuman. Namun, implementasi di lapangan secara teknis seringkali tidak berjalan sesuai harapan. Alasannya sederhana, karena persoalan anggaran. Kebijakan pemerintah daerah selalu menjadi penyebabnya. Persoalan museum seringkali dianaktirikan, karena dianggap tidak memberikan keuntungan. Berbeda dengan Pemda DKI Jakarta, perhatian terhadap museum sudah sangat baik dan jauh lebih besar dibanding di daerah lain. Tentunya, kita masih memiliki harapan, bahwa proses pemulihan akan dapat segera dilakukan. Tentunya menunggu proses evaluasi, penyelidikan dari pihak yang berwajib.


Saran saya, pada momen perayaan Hari Museum Internasional nanti di bulan Mei 2018, yang secara kebetulan insan permuseuman akan mengadakan pertemuan secara nasional di Aceh, sistem keamanan dan keselamatan gedung museum ini harusnya dapat menjadi topik yang diperhatikan secara serius. Karena berdasarkan observasi saya saat melakukan evaluasi dan standarisasi museum-museum di seluruh Indonesia, tugas yang diberikan Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kepada penulis, kondisi sistem keamanan dan keselamatan gedung museum ini sangat minim dan memperihatinkan. 

Kini, apa yg menimpa Museum Bahari, adalah pelajaran untuk kita. Bahwasanya Kebakaran yang terjadi adalah musibah yang memilukan, suatu bencana yang siapapum tidak menginginkannya. Mari kita doakan, semoga Pak Soni dan staf diberikan ketabahan dan kekuatan untuk menghadapi musibah ini. Semoga juga pemda DKI, dan kita semua stakeholder dapat membantu meringankan beban Museum Bahari.  KHI, bersama komunitas pecinta sejarah dan museum lain yang ada di Jakarta, tentunya siap terjun jika diperlukan untuk membantu apapun yang dibutuhkan Museum Bahari. Sehingga proses recovery dapat segera dilakukan dan jalannya akan dimudahkan. Pada akhirnya, Museum Bahari dapat kembali memperlihatkan kecantikannya kepada publik. Save Museum Bahari!

Oleh Asep Kambali*

_____

*Adalah sejarawan Indonesia, aktivis pelestarian sejarah dan budaya, serta pendiri Komunitas Historia Indonesia (KHI). Dengan komunitasnya itu, ia getol mengajak kembali generasi muda untuk mencintai bangsa dan negaranya melalui pemahaman serta penghargaan terhadap peninggalan sejarah dan budaya Indonesia. More info http://id.wikipedia.org/wiki/asep_kambali


Catatan:

Foto dari group WA KHI dan Keluarga Museum. Jika ada yang merasa memiliki foto tersebut dan ingin dihapus dari artike, silahkan menghubungi penulis via DM di www.instagram.com/asepkambali 

Comments

You need to login to give a comment