Ketika Belanda, Perancis dan Inggris Berebut Tanah Jawa

Pada pertengahan April 1811, gelombang pasukan Inggris meninggalkan India untuk menyerang Jawa yang tengah berada di bawah Kekuasaan Perancis. Pengerahan kekuatan militer laut yang melibatkan belasan ribu tentara dan 100 kapal ini konon merupakan salah satu pengerahan terbesar militer Inggris dalam sejarah negara itu.

Wilayah Hindia Belanda, termasuk Jawa, berada di bawah kekuasaan Perancis karena ketika itu Belanda ditundukkan Perancis melalui perang Napoleon (1803-1815). Belanda secara resmi dianeksasi Perancis pada tahun 1810. Jawa pun menerima imbas dari Perang Napoleon.

Pendaratan pasukan Inggris di Pulau Jawa terjadi pada tanggal 04 Agustus 1811 di Cilincing, pantai utara Jakarta pada sisi timur. Pasukan Inggris terus berupaya merebut Jawa dari kekuasaan Belanda yang berada di bawah kekuasaan perancis. Melalui berbagai peperangan, Inggris berhasil menguasai Jawa pada 18 September 1811 melalui perjanjian Tuntang. Perjanjian ini dibuat di desa Tuntang, kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Perjanjian itu antara lain menyebutkan, wilayah Jawa, palembang, dan Makasar harus diserahkan kepada Inggris.

Begitulah jalinan sejarah bangsa Indonesia tidak bisa dipisahkan dengan perjalanan sejarah bangsa-bangsa lain di dunia. Apa yang terjadi di Jawa merupakan dampak dari peristiwa yang melanda kawasan Eropa. Keterkaitan semacam ini dinilai belum diberi tempat yang memadai dalam pendidikan sejarah di sekolah dan pengetahuan sejarah yang terus berkembang di internet.

Setelah Belanda tunduk melalui perjanjian Tuntang, Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles (1781-1826) menduduki pucuk pimpinan pemerintahan Inggris di Jawa. Dennys Lombard, dalam buku Nusa Jawa: Silang Budaya (1996), menyebutkan, invasi Inggris dari India itu menyertakan kontingen-kontingen India yang berasal dari Bengali. “ Setelah (Inggris) merebut Yogyakarta (pada tahun 1812, beberapa perwira dari India (Subadar atau Kapten Dhaugkul Singh) terkejut melihat bahwa Jawa adalah tanah Brahma dan bahwa sunan adalah keturunan Rama.” Tulis Lombard.

Kesadarn itu memungkinkan terjadinya Pemberontakan kaum Sepoy (India) terhadap Inggris tahun 1815. Dengan dukungan tersembunyi Keraton Surakarta, kaum Sepoy dari India ini merumuskan gagasan pemberontakan terhadap Inggris untuk memulihkan kekuasaan Hindu. Namun, pemberontakan itu gagal.

Selama berkuasa, Raffles menaruh perhatian khusus terhadap Jawa yang banyak dipengaruhi kebudayaan India. Raffles bahkan mengangkat persoalan Indianisasi menjadi topik yang digemari. Raffelspun memberikan perhatian terhadap candi-candi Hindu-Jawa dan menulis History of Java.

Perang Napoleon terus berlanjut. Kekalahan demi kekalahan dialami Kaisar Perancis Napoleon Boanparte hingga berakhir pada tahun 1814. Dalam surat perjanjian di London, Inggris, pada tanggal 13 Agustus 1812, Inggris menyetujui wilayah Hindia Belanda dikembalikan kepada Belanda, yang tidak lagi berada di bawah kekuasaan Perancis. Pada tahun 1815, Belanda menyatakan kemerdekaannya kembali dari Perancis.

Invasi Inggris ke Jawa dari India telah berakhir dari berabad-abad silam. Namun, melalui Raffles, invasi itu setidaknya telah mengenalkan kepada kita konsep Indianisasi Jawa. Betapa Jawa sangat dipengaruhi oleh kebudayaan India.***

_________

Sumber : The History Of Java (diolah), Perang Napoleon Di Jawa 1811 (diolah)

Comments

You need to login to give a comment