Reverse Glass Painting in Java

JAKARTA - HistoriaNews | Institut Prancis di Indonesia (IFI) bekerja sama dengan Komunitas Historia Indonesia (KHI) menggelar diskusi bertema lukisan kaca Jawa dengan menghadirkan peneliti Prancis, Bapak Jerome Samuel, pada 12 April di Auditorium IFI Jakarta.

Lukisan kaca adalah karya seni dekoratif yang populer di kalangan masyarakat Jawa pada abad ke-19 dan ke-20. Diperkenalkan oleh pelukis Eropa dan Cina pada pertengahan abad ke-19, lukisan kaca menjadi ikon modernitas percampuran antara gaya Jawa, Eropa, China dan Muslim. Pada masa penjajahan, lukisan kaca karya para seniman lukis Jawa diminati tak hanya oleh masyarakat pribumi namun juga orang China dan Arab. Sebagian lukisan berkisah tentang zaman penjajahan, sebagian lain menggambarkan gaya hidup masyarakat Hindia Belanda dan ada juga yang memeperlihatkan modernitas teknik, relijius dan politik.

Mengenai kedudukan lukisan kaca dan seni dekoratif sebagai sumber sejarah, Jerome Samuel mengatakan, “Pada intinya sejarah bersumber pada teks, karena itu lukisan kaca dan seni dekoratif adalah pelengkap sumber utama. Lukisan kaca merupakan satu medium di antara sekian medium lain seperti kertas, kayu, kulit, seng, di mana para seniman atau pengrajin sering menggunakan tema, unsur dan teknik yang sama atau yang mirip”.

Peneliti sekaligus direktur Pusat Studi Asia Tenggara di Prancis (CNRS-EHESS-INALCO) tersebut menambahkan, “Di samping itu jangan lupa bahwa pada zaman dulu lukisan bukan sekadar seni dekoratif, tetapi terutama mengungkapkan status atau afiliasi seseorang pada jaringan tertentu, demikian juga merupakan gambar yang mempunyai jiwa atau kuasa dan digunakan untuk membawa perlindungan kepada pemiliknya, misalnya terhadap malapetaka, penyakit, maling, dan lain-lain.”

Dalam konteks penelitian, menurutnya baik di Indonesia maupun di luar negeri, riset yang berkaitan dengan lukisan kaca sangat sedikit. Penelitian pertama dibuat oleh Hooykaas-van Leeuwen Boomkamp, seorang Belanda, pada tahun 1930-an yang menggambarkan situasi kerajinan lukisan kaca khususnya di Yogyakarta pada masa itu. Penelitian yang paling mendalam telah dikerjakan di awal tahun 1980-an oleh tim peneliti Jepang di bawah pimpinan ilmuwan bernama Seichi Sasaki. Hasil penelitian tim Jepang itu berupa kumpulan foto lukisan kaca yang mereka temukan. Terakhir, penelitian disertasi Eddy Hadi Waluyo yang menyinggung revitalisasi seni lukis kaca dari tahun 1980-an sampai tahun 2000-an di Cirebon, Yogyakarta dan Nagasepaha, Buleleng, Bali.

Pada seminar yang berlangsung 12 April di IFI Jakarta, Jerome Samuel memaparkan tidak hanya karakteristik utama, tema-tema lukisan dan teknik pembuatan lukisan kaca namun juga dinamika sejarah serta perkembangan penelitian terkait lukisan kaca Jawa.

Jérôme Samuel (Pembicara)

Setelah menyelesaikan kuliahnya di jurusan sejarah dan didaktika bahasa-bahasa, Jérôme Samuel berkesempatan untuk tinggal selama kurang lebih lima tahun di Indonesia dan mengajar bahasa Prancis di UNPAD dan CCF Bandung. Kemudian ia pindah ke Surabaya, menjadi Direktur CCF Surabaya dan dosen di Universitas Kristen Petra.

Sekembalinya ke Prancis, Jérôme Samuel melanjutkan studi doktoralnya dan meneliti tentang terminologi ilmiah dan teknik serta politik kebahasaan di Indonesia. Sejak 2002, ia bekerja sebagai dosen di Institut Nasional Bahasa-Bahasa dan Peradaban Timur (INALCO) Paris untuk mata kuliah bahasa dan budaya Indonesia. Ia juga menjadi peneliti sekaligus direktur di Centre Asie du Sud-Est (CNRS-EHESS-INALCO), serta anggota Dewan Redaksi Jurnal Archipel.

Penelitian-penelitian terbarunya berfokus pada tiga hal, yaitu pengajaran bahasa Indonesia, studi ikonografi Jawa dari pertengahan abad ke-19 sampai masa kini, khususnya lukisan kaca Jawa dan sosiolinguistik, khususnya politik kebahasaan negara-negara berbahasa Melayu di Asia Tenggara.

Tautan:


Comments

You need to login to give a comment