Siapa yang Pantas Disebut Pribumi?

Usia republik ini genap 72 tahun di 2017 ini. Berbagai persoalan melanda dan kita tetap eksis. Namun, ada kekhawatiran, bahwa akhir-akhir ini Nasionalisme kita diuji oleh rendahnya kesadaran sejarah, sehingga persatuan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 menjadi bias makna. Hanya melalui kesadaran sejarah, bahwa bangsa ini pernah dijajah dan diperjuangkan sama-sama oleh segenap elemen bangsa, kita akan merasa bersaudara. 

Persoalan yang akhir-akhir ini mengemuka, bukan sekedar pertarungan politik di arena Pilkada, tetapi adalah sebuah keniscayaan bahwa bangsa ini amnesia sejarah. Ada upaya sistematis untuk mengaburkan dan menutupi sejarah, menjadikan generasi muda kita amnesia, dan akhirnya diadu domba, serta dimanfaatkan. Kedangkalan ilmu dan pengetahuan sejarah, menjadikan kita terbawa arus. Mengikuti bukan karena mengerti, tetapi karena kita tidak memiliki apa-apa di dalam diri kita, kosong. 

Kemerdekaan Indonesia yang kita nikmati saat ini, bukan hanya diperjuangkan oleh mereka yang teriak Allohu Akbar, tapi juga oleh mereka yang Kristen, Hindu dan Budha, bahkan Konghucu. Mereka mengobarkan semangat mengusir penjajah, mengorbankan harta, pikiran, tenaga, darah, air mata dan nyawanya untuk mendirikan republik ini. Kesepakatannya, mendirikan bangsa ini dengan Pancasila dan UUD 1945 sebagai landasan filosofisnya.

Kita sama-sama berjuang mengusir penjajah. Bukan karena kita Islam, Kristen, Hindu, Budha, dan Konghucu, tetapi karena kita menolak keserakahan dan penjajahan. Siapapun yang berjuang menolak penjajahan, berarti mereka pemilik sah tanah air ini. Mereka yang mengadu nasib, beranak pinak, dan mencari hidup di tanah air ini adalah pribumi, siapa pun itu. Hak kita sama, menjaga republik ini tetap ada. 

Saya Muslim, orang Betawi-Sunda. Saya menyadari bahwa kita semua telah menciptakan sejarah bersama. Agama-agama itu semua pendatang. Hindu-Budha masuk awal abad Masehi, Konghucu masuk abad ke-5, Islam masuk abad ke-12, katolik masuk abad ke-16, Protestan masuk abad ke-17. Lalu agama kita apa sebelumnya? Animisme dan Dinamisme. 

Jadi siapa yang original disini? Tidak ada satupun. Karena kita terbentuk dari berbagai macam budaya. Bahasa yang kita gunakan, jenis pakaian, adat istiadat, kesenian, semuanya gabungan, dan semuanya import. Etnis Betawi contohnya, setengan dari Betawi, adalah Tionghoa; setengahnya lagi Arab. Perhatikan bahasa "Lu" dan "Gue" (Tionghoa), "Ane" dan "Ente" (Arab), lalu Betawi punya bahasa apa untuk menyatakan dirinya? Tanjidor berasal dari Belanda, Keroncong dari Portugis, Gambang Kromong berasal dari Tionghoa, Rebana dan Marawis dari Arab, Tari Cokek dari Tionghoa, dan lain lain. Tidak ada satu pun bahasa, begitu juga budaya yang kita gunakan dan miliki adalah murni milik kita, yang ada akulturasi budaya.

Pelangi itu tidak mungkin Indah jika hanya satu warna. Kenapa kita disebut Indonesia? Karena kita beraneka warna. Kita adalah pribumi, kita adalah pewaris sah republik ini. Mari kita jaga persatuan di atas berbagai perbedaan. Karena perbedaan itu adalah kekuatan untuk pembangunan dalam mengisi kemerdekaan.***

Oleh: Asep Kambali (Sejarawan/Pendiri KHI)

Selengkapnya, sore nanti di CNN Dialogues ya. 😉🙏



Comments

You need to login to give a comment