Romantisme Sejarah di Grand Preanger

Para pemilik perkebunan pada zaman Belanda, banyak tinggal di luar kota Bandung, terutama tinggal di Batavia (kini Jakarta). Ketika usahanya sukses, sejak tahun 1884, mereka kerap mengunjungi Bandung dan menginap untuk beberapa hari di hotel Prama Grand Preanger. Hotel yang sama dimana saya kini tengah menginap.  

Gedung bersejarah yg kini menjadi Prama Grand Preanger ini dahulu bernama Hotel Preanger. Dibangun tahun 1897 di atas tanah bekas sebuah toko yg menyediakan segala kebutuhan para pemilik perkebunan. Adalah WHC van Deeterkom (Belanda) yang memiliki inisiatif untuk menjadikannya hotel. Pada tahun 1920 hotel itu berganti nama menjadi Hotel Grand Preanger. 

Pada tahun 1929, Hotel Grand Preanger direnovasi dan di desain ulang oleh CPW Schoemaker, yang dibantu oleh Ir. Soekarno, mantan murid sang arsitek kenamaan di zaman itu. Hotel ini bergaya Indische Empire, tetapi saya justru melihatnya lebih seperti Art Deco, dimana garis-garis dan bidang vertikal/horisontal sangat mendominasi ornamen facade dari gedung ini.

Grand Preanger mengalami banyak pergantian pengelola, antara lain oleh N.V. Saut, C.V. Haruman, P.D. Kertawisata dan akhirnya pada tahun 1987 hingga kini dikelola oleh PT. Aerowisata. Kemudian pada tahun 2014, hotel ini berganti nama menjadi Prama Grand Preanger.

Pada tahun 1955, kota Bandung dipilih menjadi tuan rumah penyelenggaraan Konperensi Asia Afrika, dan Grand Hotel Preanger dipercaya sebagai salah satu hotel tempat menginap tamu VIP dan beberapa kepala negara. Presiden RI pertama, Ir. Soekarno, sempat bernostalgia sekaligus meninjau kesiapan penyelenggaraan pada awal tahun 1955.

Banyak tamu-tamu penting yang pernah menginap di Grand Hotel Preanger diantaranya yang sangat berkesan adalah Charlie Chaplin (bintang film Amerika Serikat), Amelia Earhart, (pelopor penerbangan dunia Amerika Serikat). Selain itu Gamal Abdul Nasser (Kepala Negara Mesir) dan lain sebagainya.

Saya merasa bangga dan berbahagia dapat merasakan menginap di hotel lima bintang yang sangat bersejarah ini. Alam pikiran saya terbawa arus ke masa lampau Bandung tempo doeloe. Saya seolah-olah hidup di zaman itu, bertemu para pemilik perkebunan, bertemu para kepala negara saat perhelatan KTT KAA, bertemu para tokoh dan selebritis kenamaan di zaman itu. Seperti "blast to the past" saya dibuatnya.

O ya, ada yang menarik dari hotel ini, yaitu terdapat museum yang menyimpan infografi dan memorabilia serta cerita sejarah dari mulai Hotel Preanger hingga kini menjadi Prama Grand Preanger. Museum tersebut terletak di lantai 1 dan terbuka untuk umum. 

Oleh:

Asep Kambali

Sejarawan, aktivis pelestarian sejarah dan budaya, serta pendiri Komunitas Historia Indonesia (KHI). 

References: 


Comments

You need to login to give a comment