Jelajah Gunung Padang

Dari judulnya jangan kebayang susur gunung yang ada di Padang, Sumatera Barat, sana ya. Gunung Padang ini adalah sebuah situs megalitkum yang ada di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Pertengahan Juni kemarin Komunitas Historia Indonesia (KHI) mengadakan Cianjur Heritage Trail. Lebih kurang 48 peserta yang terdiri dari anak-anak dan orang dewasa ikut serta dalam iring-iringan ini. Karena acaranya hari Sabtu pesertanya lumayan banyak. Hitung-hitung keluar Jakarta sejenak, wisata sambil menambah pengetahuan.

Acara kali ini, KHI membawa para pecinta sejarah ke 3 destinasi, Situs Gunung Padang, Stasiun Lampegan, dan Istana Cipanas, dalam rangkaian one day trip. Wuih, perjalanan dimulai subuh saudara-saudara, tepatnya jam 4 pagi. Tapi tujuannnya baik karena perjalanan lumayan jauh yakni ke kota Cianjur, supaya gak terjebak macet. Maklum setiap weekend, kawasan Puncak memang selalu menjadi langganan macet. Dan berkat perjalanan subuh itu, kita bisa menghindarinya. Syukur kepada Tuhan.

Nah, selain menghindari macet, panitia acara juga menjaga kenyamanan wisata, dari keramaian pengunjung situs dan teriknya matahari. Maklum, lokasi situs berada di puncak pegunungan, tepatnya di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Lokasi dapat dicapai 20 kilometer dari persimpangan kota kecamatan WarungKondang, di jalan antara Kota Kabupaten Cianjur dan Sukabumi. Luas kompleks bangunan kurang lebih 900 m², pada ketinggian 885 m dpl. Diperkirakan areal situs ini berkisar 3 Ha, menjadikannya sebagai kompleks punden berundak terbesar di Asia Tenggara.

Rombongan pun tiba pukul 8 pagi di areal situs dimana udara masih sangat segar dan sinar mentari masih bersahabat. Ternyata ada yang lebih pagi tiba di lokasi lho. Beberapa bus wisata sudah parkir aja di sana. Ada juga pengunjung yang datang dengan naik sepeda (biking) dan jalan kaki (trekking). Pemandangan hijau dari rimbunnya kebun teh dan pegunungan yang masih diselimuti kabut tipis membuat suasana perjalanan menuju situs Gunung Padang sangat—sangat menyenangkan. Perasaan antusias kembali merajai benak kami, padahal tadi sempat terkikis karena jeleknya jalan menuju tempat bersejarah itu. Tapi sudahlah, toh kami telah tiba dengan gembira di lokasi.

Sebelum memulai perjalanan ke situs Gunung Padang, kami diberi penjelasan oleh ahli arkeologi peneliti Situs Gunung Padang selama beberapa tahun terakhir, yakni Drs. Lutfi Yondri MHum, dan tentu saja bersama guru sejarah keliling KHI, Kang Asep Kambali. Dari keterangan mereka diketahui bahwa situs batu tersebut diperkirakan berumur 2.000 sebelum masehi. Hal ini berdasarkan penelitian batuan yang ditemukan di sana. Namun sejumlah pakar arkeologi masih terus melakukan penelitian untuk mengungkap keutuhan riwayat situs zaman batu tua ini. Sebab, masih ada perdebatan di antara para ahli peneliti tentang waktu pembuatan, latar belakang masyarakat, dan konstruksi awal situs yang kini hanya berupa serakan bebatuan tua.

Terlepas dari kontroversi riwayat Gunung Padang, berkunjung ke situs sejarah akan selalu membawa kita kepada imaji dimensi masa lampau yang luar biasa. Kita seperti berada di sebuah padang di zaman batu, zaman nenek moyang kita. Untuk menuju punden berundak yang memliki 5 teras tersebut, kita diberi dua jalur pendakian. Yakni dengan tangga batu atau tangga semen.

Biasanya pengunjung disarankan untuk mendaki dengan tangga semen yang baru dibuat 2011 lalu karena lebih landai dan aman. Namun oleh ahli arkeologi kita Pak Lutfi, kami diberi kesempatan merasakan sensasi melangkah di tangga batu seperti di zaman lampau yang seyogianya ditutup untuk pengunjung umum. Wah, kebayang dong betapa kami yang tua-tua ini sempat ngos-ngosan menaiki tangga batu yang agak labil dan tinggi itu. Karena itu disarankan untuk melangkah lebih santai agar pernafasan bisa lebih stabil hingga puncak teratas. Jangan tanya berapa anak tangga menuju Teras 1 ya, karena tidak ada yang sempat menghitungnya. Kita hanya ingat mengatur nafas sebaik-baiknya saja waktu itu. Ketinggiannya lebih kurang 1 Km.

Saat tiba di Teras 1, perasaan capek terbayarkan dengan pemandangan luar biasa yang kami jumpai. Hamparan bebatuan terhampar unik di tanah berundak. Di kanan dan kiri kami, deretan gunung dan pepohonan asri sangat memanjakan mata. Tapi tidak ada peserta yang duduk berleha-leha di atas batuan yang berserak lho, semua mengikuti nalurinya untuk menjelajahi setiap senti situs itu. Mulai dari Teras 1 hingga Teras 5, yang berada di puncak tertinggi. 

Situs berbentuk punden berundak ini sangat diyakini oleh para ahli menghadap ke arah Gunung Gede yang menjulang gagah di depannya. Nenek moyang kita yang masih menganut animisme mempercayai bahwa roh leluhur bersemayan di tempat-tempat tinggi. Oleh sebab itu, mereka membangun punden berundak di puncak gunung untuk menghormati nenek moyang. Sejak awal kami sudah diminta untuk berbicara sopan dan menghormati lingkungan sekitar, agar tidak melakukan hal-hal yang bisa merusak situs, terutama membuang sampah sembarangan. Semua setuju, apalagi saat diminta foto bersama, tidak ada yang menolak.

Menjelang tengah hari, kami pun turun gunung. Istirahat sejenak di shelter kaki gunung, panitia menyediakan air kelapa muda yang suegernya pol. Sambil bertukar cerita kesan-kesan, semua terlihat sangat akrab, walaupun beberapa peserta baru saja kenal di trip itu. Setelah itu, kami pun makan siang bersama sebelum melanjutkan perjalanan di 2 destinasi yang tersisa, Stasiun Lampegan dan Istana Cipanas.

Stasium Lampegan

Sejam kemudian, kami tiba di Stasiun Lampegan yang terletak di bukit Gunung Keneng, Desa Cibokor Kecamatan Cibeber, Cianjur. Stasiun dengan terowongan tertua yang dibangun di Jawa pada tahun1879-1882 itu, baru beroperasi kembali sejak 2013 karena baru selesai diperbaiki akibat longsor pada tahun 2001 dan 2006 lalu. Dalam sehari, ada dua kali jadwal kereta, yakni pada pagi dan sore hari. Di atas rel besi kita masih bisa melihat tahun pembuatannya, berangka 1890. Selain itu, kita bisa melihat bangunan rumah dinas dan stasiun lampegan yang masih berdiri kokoh seperti pada awalnya. Stasiun Lampegan dikelola oleh perusahaan kereta api pemerintah Belanda Staatspoorwagen untuk lalu lintas Batavia-Bandung. Stasiun ini dimanfaatkan oleh seorang pengusaha perkebunan teh Belanda, van Beckemen. Desa Cibokor pada masa itu merupakan salah satu sentra perkebunan teh di Cianjur.

Istana Cipanas

Tak lama di Stasiun Lampegan, kami beralih ke Istana Cipanas. Di tempat presiden tinggal dan kerja tersebut kami disambut oleh kepala pengelola istana, lalu diajak berkeliling oleh pemandu yang sangat ramah, Mas Wahyu. Karena istana tersebut masih dipergunakan oleh presiden, ada spot-spot yang dilarang untuk dimasuki, di antaranya ruang kerjadan ruang tidur presiden walau pintunya terbuka lebar.

Istana peninggalan Belanda tersebut telah digunakan sejak Presiden pertama RI, Soekarno. Banyak lukisan lama dari pelukis kenamaan masih dipajang apik di dinding istana. Mayoritas furnitur dan hiasan di sana masih peninggalan zaman Presiden Soekarno dan Soeharto. Bahkan karpet di ruang tamu istana adalah peninggalan zaman pemerintahan Soekarno. Wow…

Istana Cipanas. Foto: Harun Harahap

Disebut Istana Cipanas, karena memang di dalam kompleks terdapat beberapa mata air panas. Sebuah gedung sengaja dibangun sebagai tempat mandi air panas, yang terdiri dari beberapa bilik dan sebuah kolam utama. Biasanya tamu-tamu kepresidenan berendam di sini sehabis rapat Negara yang kebetulan dilakukan di Istana Cipanas. Sayangnya acara mandi air panas tidak ada dalam jadwal kami, jadi kolam-kolam hangat itu hanya berlalu begitu saja. Ngarep ya.

Di samping itu, di dalam istana terdapat juga museum, taman herbal, serta halaman hijau yang luas dan indah. Pokoknya cuci mata abis di sini. Sangat asri dan romantis. Menurut Mas Wahyu, Presiden SBY banyak mencipta lagu di Istana Cipanas ini lho. Hmm, melankolis ya. Bagi kami, setiap sudut istana adalah spot foto yang sangat didamba. Puas deh foto-foto.

Menjelang sore, kami pun bersiap-siap untuk pulang. Hujan rintik menemani perjalanan kami kembali ke Jakarta. Sendu sekali. Walau badan capek, tapi keriangan hati tidak bisa disembunyikan. Obrolan-obrolan sepanjang perjalanan sehari itu terus berlanjut sampai kami tiba di Jakarta 3 jam kemudian. Syukurlah iring-iringan mobil kami lancar jaya alias tidak kena macet. So exited! (*)

__________________

Teks & Foto oleh Diana Saragih @Saragih_Diana

Sumber: http://kemanaaja.com/jelajah-situs-gunung-padang/

Comments

You need to login to give a comment