Kemerdekaan itu Diperjuangkan, Bukan Dipermainkan!


KEMERDEKAAN ITU DIPERJUANGKAN, BUKAN DIPERMAINKAN!

JAKARTA | Ratusan pelajar SD dan SMP ini merayakan kemerdekaan RI ke-71 dengan cara yang berbeda, mereka ikut Napak Tilas Proklamasi pada 16 Agustus 2016 kemarin. Mereka menempuh jarak sejauh kurang lebih 5 sd.7 km, berjalan kaki dari Markas Pemuda Menteng 31 (kini Museum Joang 45), kemudian menyusuri Jl. Gondangdia, Jl. Teuku Umar, melewati Rumah Jend. AH Nasution (kini Museum Jend. A.H. Nasutiin), melewati Taman Suropati, masuk ke Rumah Laksamana Maeda (panglima AL Jepang) tempat dirumuskannya naskah proklamasi oleh Bung Karno, Bung Hatta, Ahmad Soebardjo, dan para generasi muda. Tempat itu kini menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Kemudian mereka menuju kediaman Bung Karno di Jl. Pegangsaan Timur No.56 (kini Tugu Proklamasi) tempat dibacakannya naskah proklamasi yang telah disusun itu. 

Mereka sangat bersemangat dan rela menunggu berjam-jam. Bahkan diantara mereka ada yang bermain peran seperti pejuang dan pahlawan Indonesia, meski tidak jarang menjadi lucu karena tidak mirip dan atau kurang bahan/costume. Mereka tertawa, mereka bahagia. Merekalah pejuang kemerdekaan masa depan bagi mereka sendiri, bagi republik ini yang kelak akan kita tinggalkan dan wariskan kepada mereka.

Saatnya kini, kemerdekaan yang kita nikmati sepatutnya kita syukuri, rayakan dan isi dengan hal-hal yang konstrukstif, agar anak bangsa kita tidak melupakan sejarah negeri ini. Agar mereka tidak melupakan cita-cita perjuangan dan nilai-nilai kemerdekaan yang telah diperjuangkan dengan darah, air mata dan nyawa oleh para pendiri bangsa ini. Bukan dengan perayaan yang melenakan kita, perayaan yang simbolik, hura-hura dan pesta pora, serta perayaan yang menjadikan kita makin lupa akan sejarah bangsa kita sendiri. 

Tujuh puluh satu tahun kita merdeka, apakah dalam setiap perayaan kemerdekaan yang kita sering adakan itu ada upaya mempelajari sejarah? Mempelajari cita-cita dan nilai luhur kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pendiri bangsa kita itu? Silakan jawab masing-masing seraya refleksi diri. 

Meski banyak orang yang mempertanyakan, atau ada yang mengatakan bahwa perjuangan itu telah berakhir, karena kita sudah merdeka 71 tahun silam. Namun bagi saya, kemerdekaan yang kita nikmati saat ini juga harus tetap kita perjuangkan. Berjuang melawan apa? Berjuang melawan lupa! 

Dan jika anak muda kita melupakan sejarah, maka mereka akan kehilangan arah. Karena mereka tidak memiliki obor penerang untuk berpijak demi mengisi dan membangun masa kininya. Apa yang ingin mereka capai? Mereka ingin di masa depan kelak kehebatan dan kemajuan bangsa yang diperjuangkannya itu, dapat dinikmati oleh anak dan cucu-cucu mereka. 

Kita harus yakin, bahwa mengisi kemerdekaan yang kita lakukan saat ini adalah perjuangan seperti memegang dan menghunuskan bambu runcing dalam mengusir penjajah dan mencapai masa depan yang lebih merdeka dikemudian hari. Perjuangan itu sama beratnya dengan mendownload atau menambahkan Lagu Indonesia Raya di gadget kita masing-masing. Coba, siapa yang sudah punya lagu kebangsaan kita di HP-nya? Hebat kalau sudah ada yang punya! :"D

Karena kemerdekaan yang kita nikmati saat ini tidak mungkin dapat kita miliki, jika tidak diperjuangkan oleh para pendiri bangsa kita di masa lalu. Dan, masa depan nanti yang lebih maju dan hebat, tidak mungkin kita raih, jika kita tidak perjuangkan hari ini! 

Selamat merayakan dan mengisi kemerdekaan. Mari tinggalkan perayaan yang membodohi kita! Isilah perayaan kemerdekaan dengan kegiatan positif yang mengingatkan kita kembali kepada sejarah perjuangan bangsa.***


Sekali merdeka tetap merdeka! 

ASEP KAMBALI

  • Sejarawan / Pendiri Komunitas Historia Indonesia (KHI
  • Presiden Asep Sedunia (Paguyuban Asep Dunia - PAD)


Comments

You need to login to give a comment