Si Jagur Pemberi Keturunan

MERIAM SI JAGUR dibuat oleh Portugis tahun 1541 di Macau, Tiongkok. Meriam ini pertama kali ditemukan pada 1818 (1918?) di Kali Besar, dekat Jembatan Kota Intan, kawasan Kota Tua Jakarta. Meski ditemukan pada zaman Belanda, tapi orang Belanda tidak pernah mempergunakannya untuk berperang. Mungkin pada masa itu, peran meriam sudah tergantikan oleh teknologi persenjataan yang lebih canggih.

Pada masanya, meriam Si Jagur adalah meriam terbesar di Nusantara. Sejak ditemukan kala itu, pemerintah Belanda membiarkannya tergeletak begitu saja. Kemudian, entah sejak kapan, meriam ini dikeramatkan dan diperlakukan secara mistik oleh penduduk Batavia.

Meriam Si Jagur dipercaya memiliki kekuatan dan dapat memberikan keturunan. Hal ini sesuai bentuk kepala meriam yang menyerupai kepalan tangan kanan, dengan ibu jari keluar diantara jari tengah dan telunjuk. Dalam tradisi kita, hal tersebut melambangkan keperkasaan atau kejantanan. Pada area kepala meriam, seringkali dipenuhi sesajen dan dupa/kemenyan. Diantara yang datang, rata-rata mengalami persoalan yaitu tidak memiliki keturunan.

Adalah Mohammad Hoesni Thamrin, seorang anggota Volksraad (DPR zaman dulu), yang pada masa kecilnya sering kali mengunjungi meriam ini bersama teman-temannya. Mereka menghabiskan waktu, bermain di pasar Ikan, Jembatan Kota Intan, dan ke bekas Balai Kota, kini Museum Sejarah Jakarta.

Konon, ada seorang ibu yang menginginkan kembali hamil, karena sudah belasan tahun tidak dikaruniai anak kedua. Dengan ritual tertentu, si Ibu mengesek-gesekan perutnya ke kepala meriam, ibu itu sangat bersemangat melakukannya. Namun, setelah dua minggu berlalu, bukannya ibu itu yang hamil, tapu malah anak gadisnya yang hamil, hehe.

Dalam cerita lama, Si Jagur dipercaya memiliki pasangan, Nyi Setemi, sesama meriam, yang kini pasangannya itu terdapat di Keraton Solo. Namun, Si Jagur juga ternyata memiliki musuh bubuyutan, yaitu Ki Amuk, yang kini letaknya di Mesjid Agung di Banten. Jika kedua meriam tersebut dipertemukan, konon dunia akan kiamat. Anda percaya?

Kini, Meriam Si Jagur disimpan di Taman Fatahilah. Masyarakat kini sudah tidak lagi mengkeramatkannya.***

Source: IG @AsepKambali


Comments

You need to login to give a comment