Marunda Sebagai Pusat Perlawanan

Sepanjang sejarah sejak jatuhnya Jayakarta ke tangan VOC Belanda pada 30 Mei 1619, Belanda kemudian mengganti Jayakarta menjadi Batavia, maka posisi wilayah Marunda selalu menjadi pusat perlawanan terhadap penguasa baru ini. Petinggi Jayakarta dan pengikutnya menyingkir keluar kota, sebagian menyingkir ke Marunda, yang lainnya menyingkir ke Jatinegara Kaum, ke Angke dan ke Banten. Karena letaknya yang strategis, masih berawa-rawa dan hutan yang sangt lebat, Marunda dijadikan pusat perlawanan terhadap VOC. 

Ketika pasukan Sultan Agung yang dipimpin oleh Tumenggung Bahurekso menyerbu Batavia tahun 1628 dan 1629, mereka menggunakan Marunda sebagai pangkalan perang bagi pasukannya sebelum menyerbu Batavia. Di sini berkumpul ribuan orang yang bergantian menyerbu ke benteng Batavia. Ada yang gugur, ada yang selamat kembali. Berdasarkan catatan sejarah versi lokal, Pasukan Mataram tak berhasil menguasai Batavia tetapi, mereka berhasil memanah JP. Coen dan beberapa hari kemudian Coen meninggal, tepatnya 21 September 1629. Namun, sumber Barat mengatakan berbeda, bahwa JP. Coen, sang pendiri Batavia itu, mati karena penyakit mall-area. 

Dalam sebuah cerita, ketika terjadi pengepungan itu, orang-orang di Benteng Batavia mengalami kelaparan dan terjangkit penyakit busung lapar, sampai-sampai mereka memakan tikus yang ada dalam gudang-gudang rempah. Sayangnya, karena perbekalan pasukan Mataram yang ada di Karawang dibakar oleh antek VOC maka pengepungan dihentikan karena kekurangan bahan makanan. Sebagian anggota pasukan Mataram yang ada di Marunda tidak ikut pulang ke Jawa, mereka menetap di Marunda. Pada tahun 1651 Sultan Ageng Tirtayasa atau Sultan Abdul Fattah dari Banten yang menduduki tahta menyatakan perang kepada VOC di Batavia. Marunda dijadikan pusat perlawanan. Ratusan orang-orang dari Banten ditambah orang-orang di Marunda mempersiapkan diri untuk menggempur Batavia. 

VOC tidak senang Marunda dijadikan pangkalan pasukan yang memerangi VOC maka ditempatkanlah orang-orang Mardijkers (budak dari Portugis yang dimerdekakan itu dengan syarat harus memeluk Protestan) di dekat Marunda, tepatnya sekarang adalah Toegoe. Orang-orang Toegoe inilah yang dijadikan Bumper bilamana ada serangan ke Batavia. Orang-orang Toegoe inilah yang akan melaporkan segera ke benteng Batavia bilamana terjadi konsentrasi orang-orang di Marunda. 

Gubernur Jenderal VOC Speelman menghadiahkan tanah Marunda kepada salah seorang opsir VOC Kapiten Tete Jonker (asal Pulau Banda). Maksud VOC agar Kapiten Tete Jonker bisa mengatasi penduduk yang suka menggangu VOC. Ternyata yang terjadi malahan sebaliknya Marunda tetap menjadi pangkalan perlawanan dimana Tete Jonker menjadi pelindungnya sampai dengan terjadinya pertempuran VOC melawan Tete Jonker dan pengikutnya. Tete Jonker tewas 24 Agustus 1689 di Sukapura kemudian dimakamkan di Marunda, dan makamnya masih bisa kita lihat sampai sekarang.

Perlawanan terhadap VOC (1619-1799) kemudian terhadap penguasa Hindia Belanda (1799-1942) di Marunda tidak pernah surut. Ketika muncul para tuan-tanah di Batavia abad ke-19. Marunda dikuasai oleh beberapa tuan tanah Cina yang melengkapi kekuasaannya dengan para mandor-mandor dan centeng-centeng, kadangkala dibantu oleh mantri polisi bahkan tentara untuk menindas rakyat yang berani melawan atau yang menolak membayar pajak atau belasting. Jenis pajak atau belasting sangat banyak. Mulai dari pajak kepala, pajak tanah, pajak tol, pajak pertanian, pajak rumah madat, pajak rumah judi, pajak rumah moler dan lainnya. Bila rakyat terlambat membayar pajak atau tidak mampu membayar pajak, maka seringkali dilakukan penyitaan atas harta benda, ternak bahkan mengambil paksa anak-anak gadis untuk dijadikan “maenan” tuan tanah atau para mandor dan centeng. Para demang atau kepala kampung (Wiyck mesteer atau Bek) cenderung menjadi abdi/kaki tangan penjajah. 

Suasana penindasan inilah melahirkan para pemberani di Marunda maupun di Batavia. Dalam cerita (lisan) rakyat di tanah Betawi muncul lah nama-nama seperti Bang Bodong jagoan Marunda; Mirah Singa Betina dari Marunda; Si Pitung Pembela Rakyat; Si Jampang Jago Betawi; Asni Jagoan Kemayoran; Entong GenduttPahlawan dari Condet. Para pemberani inilah yang oleh penjajah dan antek-anteknya disebut sebagai pengacau keadaan, karena mereka suka menghalangi para tuan tanah, mandor maupun centeng yang ingin merampas harta benda rakyat dengan alasan pembayaran belasting/ pajak.

Oleh: Asep Kambali


Comments

You need to login to give a comment