Kenapa Harus Panjat Pinang?

Sebuah Renungan Memaknai 70 Tahun Kemerdekaan

Pembaca yang baik, mungkin telah banyak dari Anda yang membaca berita mengenai panjat pinang yang saya usulkan untuk “dihapus” dalam perayaan Hari Kemerdekaan yang selalu diperingati setiap tanggal 17 Agustus ini. 

Salah satu pemberitaan terkait panjat pinang itu terdapat pada link berikut ini:  http://news.detik.com/read/2015/05/15/135249/2915624/10/panjat-pinang-dan-hiburan-zaman-belanda-pantaskah-dipertahankan-di-acara-17-an?nd771104bcj 

Setelah membaca artikel tersebut tentu akan timbul pertanyaan, mengapa saya menyatakan panjat pinang harus dihapuskan dalam perayaan Hari kemerdekaan? 

Nah, saya mempersilakan Anda untuk membaca tulisan ini hingga akhir, karena saya yakin setiap orang memiliki pandangannya masing-masing. Perbedaan pendapat dalam diskusi sangat dimungkinkan, oleh sebab itu saya sangat menghargainya. Tentu juga hal itu tidak dilarang, tapi mari simak apa yang menjadi pemikiran saya terlebih dahulu. 


Sejarah Panjat Pinang
Panjat pinang telah ada di Indonesia sejak zaman Belanda dan fakta tersebut saya dapatkan dari beberapa foto ketika saya melakukan riset pada koleksi di Museum Tropen, Belanda. Foto tersebut diambil antara tahun 1917-an hingga kurun tahun 1930-an. Foto-foto itu pun kini dapat pembaca lihat dengan mudah di laman google.com karena memang era teknologi sudah canggih. Atau dapat dilihat pada foto disamping ini. Penulis ambil dari sebuah buku karangan Jerry Samudera.  

Permainan panjat pinang adalah sarana hiburan bagi penduduk Hindia Belanda yang memang saat itu sarana hiburan tidak secanggih atau sebanyak saat ini. Ibaratnya kalau ada play station dan nintendo di zaman itu, mungkin mereka lebih memilih permainan tersebut dibanding panjat pinang.

Pada zaman Hindia Belanda, orang-orang yang mengikuti permainan panjat pinang untuk memperebutkan benda-benda yang bergantung diatasnya seperti kemeja, celana, dll., yang memang pada saat itu benda tersebut adalah barang mewah bagi pribumi. 

Orang-orang pribumi yang saling berebut, kemudian terjatuh karena pohon pinang yang licin hal tersebut sangatlah lucu bagi penduduk Hindia Belanda, terutama kaum elit seperti orang Eropa, karena melihat orang pribumi yang rela saling berebut untuk sesuatu hal yang tidak berarti di mata mereka. 

Dalam sumber-sumber yang saya pelajari, tidak ada orang Eropa di Hindia Belanda saat itu (setidaknya dari beberapa sumber foto tersebut) yang melakukan panjat pinang. Coba renungkan mengapa tidak ada orang Eropa yang melakukan panjat pinang? Mungkin para pembaca sudah menangkap poin yang saya maksud.

Menurut pemikiran saya, panjat pinang yang dulu dimaksudkan sebagai hiburan bagi penduduk di Hindia Belanda dengan membuat suatu  jenis permainan yang melibatkan orang pribumi, telah mengalami pergeseran makna. 

Hampir setiap tahun kita melihat permainan panjat pinang, tanpa mengetahui latar belakang atau sejarah adanya panjat pinang tersebut. Panjat pinang sudah melekat dalam alam bawah sadar kita, menjadi paradigma yang kuat, sehingga kita menganggap panjat pinang sebagai permainan yang berlandaskan asas gotong royong atau kerja sama yang melambangkan ciri luhur dari masyarakat Indonesia. 

Makna yang disimpulkan oleh masyarakat Indonesia saat ini ini tidak sepenuhnya salah, tetapi mengapa kita tidak bercermin kembali melihat makna yang sesungguhnya. Bukankah karena panjat pinang adalah permainan yang sudah ada sejak zaman Belanda, setidaknya dari sumber foto yang ada, lantas kita harus menghancurkan semua peninggalan sejarah dari zaman Belanda itu? Bukan itu juga maksud saya.

Dari hasil penelusuran, usulan dihapuskannya permainan panjat pinang dari perayaan kemerdekaan sudah sejak lama digulirkan oleh banyak orang, berarti ini tidak saja oleh KHI dan saya tahun 2015 ini. Dalam catatan, setidaknya sejak tahun 2000-an ini sudah ada beberapa pemerhati kebudayaan dan sejarah yang mengusulkan panjat pinang untuk dihapuskan dari permainan 17-an. Apa yang menjadi keprihatinan KHI dan mereka para pengusul dihapuskannya panjat pinang dan permainan 17-an lain adalah karena ada gejala memudarnya semangat nasionalisme dan patriotisme di kalangan anak muda yang ditandai rendahnya kesadaran sejarah.

Pengertian Nasionalisme

Nah, apa itu nasionalisme? Setiap orang lagi-lagi pasti memiliki perbedaan persepsi soal nasionalisme ini. Prof. Hans Kohn, pakar sejarah terkemuka abad ini, menyatakan bahwa nasionalisme adalah suatu paham yang tumbuh dalam masyarakat dan mempunyai empat ciri (Gatra, 11 Nopember 1995, hal 76), yaitu: 
  1. Kesetiaan tertinggi individu diserahkan kepada negara kebangsaan.
  2. Dengan perasaan yang mendalam akan suatu ikatan yang erat dengan tanah tumpah darahnya.
  3. Perasaan yang mendalam dengan tradisi-tradisi setempat, dan
  4. Kesetiaan dengan pemerintah yang resmi.
Menurut Steven Grosby dalam bukunya Nationalism (2009: 21), cinta yang dimiliki seseorang terhadap bangsanya diistilahkan sebagai 'patriotisme'. Grosby berusaha memberikan diferensiasi antara 'patriotisme' dan 'nasionalisme'. Grosby mencontohkan, ketika seseorang membelah dunia menjadi dua kubu, yang tidak bisa saling berkonsiliasi dan terus menerus berseteru, maka berlawanan dengan patriotisme, terdapatlah ideologi nasionalisme. Grosby menambahkan, nasionalisme tidak mengenal kompromi, karena nasionalisme merupakan pandangan yang menyeluruh. Ia hadir dalam diri sekelompok manusia yang memiliki kesadaran kolektif, untuk hadir membela bangsa dan negaranya dengan menghapuskan pandangan dan kepentingan individu dan sifat kewilayahan. 

Dalam konteks ke-Indonesia-an, pengertian nasionalisme versi Grosby ini dapat kita telusuri dan temukan dalam lembaran sejarah bangsa kita, salah satunya yaitu pada peristiwa Kongres Pemuda II yang menghasilkan Sumpah Pemuda. Peristiwa itu sangat monumental karena telah melahirkan semangat nasionalisme Indonesia. Dalam pengertian Grosby, semangat yang dimaksud adalah semangat fusi (melebur), menghapuskan faham kewilayahan, sehingga pada saat itu, para kelompok pemuda dari berbagai daerah, seperti Jong Ambon, Jong Bataks, Jong Islamiten Bond, Sekar Roekoen, Pemuda Kaum Betawi, dan lain sebagainya, membubarkan diri, kemudian mereka membentuk satu organisasi baru yang disebut Indonesia Muda.


Berdasarkan penjelasan di atas, kata kunci yg mendasar dari nasionalisme itu adalah 'cinta'. Para pembaca semua pasti sepakat bahwa cinta harus berlandaskan asas saling kenal, artinya kenal terhadap apa yg kita cintai itu. Sama seperti pada orang tua, kekasih dan saudara. Tidak mungkin ada cinta tanpa saling mengenal. Nah, bagaimana kalau ada orang mengaku mencintai sesuatu, tetapi ternyata mereka tidak mengenali sungguh-sungguh terhadap apa yang mereka cintai tersebut? Jawaban saya, berarti itu disebut 'cinta satu malam', hehehehe :P

Nah, apakah dengan melakukan panjat pinang, balap karung dan makan kerupuk yang sudah sekian puluh tahun terakhir ini, kita makin mengenal sejarah besar dan perjuangan para pahlawan bangsa ini dalam berjuang mencapai kemerdekaan? Apakah pembaca makin kenal dengan pahlawan dari daerahnya sendiri? Apakah banyak diantara pembaca yang sudah tahu arti dan makna kata Indonesia? Apakah pembaca memiliki lagu Indonesia Raya pada telepon genggamnya? Apakah pembaca memperlakukan uang Rupiah dengan baik? Apakah pembaca masih mengingat lagu-lagu wajib/perjuangan? dan lain sebagainya. Tentu jawabannya beragam, namun pasti sebagian besar menjawab tidak, dan mungkin hampir semua dari anda hanya mampu menggelengkan kepala.

Panjat pinang adalah sebagian kecil dari sebuah fakta bahwa kita pernah memiliki masa lalu yang suram, yaitu hidup dalam cengkraman penjajahan bangsa asing. Celakanya hingga kini, kita sudah merasa bangga merayakan kemerdekaan itu hanya dengan perayaan yang bersifat semu, bukan dengan kegiatan yang memiliki nilai edukasi-keberlanjutan dan kebermanfaatan bagi diri sendiri, bangsa dan negara. Saya yakin, dengan panjat pinang, balap karung dan makan kerupuk, kita tidak diajarkan untuk mengenal pahlawan, mempelajari sejarah dan perjuangan mereka, mengetahui jasa dan pengorbanan para pejuang. Perhatikan, dengan permainan semu tersebut, kita telah dibuat jauh dari upaya mengisi dan meneruskan cita-cita kemerdekaan itu. Kita terlena dan terbuai dengan permainan yang menina-bobokan kita, sehingga kita sulit bangkit untuk mengisi dan membangun kemerdekaan. Bagaiman mungkin kita dapat memahami nilai-nilai luhur dan cita-cita perjuangan para pahlawan dan pejuang bangsa tanap tahu sejarahnya? Tentu pada akhirnya, kita pun akan sulit dan tidak akan melanjutkan perjuangan itu dan mungkin saja tidak mencapai apa yang dicita-cita oleh leluhur kita itu.

Banyak pertanyaan, bagaimana dengan peninggalan sejarah dari zaman Belanda lainnya seperti rel kereta api, jalan, istana, gedung atau sarana lainnya apakah harus dihapuskan seperti panjat pinang? Analogi yang membandingkan sarana yang dibangun pada zaman Belanda dengan panjat pinang tentu belum tepat. Karena infrastruktur yang dibangun Belanda seperti jalan, gedung, dll telah memiliki manfaat bagi Indonesia hingga saat ini. Sama halnya dengan kebudayaan asing, tidak semua hal yang berbau asing itu buruk. Kebudayaan asing yang sejalan dengan jati diri bangsa tetap dapat masuk ke Indonesia dan dapat dipergunakan untuk kesejahteraan, tapi yang bertentangan tentu saja tidak perlu kita ambil.

Namun demikian, pada masa sekarang, kita telah kalah karena diserang oleh budaya asing yang telah menjauhkan kita dengan budaya kita sendiri. Kita lebih memilih budaya luar karena supaya dianggap gaul, dan mengikuti tren, dan sebagainya. Penulis menyarankan, jika hidup adalah kepentingan dan kepentingan itu adalah tangan, maka sejatinya tangan kanan adalah RI (Republik Indonesia) dan tangan kiri adalah Rp (Rupiah). Bagaimana kepentingan idealisme harus sejalan dengan realitas. Karena tanpa terpenuhinya kepentingan realitas, idealisme tidak akan tumbuh di dalam jiwa kita. 

Penulis ingin mengusulkan, bahwa kehidupan saat ini sejatinya menuntut kita untuk seimbang dan selaras antara dua kepentingan itu. Implementasinya adalah bahwa boleh saja kita mengaggungkan masa kini dan modernisasi, tetapi jangan lupa bahwa kita mempunyai dan harus menjaga masa lalu dan tradisi kita. Pemuda Indonesia kini harus bergaul dalam dunia globalisasi, tapi jangan lupa akar glokalitas kita, kearifan lokal kita. Think globally, act locally, begitulah kira-kira.

Bagi pembaca mungkin soal panjat pinang ini sepele bukan? Memang, tapi dari hal yang sepele itulah kita lambat laun akan menyepelekan bangsa kita sendiri. Pada akhirnya akan timbul pernyataan, bahwa panjat pinang adalah hal yang wajar karena hanya untuk hiburan. Hal itu sama saja dengan tontonan televisi yang dimana menghalalkan saling ejek-mengejek (merendahkan) untuk hiburan, maka lama kelamaan kita akan mengatakan bahwa saling ejek-mengejek adalah wajar. Bagaimana menurut anda?

Saatnya Kita Revolusi Mental!
Pertanyaan saya selanjutnya, apakah kita tidak dapat melakukan permainan lain untuk merayakan kemerdekaan? Tentu saja sangat bisa, asal kita mau. Inilah apa yang disebut 'revolusi mental' seperti yang digaungkan presiden kita, Pak Jokowi. Kita sesungguhnya dapat membuat ratusan permainan yang sudah tentu memiliki nilai hiburan, tapi kita juga harus membuat permainan itu memiliki makna yang mendalam, sehingga akan mampu menumbuhkan nasionalisme yang bersumber pada sejarah dan perjuangan mencapai kemerdekaan. Permainan tradisional lain yang telah menjadi milik kita sejak ratusan tahun yang lalu, juga dapat dijadikan permainan dalam merayakan kemerdekaan. Karena permainan itu tidak nyeleneh, dan konyol. Kita beruntung dan wajib bersyukur bahwa di hampir seluruh Indonesia terdapat komunitas yang telah nyata berkontribusi untuk bangsa dengan melestarikan permainan tradisional ini. Salah satu yang paling getol adalah Kang Zaini Alif dengan Komunitas Hong -nya. Komunitas ini telah keliling Indonesia dan dunia untuk menggaungkan permainan rakyat kita yang unik, menarik, menghibur dan mendidik.

Nah, ide saya, bagaimana misalnya, panjat pinang itu kita ganti dengan bermain 'puzzle sejarah' beregu/individu, yang di dalamnya ada foto pejuang/pahlawan, jika kita selesai menyusunnya, kemudian kita harus menebak foto siapa, dari mana asalnya, jasanya apa untuk bangsa. Niscaya kita akan lebih mengenal pahlawan dan mengapresiasi perjuangan mereka. Atau yang lebih menantang kita bisa melakukan 'simulasi strategi perang gerilya' Jenderal Sudirman, sekelompok anak muda dibagi beberapa group, kemudian diberikan tantangan bagaimana cara bertahan hidup di tengah hutan dan kepungan musuh atau penjajah, dll. dengan hadiah menarik dan price lebih besar lagi. Saya yakin, dengan permainan yang saya usulkan tersebut, kemenangan yang kita peroleh merupakan kemenangan yang bersumber pada pemahaman dan nasionalisme yang sesungguhnya, dimana kita makin mengenal perjuangan dan jasa para pahlawan bangsa kita. 

Pepatah lama mengatakan, tak kenal maka tak sayang. Nah, seberapa dalam kah kita mengenal bangsa ini? Apakah harus dengan adanya klaim kebudayaan dari bangsa lain dulu, baru kita bergerak mempelajarinya, melestarikannya atau peduli terhadap kebudayaan tersebut? Kemudian kita melakukan sweeping bahkan tidak sedikit dengan kata-kata dan tindak kekerasan. Apakah begitu cara kita mencintai bangsa ini? Kita tidak mengenal sejarah dan budaya bangsa kita, ketika itu muncul di dalam berita dunia dan di klaim milik suatu negara tertentu, barulah kita ikut-ikutan protes. Pertanyaannya, selama ini kita kemana? Kenapa kita tidak mempelajari, agar kita mengenali potensi dan sumber daya sejarah dan budaya bangsa kita, sehingga kita akan mampu menjaga dan mengapresiasinya dengan baik. 

Semakin kita kenal, maka kita akan semakin sayang. Seperti kita mengenal orang tua, istri atau kekasih. Setelah kita mengenalnya kita akan sayang dan peduli pada mereka. Bahkan seluruh jiwa raga akan rela kita korbankan, demi orang / hal yang kita cintai itu. Hal tersebutlah yang seharusnya kita lakukan terhadap negara ini. Namun, sekali lagi, apakah ada upaya mengenali dan mempelajari sejarah dan budaya serta perjuangan para pahlawan bangsa ini dengan melakukan panjat pinang, balap karung dan makan kerupuk?

Bagaimana kita akan peduli dan mengambil nilai / meneladani semangat perjuangan / patriotisme dari para pendiri bangsa kita, jikalau kita tidak mengenal mereka? Apa yang bisa kita lakukan untuk meneruskan cita-cita luhur mereka jika kita tidak mempelajarinya? Apakah ada upaya mengenali dan mempelajari sejarah dan budaya serta perjuangan para pahlawan bangsa ini dengan terus melakukan panjat pinang, balap karung dan makan kerupuk?

Mungkin pembaca berharap bahwa pelajaran sejarah lebih memiliki porsi yang besar diajarkan di sekolah, seperti mimpi meraih bulan, sangat berat ditengah-tengah zaman globalisasi yang melanda kita. Zaman ini telah menggantikan (jika istilah menghancurkan terlalu ekstrim untuk digunakan) beragam permainan tradisional, dll menjadi permainan canggih dengan teknologi. Namun, seperti usul saya, keseimbangan hidup bisa kita lakukan untuk menghadapi era globalisasi ini. Agar kita tetap berdiri sebagai bangsa yang unik dan mandiri.

Paradigma seluruh masyarakat Indonesia memandang sejarah mungkin saja negatif, misalnya sejarah itu membosankan, masa depan suram (madesu, red), dll. Akibatnya pelajaran sejarah di sekolah tidak mampu menjadi favorite, bahkan tidak di-UN-kan, dll. Menurut beberapa anggota KHI di Amerika Serikat, pelajaran sejarah merupakan pelajaran wajib. Bahkan, test sejarah dilakukan bagi warga negara Amerika yang ingin mencalonkan diri menjadi anggota dewan (senator), bagi mereka yang ingin mencalonkan diri menjadi gubernur negara bagian. Bahkan, bagi warga negara di luar Amerika, yang berkeinginan kuat menjadi warga negara Amerika, mereka harus lulus test sejarah terlebih dahulu.

Amnesia Sejarah
Padahal kita sering menyanyikan lagu Indonesia Raya dimana dalam salah satu baitnya “...Bangunlah jiwanya bangunlah badannya...” Apakah kita menyadari makna dibalik penggalan lagu Indonesia Raya tersebut? Bahwa bangsa ini memerlukan pembangunan jiwa atau karakter, barulah ketika jiwa atau karakter kebangsaannya kokoh maka kita dapat melakukan pembangunan fisik. Menurut penulis, sejarah adalah jiwa dari bangsa ini. 

Oleh karenanya, manusia tanpa ingatan sejarah, kita sebut amnesia. Seseorang yang mengalami amnesia tentu saja dia kehilangan ingatan masa lalunya. Dia akan mudah percaya dengan orang lain dan akan menurut dengan perintah seseorang yang dapat meyakinkan dirinya walaupun perintah itu tidak sesuai dengan norma agama, kesusilaan, dan hukum. Apa yang terjadi jika bangsa tanpa ingatan sejarah secara kolektif? Bangsa itu akan mudah diadu-domba, "diperbudak" kembali oleh bangsa-bangsa lain melalui teknologi, budaya, ekonomi dan politik. Setidaknya itu. Nah, mari kita coba renungkan.

Kalau kita perhatikan banyak film asing yang saat ini mengangkat kisah mengenai sekelompok manusia yang kehilangan ingatan masa lampau sepert dalami film Divergent, dimana sekelompok manusia dihilangkan ingatan masa lalunya kemudian kendalikan secara negatif oleh sekelompok manusia lain yang mengetahui sejarah masa lampau. Itu yang dapat terjadi pada bangsa ini jika kita tidak mengenal sejarah dan budaya bangsa. 

Nah, permainan panjat pinang saya anggap tidak mendidik karena membuat kita tidak mengenali sejarah bangsa dan para pendiri bangsa kita disini. Alih-alih bukannya menjadikan kita makin maju, permainan tersebut malah menjauhkan kita dari akar sejarah bangsa. Masih ingat pepatah pendiri bangsa kita, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah dan para pahlawannya? Jadi kenapa kita belum menjadi negara yang besar? Ya karena kita belum mampu dan mau menghargai sejarah, dan jasa para pahlawan/pejuang bangsa.

Faktanya, jangan kan anak-anak mungkin pembaca sekalian jika ditanya siapa nama pahlawan yang ada di dalam uang Rp2000,- atau Rp10.000,- belum tentu pembaca mengetahuinya. Membedakan apakah H.R. Rasuna Said laki-laki atau perempuan pun mungkin harus googling terlebih dahulu, hehe. Baca juga: Adik-adik, Ini Cara Mudah Menghargai Jasa Para Pahlawan.

Gambar pahlawan di dalam uang yang kita anggap biasa, menjadi luar biasa di negara lain. Mengapa? Karena di negara lain uang tidak sekedar kertas sebagai alat pembayaran. Kita dapat melihat kondisi fisik uang di Indonesia. Bagaimana orang memperlakukan uang dengan melipat, meremas, 'mengkuwel-kuwel', mencorat-coret, dll. Jika kita menghargai pahlawan yang ada di dalam uang Rupiah seharusnya kita tidak memperlakukan uang dengan demikian rupa. Tengok Jepang yang sangat menghormati gambar kaisar di dalam uang Yen, mereka tidak berani melipat uang tersebut. Tidak heran Jepang menjadi negara dengan tingkat kualitas uang yang baik jika dibandingkan Indonesia. 

Belajar sejarah akan menjadikan kita bijaksana dan akan membuat kita makin cinta terhadap apa yg kita kenali dari apa yang bangsa kita miliki. Alangkah lebih baik jika kita mengisi kemerdekaan tahun ini, dengan sesuatu yang mendidik, yang mampu menyadarkan kita akan sejarah bangsa. Bukannya malah yang menjauhkan kita dengan bangsa ini. Untuk mengganti permainan panjat pinang, balap karung dan makan kerupuk, selain puzzle sejarah, misalnya kita dapat membuat perlombaan baca teks proklamasi, lomba mirip pahlawan, amazing race sejarah, lomba aransemen lagu-lagu perjuangan, mencari harta karun sejarah, napak tilas proklamasi, karnaval 17-an, pegelaran teatrikal perang geriliya Jend Sudirman, dll.

Penulis yakin, sudah banyak diseluruh Indonesia ini yang telah melakukan perubahan dalam merayakan kemerdekaan. Banyak sekali komunitas di daerah masing-masing yang telah melakukan itu. KHI dan anggotanya, juga mitra-mitranya setidaknya seringkali menyadarkan pemahaman ini dengan melakukan kegiatan penelusuran sejarah, dll. Keep good work yaa.

Dalam perayaan hari kemerdekaan tidak semua permainan harus dihilangkan. Sebagian tetap ada yang mendidik antara lain misalnya parade dan karnaval pakaian adat daerah, lomba menyanyi lagu daerah, lomba tarian daerah, dll. Itu lebih baik jika dibandingkan dengan panjat pinang, balap karung dan makan kerupuk karena tidak ada esensi membangun kognisi, afeksi dan psikomotrik anak bangsa. 

Apakah pahlawan yang sudah mengorbankan darah air mata dan nyawa akan bangga pada kita yang menjadi juara panjat pinang tingkat nasional, sementara kita tidak berusaha belajar, mengenali dan mengapresiasi para pahlawan dan pejuang kita tersebut?

HUT RI ke-70 tahun

Pada peringatan HUT RI ke-70 tahun ini, saya menunggu program pemerintah dalam merayakan perayaan kemerdekaan. Mudah-mudahan program pemerintah dalam merayakan kemerdekaan tersebut melalui program yang konkret dan berkesinambungan, bukan hanya dengan perayaan semu semata. 

Mari kita move on dari perayaan kemerdekaan yang  tidak mendidik. Saya yakin orang Indonesia adalah orang yang kreatif terutama anak muda yang penuh dengan inovasi dapat menciptakan kegiatan yang menarik namun tidak melupakan akar sejarah. Saya sangat mengapresiasi permainan tradisional yang telah dikemas dengan digital atau permainan yang berbau sejarah dan budaya yang diusung oleh beberapa pihak. 

Tahun ini, genap 70 tahun. Mungkin sudah sulit menemukan saksi dan pelaku sejarah proklamasi kemerdekaan (asumsi apabila ketika tahun 1945 berusia 15 tahun saja, saat ini berusia 85 tahun). Pada siapa kita bertanya soal semangat dan nilai-nilai luhur kemerdekaan? Pada siapa kita bercermin dalam mengisi masa kini dan membangun masa depan, jika sejarah sebagai pijakannya berada dalam ambang kegelapan? Mari kita nyalakan obor, kita terangi bangsa ini dengan menggelar permainan-permainan yang mendidik dan membangun bangsa. Dengan permainan yang tidak melenakan kita. Agar para pendiri bangsa ini bangga pada kita.

Penutup
Pembaca yang baik, terlalu panjang dan luas jika harus saya sampaikan disini... Hehehehe... Tapi itulah seharusnya kita, memperbaiki diri dan membangun bangsa kita dengan hal-hal yang konstruktif. Selain menggelar permainan yang mendidik tersebut, ayo kita gunakan acang (alat canggih kita, gadget, red) dengan membaca buku dan majalah sejarah (baik soft copy, maupun hard copy), karena itu merupakan salah satu jalan melestarikan sejarah, semangat nasionalisme dan patriotisme, serta melanjutkan cita-cita besar para pendiri bangsa ini. Jangan gunakan gadget hanya untuk download permainan saja. Kalau boleh jujur, di gadget penulis tidak ada satupun permainan, penulis rasanya pantang download permainan. Karena penulis sudah tahu rasanya bagaimana hidup dipermainkan, hahahah :P


Jika ada yang berpendapat lain dipersilakan karena setiap orang berhak berpendapat sesuai dengan pemikirannya masing-masing. Penulis sangat menghargai jika dalam diskusi ini dapat disampaikan dengan baik dan konstrukstif. 

Apabila para pembaca memandang panjat pinang adalah tradisi Indonesia yang harus dilestarikan (tetap diadakan) penulis mempersilahkan. Namun, apabila setelah membaca tulisan ini para pembaca tersadarkan, saya sangat berterima kasih dan menghargai Anda. Karena pada intinya penulis hanya ingin masyarakat 'melek' terhadap sejarah dan menyadarkan bahwa ada hal-hal yang harusnya diketahui oleh masyarakat dari bangsa ini. Saya pikir masyarakat Indonesia sudah dewasa dan bisa membedakan mana yang baik dan tidak.

Kurang lebih inilah pemikiran saya, mohon maaf apabila ada pernyataan saya yang kurang berkenan. Sekali lagi terima kasih karena telah meluangkan waktu membaca tulisan panjang saya ini.

Pesan saya: untuk menghancurkan suatu bangsa, musnahkan ingatan sejarah generasi mudanya, jangan sampai terjadi pada Indonesia yang kita cintai ini. Mari kita sama-sama belajar sejarah! 

Let's make History!
Salam Historia!

@AsepKambali
Guru Sejarah Keliling

*Boleh di-like dan disebarkan agar kita merdeka seutuhnya! ;-)

*Sedikit profile mengenai penuis, klik disini!


Comments

You need to login to give a comment