Penyelamat Dikala Terlambat

Saya adalah seorang guru sejarah keliling, dari nama pekerjaannya tentu saja tugas saya mengajarkan sejarah (dan budaya) kepada masyarakat, terutama kepada generasi muda Indonesia dengan cara berpindah-pindah, dari satu tempat ke tempat lain, dari satu sekolah ke sekolah lainnya, dari kampus yang ini ke kampus yang itu, dari kantor x ke kantor z. Dari berpindah-pindah itu, kemudian masyarakat menjuluki saya sebagai guru sejarah keliling. Sebagai guru sejarah keliling, jadwal mengajar saya cukup padat, dari satu daerah ke daerah lainnya, baik di dalam maupun luar negeri.

Di tahun 2013 sebuah perusahaan swasta multinasional dengan brand ternama, meminta saya untuk memberikan wawasan sejarah dan budaya kepada para fotografer perwakilan dari seluruh Indoneia yang tempat acaranya di Makassar dan Wakatobi, mengingat seluruh
akomodasi dan transportasi telah ditanggung oleh panitia, saya pasrah dengan maskapai dan jadwal yang dipilihkan. Beruntunglah saya, bahwa maskapai yang dipilih oleh perusahaan tersebut untuk penerbangan Jakarta – Makassar, adalah Garuda Indonesia, yang merupakan maskapai penerbangan plat merah yang terkenal dengan reputasi nomor wahid di negeri ini. Sedangkan penerbangan Makassar – Wakatobi menggunakan pesawat khusus yang di carter oleh perusahaan tersebut.

Ternyata, saya tidak selalu diliputi oleh keberuntungan, saya mendapatkan jadwal penerbangan yang dipesan yaitu penerbangan pagi hari. Kenapa saya sebut tidak beruntung? Karena penerbangan pagi hari merupakan suatu hal yang menakutkan bagi saya. Saya tipikal orang yang sulit untuk bangun pagi, meskipun alarm sudah menjerit-jerit dengan kencang. Hal ini terjadi karena agenda yang begitu padat, belum lagi packing seluruh “peralatan tempur” yang sudah harus disiapkan, dan biasanya selesai dini atau pagi hari. Kemudian, tidak lupa saya memberitahu asisten dan keluarga untuk membangunkan saya, sebagai antisipasi jika alarm tidak berhasil menjalankan misinya.

Hal yang menakutkan pun terjadi, alarm gagal untuk menjalankan misinya, membangunkan saya. Keluarga sudah berusaha untuk menelpon, tapi ternyata nada dering tidak diaktifkan, alias silent. Alarm saja sudah gagal membangunkan saya apalagi hp yang cuma bergetar. Asisten saya kemudian bergegas menuju kediaman saya, seraya berusaha membangunkan dengan cara manual, karena dia memiliki kunci pintu cadangan. Namun, karena masih ada kunci di balik lubang kunci lainnya, maka percuma saja dengan kunci cadangan itu. Beberapa saat, pintu masih belum terbuka, asisten saya tidak hilang akal.

Apa yang terjadi? Asisten saya yang notabene perempuan, tanpa basa basi mendobrak pintu rumah saya dengan cara membantingkan badannya dan mendorong pintu rumah saya dengan berakhir rusaknya system kunci pintu itu. Benar saja, dia menemukan saya sedang tertidur pulas. Dia kemudian berteriak dan membangunkan saya dengan panik, saya pun ikut panic, berteriak dan loncat. Astagfirullah….teriak saya….

Saya kemudian melihat jam, menunjukan pukul 07.00 wib, padahal flight saya pukul 07.15 wib. Tanpa mandi, saya langsung berpakaian dan mengambil barang-barang yang memang sudah rapi saya siapkan tadi malam, sedangkan asisten saya sibuk mencari taksi. Perjalanan dari rumah ke bandara memakan waktu kurang lebih 45 menit. Oleh sebab itu, saya sudah pasrah, karena tidak mungkin penerbangan ditunda untuk menunggu saya. Memangnya siapa saya bisa membuat pesawat menunggu, yang ada bisa diamuk penumpang lainnya, gumam saya.

Pikiran saya berkecamuk, dada sesak kepala tertekan. Ya, karena pada pukul 15.00 WITA saya dijadwalkan harus mengisi acara di Makassar dan kemudian dilanjutkan dengan perjalanan ke Wakatobi pada pukul 18.00. Saya menyadari jika saya terlambat tiba di Makassar, pesawat carter ke Wakatobi pun akan meninggalkan saya dan hancur semua rencana kegiatan saya di dua tempat tersebut.

Tiba di bandara, saya setengah berlalu menuju check in counter Garuda Indonesia dengan jantung berdegup, berharap pada sebuah keajaiban. Saya dilayani dengan ramah dan sabar oleh petugas, walaupun dia melihat wajah saya yang panik dan kucel karena belum mandi, bahkan cuci muka sedikit pun. Dan, apa yang terjadi? Sungguh mengejutkan dan diluar dugaan saya. Alhamdulillah, teriak saya… Walau terlambat saya masih diberikan kesempatan untuk mengikuti penerbangan selanjutnya pada pukul 09.40 WIB dan dengan biaya GRATIS! Tanpa dibebankan biaya apa pun.

Rasa panik, cemas, dan stress saya pun berubah menjadi senyum termanis sepanjang hidup. Bersyukur karena Garuda Indonesia memiliki jadwal penerbangan yang banyak dan kebijakan yang sangat melegakan ketika seseorang mengubah jadwal flightnya dengan darurat dan tiba-tiba. Apa lagi, saya tidak dikenakan biaya sama sekali meski mengganti jadwal penerbangan. Garuda Indonesia telah menyelamatkan orang-orang seperti saya. Menyelamatkan kontrak kerja saya yang sudah ditandatangani dengan klien. Jika terlambat, hancur sudah kontrak itu. Kekhawatiran saya cuma satu, yaitu delay, tetapi dengan kredibilitas Garuda Indonesia, hal itu sangat jarang terjadi. Lega sekali perasaan saya.

Saya pun tiba di Makassar pada pukul 13.10 WITA dan dijemput oleh panitia. Acara di mulai pukul 15.00 WITA sesuai jadwal. Pada akhirnya, saya berhasil menjaga kredibilitas saya dimata perusahaan yang meng-hire saya. Dengan demikian, Garuda Indonesia semakin mengokohkan kredibilitas dan citra maskapainya sebagai maskapai penerbangan nasional tingkat dunia. Wajar saja, berbagai penghargaan dan prestasi diraih oleh perusahaan pernerbangan pertama di Indonesia ini.

Terima kasih Garuda Indonesia. Pada akhirnya, saya dapat berbagi ilmu, pengetahuan dan pengalaman saya dibidang sejarah dan budaya di Makassar kepada para fotografer dari seluruh Indonesia tersebut. Penerbangan dengan pesawat carter di sore harinya, memberikan kesempatan kepada saya untuk memeluk hangat serta indahnya senja di Wakatobi.***

AK/22012015


Comments

You need to login to give a comment