Pemerintah Daerah yang Tak Peduli Sejarah dan Kota Tua

SAWAHLUNTO – Meski diketahui sejarah adalah identitas dan harus jadi warisan buat generasi ke depan, ternyata masih ada pemerintah daerah yang tak peduli sejarah dan kota tua. Salah satunya dapat terlihat dari begitu banyaknya bangunan bersejarah yang mulai beralih fungsi bahkan dihancurkan atas nama pembangunan.

Hal itu diungkapkan Pendiri Komunitas Historia Indonesia, Asep Kambali pada malam penyambutan peserta Workshop Kesiapan kota Bersejarah Indonesia Menuju Warisan Dunia di Rumah Dinas Walikota Sawahlunto, Kamis (21/8) malam.

"Bangunan bersejarah yang seharusnya dipelihara oleh pemerintah daerah karena memiliki nilai historis tinggi, malahan tidak terurus dan bahkan sudah hilang. Seperti, kawasan Kota Tua Jakarta yang sedang dibenahi Pemda DKI Jakarta dalam suatu proyek revitalisasi. Namun, sangat disayangkan proyek tersebut baru serius dikerjakan ketika terdapat beberapa banguan tua cagar budaya yang telah hancur dan kondisinya sangat memprihatinkan," ujarnya.

Gedung-gedung tersebut merupakan saksi sejarah yang seharusnya dipelihara, dilestarikan dan dimanfaatkan sebagi potensi pariwisata yang bermanfaat ekonomis dan sosial. Ini juga berlaku pada daerah lainnya di negara ini, ungkapnya pada acara yang juga dihadiri Dirjen Penataan ruang Kementrian PU, Basoeki Hadimoejono dan Wakil Bupati Kepulauan Seribu, Ibnu Sabiin Hatta.

Asep menyatakan, untuk mendukung Revitalisasi Kota Tua, hal yang perlu digarisbawahi adalah upaya menumbuhkan penghargaan, kepedulian dan kesadaran masyarakat terhadap kawasan tersebut. Saat ini, banyak masyarakat dan generasi muda yang tidak peduli dengan potensi sejarah dan budaya yang dimiliki bangsa ini. Apalagi jika dikaitkan dengan pelajaran sejarah di sekolah yang sering dianggap para siswa sebagai pelajaran yang membosankan dan kalau menekuni bidang studi sejarah, bukanlah pilihan favorit.

"Hal inilah yang menjadikan sebagian upaya dan tujuan KHI melakukan aktifitas dan kegiatan guna menumbuhkan rasa kecintaan pada sejarah serta mendorong pemangku kebijakan untuk bersama melestarikan sejarah dan kawasan kota tua," jelasnya.

KHI tak hanya berhasil menarik minat banyak anak muda untuk mencintai sejarah, tapi juga berhasil menarik simpati beberapa lembaga dan perusahaan seperti Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Bagi KHI, sejarah dan budaya bukan hanya sekedar subjek pelajaran di sekolah. Sejarah dan budaya adalah sumber patriotisme dan nasionalisme rakyat. Itulah yang menjadi Visi KHI.

Konsep KHI adalah mempelajari sejarah dan budaya tanpa paksaan, menyenangkan dan apa adanya. Yang coba dilakukan adalah bagaimana membuat sejarah menjadi menarik dan menyenangkan. Pada akhirnya mereka dengan mudah mendapatkan hikmah dari pengetahuan tentang suatu peristiwa sejarah, ulas Asep. (tumpak)

Source: Klik disini!

Comments

You need to login to give a comment