Adik-Adik, Ini Cara Mudah Menghargai Jasa Pahlawan

Adik-adik yang manis dan pintar, apakah ada diantara kalian yang mengetahui tanggal 10 November diperingati sebagai hari apa? Betul, Hari Pahlawan. Pasti banyak diantara adik-adik yang bertanya mengapa diperingati sebagai Hari Pahlawan? Adik-adik pasti tahu bahwa Indonesia pernah dijajah oleh bangsa asing, beberapa diantaranya yaitu Belanda dan Jepang. Ketika Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya secara sepihak dari penjajah, Belanda datang kembali untuk menjajah Indonesia, tentu saja rakyat Indonesia tidak terima dan para pejuang kita berontak.

Bayangkan apabila adik-adik memiliki suatu lalu direbut oleh orang lain, pasti adik-adik marah ‘kan? Itulah yang terjadi ketika Belanda datang ingin merebut kemerdekaan Indonesia tentu saja para pejuang kita tidak akan tinggal diam. Sehingga untuk mempertahankan kemerdekaan yang kita telah miliki itu, terjadilah pertempuran di Surabaya pada tanggal 10 November 1945 dimana banyak sekali para pejuang yang tewas. Nah, peristiwa tersebut kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan karena banyaknya para pejuang yang gugur dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang kita proklamasikan pada 17 Agustus 1945 itu.

Nah, sekarang, coba siapa yang tahu arti pahlawan? Apakah pahlawan itu seperti Superman, Spiderman, Batman, Ultraman dan tokoh superhero lain kesayangan adik-adik? Atau seperti Big Hero yang sekarang sedang tayang di bioskop? He he he he he he, tentu saja berbeda yaaa. Karena pahlawan yang sebenarnya tidak memiliki kekuatan super, tetapi mereka memiliki kekuatan/keteguhan hati, pengorbanan tanpa pamrih dan kecintaan terhadap bangsa dan negaranya sehingga para pahlawan itu rela mengorbankan darah, air mata dan nyawanya demi membela tanah air yang mereka telah dirikan itu. Sehingga kini, kita dapat hidup terbebas dari penjajahan, kita hidup dengan nyaman, aman, damai dan sejahtera. Coba adik-adik bayangkan, mungkin tidak kita dapat nonton Big Hero di mall kesayangan dengan nyaman tanpa ada pengorbanan para pahlawan kita dahulu? Pastinya gak mungkin kan, karena Indonesia masih terjajah atau belum merdeka hingga sekarang.

Nah, untuk dapat dengan mudah mempelajari pahlawan, adik-adik dapat melihatnya di dalam uang kertas pecahan Rp1.000, Rp2.000, Rp5.000, dan seterusnya sampai Rp100.000. Ayo, ada dong yang sekarang sedang memegang uang? Coba lihat ada gambar pahlawannya tidak? Kalau tidak ada, berarti uang monopoli itu... :D hehehehe. Coba adik-adik baca. Masih belum tahu juga? Nah, coba tanyakan ke orang tua dan atau guru kalian. Minta petunjuk dan cari informasi tentang pahlawan yang ada di uang kertas tersebut. Karena Kakak yakin, adik-adik pasti tidak tahu siapa dan dari mana para pahlawan yang ada di uang kertas tersebut, he he he. Mudah-mudahan kakak salah menebak ya… .

Pahlawan berasal dari kata ‘pahala’ yang diberi imbuhan ‘-wan,’ artinya seseorang yang mempunyai pahala, tentunya orang yang mendapatkan pahala adalah orang yang telah berbuat baik, seperti pahlawan yang 'telah berkorban tanpa pamrih' untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Selain telah berjasa bagi negeri pada masa penjajahan, gelar pahlawan hanya disematkan kepada orang yang telah meninggal/wafat. Gelar pahlawan bukan gelar sembarangan, sangat sulit untuk mendapatkannya. Bahkan Ir. Soekarno dan Moh. Hatta, proklamator kemerdekaan Indonesia sekaligus presiden dan wakil presiden pertama kita, baru mendapatkan gelar pahlawan pada tahun 2012 kemarin lho. Ada yang tahu ‘gak?

Lalu apa yang dapat adik-adik lakukan untuk menghargai dan mengenang jasa pahlawan?

Kakak kurang setuju apabila kita mengenang jasa pahlawan dengan mengikuti perlombaan seperti lomba panjat pinang, balap karung, balap makan kerupuk, dan lain-lain. Mengapa? Panjat pinang adalah salah satu perlombaan yang ada sejak zaman penjajahan Belanda dan digunakan sebagai hiburan oleh orang-orang Belanda, mereka menertawakan orang-orang Indonesia yang jatuh ke lumpur, cemong atau saling berebut hadiah. Selain itu apakah para pahlawan akan bangga apabila perjuangan mereka yang telah meneteskan keringat, darah dan air mata, bahkan juga nyawanya, hanya dilambangkan dengan lomba makan kerupuk, balap karung, panjat pinang, dan lain-lain, tentu saja tidak sebanding bukan?

Hal yang paling tepat yang dapat adik-adik lakukan adalah dengan mengenali, mencari inspirasi, kemudian mencontoh sikap seorang pahlawan, karena adik-adik tidak mungkin menjadi pahlawan saat ini. Ingat definisi pahlawan yang sudah kakak jabarkan di atas, bahwa gelar pahlawan hanya diberikan kepada orang yang telah wafat/meninggal. Jadi, tidak benar jika saat ini kita mendefinisikan pahlawan devisa dan pahlawan tanpa tanda jasa. Karena kedua definisi tersebut tidak ada pengorbanan karena berharap imbalan materi. Pahlawan, adalah pengorbanan tanpa pamrih.

Namun, adik-adik dapat meneladani pahlawan dengan cara lain, misalnya ikhlas dalam melakukan sesuatu atau tanpa pamrih, contohnya ketika diminta orang tua untuk membereskan tempat tidur, adik-adik harus dengan senang hati melakukannya, bukan karena paksaan atau ingin dipuji oleh orang tua, bukan karena adanya imbalan yang diberikan.

Sikap lainnya adalah rela berkorban, adik-adik bisa menerapkan sikap tersebut misalnya ketika adik-adik sedang menonton acara favorit di televisi lalu orang tua adik-adik meminta tolong untuk menjaga adik kecil. Ketika adik-adik bersedia membantu orang tua menjaga adik kecil, berarti adik-adik telah rela mengorbankan kesenangan adik-adik untuk meringankan beban orang tua, dengan berbuat baik berarti adik-adik akan mendapatkan pahala lho, he he he.

Adik-adik juga harus belajar dengan rajin agar menjadi anak yang pintar dan cerdas agar tidak dibodohi oleh orang lain, agar kita tidak dijajah lagi. Tidak mau ‘kan kita dijajah lagi? Nah, untuk mengenal jasa para pahlawan, salah satunya kita bisa belajar sejarah lho, sehingga mengetahui lebih dalam apa jasa-jasa mereka terhadap negeri dan mengapa mereka diberikan gelar pahlawan.

Kalau belajar pahlawan dari uang saja tidak cukup, atau karena jawaban orang tua dan guru kalian kurang memuaskan, adik-adik bisa mengunjungi museum lho. Ayo siapa yang pernah ke museum? Museum apa saja yang sudah pernah adik-adik kunjungi? Kalau belum pernah ada satupun, ajak yuk orang tua adik-adik untuk mengunjungi museum dan temukan kisah-kisah seru tentang sejarah para pahlawan di museum. Misalnya ada Museum Nasional, Museum Sejarah Jakarta, Museum MH Thamrin, Museum Jenderal Besar Nasution, Museum POLRI, Museum Bank Indonesia, dan lain-lain.

Di Indonesia ada 328 museum, dan di Jakarta terdapat lebih dari 60-an museum. Museum yang bisa adik-adik kunjungi di Jakarta untuk mengenang jasa pahlawan salah satunya misalnya Museum Joang ’45 dan Museum MH Thamrin. Kata siapa pergi ke museum tidak asyik, kalau adik-adik merasa museum belum asyik, berarti adik-adik harus mengunjungi museum bareng kakak dan komunitas yang kakak pimpin, yaitu Komunitas Historia Indonesia (KHI). Coba deh lihat situsnya di http://www.komunitashistoria.com dan boleh follow akun twitter-nya di @IndoHistoria. Atau mau follow akun twitter kakak? He he he, boleh silahkan follow kakak di @AsepKambali. Mau nanya-nanya tentang sejarah, museum, atau pahlawan, boleh koq sama kakak.

Nah, jadi adik-adik sudah tahu ‘kan bagaimana seharusnya kita mengenali jasa pahlawan? Benar, yaitu dengan melakukan sesuatu tanpa pamrih, rela berkorban, dan berbuat baik. Serta tidak lupa untuk mengunjungi museum dan belajar sejarah. Jika kita semakin mengenal pahlawan kita niscaya kita akan semakin cinta terhadap negeri ini, karena ada pepatah yang mengatakan "tak kenal maka tak sayang" serta "tidak ada bangsa yang besar tanpa menghargai sejarah dan budayanya."

Selain itu ingat neh kata-kata kakak ya: “untuk menghancurkan suatu bangsa, musnahkan ingatan sejarah generasi mudanya.” Nah, adik-adik takutkan kalau negara kita dihancurkan karena adik-adik sebegai generasi mudanya ‘gak tahu sejarah? hehehe... Ayo, kita semua belajar sejarah dan kunjungi museum kita, jika ingin bangsa ini menjadi bangsa yang maju dan besar!

Terima kasih ya kalian sudah meluangkan waktunya membaca tulisan kakak ini.... Tosss! ***


Oleh: Asep Kambali
Follow him @AsepKambali (twitter/IG)
Sejarawan; Guru Sejarah Keliling; dan Pendiri Komunitas Historia Indonesia (KHI)

More http://www.komunitashistoria.com/about/founder/



Comments

You need to login to give a comment