Journey to Mysterious Island

TAMAN ARKEOLOGI ONRUST

Melacak Jejak Sejarah Kolonial di Teluk Jakarta

PENGANTAR
Onrust berarti tanpa tstirahat, dimana aktivitas bongkar muat barang dan galangan kapal yang tanpa henti sepanjang hari di masa Kolonial. Karena saking banyaknya kapal di pulau Onrust, maka disebut Pulau Kapal. Onrust terdiri dari dua suku kata, ‘on’ dan ‘rust’  (Inggris ‘un’ dan ‘rest’ ) yang berarti tanpa isitrahat. Kini, pulau Onrust dikenal sebagai pulau tanpa istirahat yang telah lama beristirahat.  

Letak Geografis & Administratif
Secara geografis, Pulau Onrust terletak pada 1060 441 011 Bujur Timur dan 60  021 311 Lintang Selatan dan memiliki luas kurang lebih 7,5 hektar dari sekitar 12 hektar pada masa VOC. Pulau Onrust berjarak +-14 km dari Ancol, Jakarta Utara. Secara administrarif Pulau Onrust terletak dalam wilayah Kelurahan Untung Jawa Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan Kabupaten Administrasi Kepuluan Seribu Daerah Khusus Ibu kota Jakarta.

Akses ke Pulau Onrust
Pulau Onrust sangat mudah dicapai melalui tiga pelabuhan; Pelabuhan Marina Ancol, Pelabuhan Angke, dan Pelabuhan Muara Kamal. Dari ketiga pelabuhan tersebut, yang paling dekat dengan Pulau Onrust adalah Pelabuhan Muara Kamal. Dengan menggunakan perahu tradisional Pulau Onrust dapat dicapai dalam waktu antara 15-20 menit.

YANG PERNAH TERJADI DI PULAU ONRUST
Sebelum abad ke-17, Pulau Onrust digunakan sebagai tempat peristirahatan raja-raja Banten. Daerahnya yang sejuk dan pepohonan yang rindang membuat para petinggi kerajaan Banten sangat menyenangi Pulau ini. Maka tak salah jika raja-raja  Banten menggunakan Pulau ini sebagai tempat peristirahatan.

Namun, setelah penguasaan VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) yaitu sebuah Perusahaan Dagang Hindia Timur Belanda di tahun 1619, Pulau Onrust digunakan sebagai tempat galangan kapal yang ditunjang dengan berbagai infrastruktur yang dibanguan berbeda rentang waktunya, seperti dermaga (1610), benteng (1656), gudang mesiu (1659), bastion (1672), dan kincir angin untuk penggergajian kayu (1674), dan lain-lain.

Bangunan-banguan tersebut mengalami kehancuran setelah serangan Inggris pada tahun 1803 dan 1806. Pemerintah Hindia Belanda di bawah pimpinan Gubernur Jendral GA. Baron van der Capellen mambangun kembali pulau ini dan memperbaiki beberapa fasilitas yang hancur. Namun, gelombang tidal letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883 kembali menghancurkan bangunan-bangunan yang telah diperbaiki itu.  

Selama kurun waktu 1905-1911, Pulau Onrust pernah juga digunakan sebagai tempat stasiun cuaca, atau saat ini lebih dikenal sebagai Badan Mteorologi dan Geofisika (BMG).

Di era selanjutnya, kemudian Pulau Onrust berubah fungsi dan digunakan sebagai Karantina Haji hingga tahun 1933. Pelaksanaan Karantina haji dalam suatu kajian politik terungkap dalam buku Prof Dr. Aqib Suminto (Politik Hindia Belanda Terhadap Islam), bahwa ide karantina haji merupakan suatu sikap kekhawatiran yang sangat tinggi dalam pemerintahan Kolonial terhadap meluasnya gerakan Pan-Islam yang dimotori oleh Jamaluddin Al-Afghan; Muhammad Abduh; dan Muhammad Rasyid Ridha di Timur Tengah.

Biasanya orang-orang yang pergi melaksanakan ibadah haji akan bertahan di Tanah Arab paling sedikit 3 bulan. Kesempatan itu digunakan untuk belajar agama kepada ulama-ulama terkemuka. Munculnya Gerakan Wahabi dan ide Pan-Islam yang menentang penjajahan orang “non-islam” akan memberi dampak pada militansi mereka yang menunaikan ibadah haji.

Kekhawatiran pemerintah Hindia Belanda itu ternyata berbuah kenyataan. Hampir semua pimpinan perlawanan di tanah partikelir adalah mereka yang telah menunaikan ibadah haji. Untuk mengawasi kegiatan orang-orang yang melakukan ibadah haji adalah melakukan karantina haji dengan alasan menjaga kesehatan. Pemerintah kolonial memberikan cap kepada mereka yang melaksanakan ibadah haji dengan kata (gelar) haji di depan nama orang itu. Dalam kenyataannya saat itu sejak munculnya Syarekat Islam (1912) lalu Muhammadiyah, para pimpinan Syarekat Islam di Barbagai kota baik di pulau Jawa dan pulau Sumatera adalah para haji.

Pemerintah kemudian mengalihkan fungsi bangunan bekas karantina haji itu sebagai tempat tahanan politik di era tahun 1933. Tahanan pertama yang menghuni bekas barak karantina haji tersebut adalah tahanan Pemerintah Hindia Belanda yang melakukan pemberontakan di Kapal Zeven Provincien atau yang dikenal dengan “Kapal Tujuh”.

Peristiwa Zeven Provincien terjadi pada awal Februari 1933. Pemberontakan tersebut dipicu oleh diskriminasi pemerintah terhadap sistim penggajian anak buah kapal (ABK). Awak kapal pribumi dan Indo Belanda/Eropa menerima upah lebih kecil dibandingkan awak kapal kebangsaan Belanda/Eropa totok dalam satu uraian tugas.

Memasuki tahun 1940, kondisi politik di Indonesia dipengaruhi oleh kondisi global Perang Dunia II.  Ketika itu, orang-orang Jerman datang ke Indonesia untuk membuka hubungan dengan Pemerintah Hindia Belanda. Namun, hubungan tersebut tidak dapat terealisasikan karena Jerman di bawah pimpinan Adolf Hitler terlebih dahulu menyerang negeri Belanda. Akibatnya, orang-orang Jerman yang berada di seluruh Indonesia ditahan dan dilokalisasikan di Pulau Onrust. Salah satunya adalah Stenfurt, mantan Kepala Administrasi Pulau Onrust.  

Jadi, selama kurun waktu 1940 hingga 1942, Pulau Onrust digunakan  untuk menampung tahanan kebangsaan Jerman. Mereka ditempatkan dalam barak-barak yang dahulu digunakan untuk para tahanan pemberontakan Kapal Zeven Provincien. Sementara itu, di  Kelor, Cipir, Bidadari, dan Edam tidak ada aktivitas menonjol yang dilakukan di pulau-pulau tersebut sehingga menjadi terbengkalai.

Pada periode pendudukkan Jepang, Minyak bumi dan Karet menjadi alasan “jihad”nya orang Jepang, terutama setelah mereka Menyerbu Pearl Harbour 7 Desember 1941, maka tidak ada pilihan lain adalah mendapatkan minyak bumi dan karet di Hindia Belanda melalui serangan militer. Akhirnya, dengan mengerahkan kekuatan penuh, Jepang berhasil masuk Batavia pada tanggal 5 Maret 1942. Dimana kota itu telah ditinggalkan militer Belanda dan para pejabatnya yang mengungsi ke Australia melalui pelabuhan Cilacap. Beberapa hari kemudian Hindia Belanda menyerah tanpa syarat pada tanggal 8 Maret 1942 di Kalijati, Subang, Jawa Barat. Dan Jepang menjadikan pulau Onrust sebagai tempat tahanan.

Setelah Indonesia merdeka (1945), Pulau Onrust dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan, diantaranya sebagai Rumah Sakit Menular di bawah pengawasan Departemen kesehatan RI (1950-1960), tempat penampungan para gelandangan dan pengemis (1960-1965), dan tempat latihan militer. Namun, pada tahun 1960, seluruh pasien yang dirawat di Pulau Onrust dipindahkan ke Pos VII Pelabuhan Tanjung Priok yang fasilitasnya jauh lebih baik. Setelah tidak digunakan untuk Rumah Sakit, Pulau Onrust dimanfaatkan untuk menampung gelandangan dan pengemis selama kurun waktu 1960-1965.

Pada tahun 1968, Pulau Onrust yang sudah ditinggalkan penghuninya mengalami penjarahan material bangunan secara besar-besaran oleh masyarakat sekitar. Untuk melindungi pulau ini dari kehancuan yang lebih parah, maka Pemerintah DKI Jakarta mengeluarkan SK No. 11/2/16/72 yang menetapkan Pulau Onrust sebagai pulau bersejarah yang dilindungi. Tapi sudah terlambat!

Selain untuk menampung gelandangan, Pulau Onrust juga dijadikan sebagai tempat latihan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Pelatihan tersebut bagian dari upaya strategi merebut Irian Jaya dari kekuasaan Belanda. Sesuai perjanjian KMB (1949), pengakuan Belanda atas Indonesia tidak termasuk Irian Barat.

Pada saat dijadikan sebagai tempat latihan tentara, Pulau Onrust pernah digunakan sebagai tempat eksekusi mati seorang pemimpin besar Darul Islam (DI) bernama Raden Sekar Maji Kartosuwiryo. Pada bulan Juni 1962, ia ditangkap dan diadili dengan tuduhan telah melakukan pemberontakan dan berusaha melakukan pembunuhan terhadap Presiden Sukarno. Hasil pengadilan memutuskan bahwa ia diganjar hukuman mati.

Setelah tahun 1963, Pulau Onrust tidak lagi digunakan sebagai tempat latihan militer, sehingga menjadi terbengkalai. Ketika dimulainya revolusi orde baru, pulau tersebut dalam kondisi terlantar dan dikosongkan, maka memberikan kesan tak bertuan. Oleh karena kondisi tersebut, pada tahun 1968 terjadi pembongkaran dan pembambilan seluruh material bangunan yang ada. Barak-barak dan tempat karantina haji yang dahulu digunakan telah hancur karena pembongkaran yang dilakukan atas izin dari koramil 072 Jakarta Utara tersebut.  

Melihat kondisi tersebut, pemerintah melalui Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta berupaya menyelamatkan sisa peninggalan arkeologi yang tersisa. Dengan SK Gubernur DKI Jakarta tertanggal 14 April 1972 No. cb 11/2/16/1972 Pulau Onrust dinyatakan sebagai pulau bersejarah yang dilindungi.

Kini, Pulau resmi di bawah pengelolaan UPT Taman Arkeologi Onrust Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta. Pulau Onrust dijadikan sebagai pulau pariwisata sejarah, budaya, arkeologi dan bahari. Pulau Onrust buka tiap hari selama 24 jam. Bagi Anda yang suka berpetualang, memancing, berkemah, dab lain-lain pulau Onrust sangatlah tepat dan cocok untuk menyalurkan hobbi Anda.

Selamat berpetualang. Salam Historia!

Asep Kambali
Pendiri KHI
 
REFERENSI

  • Al Chaidar. Pemikiran Politik Proklamator Negara Islam Indonesia S.M. Kartosuwirjo. Jakarta : Darul Falah, 1999.
  • Attahiyat, Chandrian. Pulau Onrust. Jakarta : Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta, 2003.
  • ________________. Penelitian Arkeologi Pulau Onrust. Jakarta : Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta, 1993.
  • Blom, J.C.H. De Muiterij Op De Zeven Provincien. Utrecht: Hes Uitgevers, 1983
  • Dinas Kebudayaan dan Permuseuman, Jakarta Kota Juang, 1998
  • Dinas Kebudayaan dan Permuseuman, Lintasan Sejarah Jakarta, 2004
  • Dinas Kebudayaan dan Permuseuman, Mengenali Reruntuhan Sejarah di Teluk Jakarta. Pemda DKI Juli 2002
  • Dinas Museum dan Sejarah, Laporan Penggalian Arkeologi Pulau Cipir, 1983.
  • Dinas Museum dan Sejarah, Penelitian Arkeologi Pulau Onrust. Pemda DKI 1993.
  • F. De Haan, Oud Batavia Vol 1 dan 2. Bandung: A.C. Nix & Co, 1922.
  • Heijboer, Pierre. Agresi Militer Belanda. Jakarta : Grasindo, 1998.
  • Heuken, Adolf, SJ., Historical Sites of Jakarta, 1986
  • Humas dan Protokol Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu tahun Sebaiknya Anda Tahu: Data Kabupaten Administrasi  Kepulauan Seribu. 2004
  • Krisprihartini Setiowati, Benteng Onrust : Kajian Benteng Berdasarkan Data Artefaktual Dengan Data Piktorial, (Skripsi Sarjana Jurusan Arkeologi, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, 1999),
  • Leirissa, RZ. Sunda Kelapa sebagai Jalur Sunda. Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional Depdikbud, 1995.
  • Riclefs, M.C. Sejarah Indonesia Modern, UGM Press, 1998.
  • Sedyawati, Edy, dkk., Sejarah Kota Jakarta 1950-1980. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, 1986/1987.
  • Setyohadi, Tjuk. Sejarah Perjalanan Bangsa Indonesia Dari Masa Ke Masa. Jakarta : CV. Rajawali Corporation, 2002.
  • Suracmat, Dirman. Peningalan Pulau Onrust, Kepulauan Seribu. Pertemuan Ilmiah Arkeologi III, Ciloto 23-28 Mei 1983
  • Tjandrasasmita, Uka. Sejarah Jakarta dari Zaman Prasejarah sampai Batavia Tahun ± 1750. Jakarta: Dinas Museum dan Pemugaran DKI Jakarta, 2001.
  • Widodo, M, dkk. Pemberontakan di Atas Kapal HR. MS. De Zeven Provincien. Jakarta: Direktorat Jenderal Bantuan Sosial – Departemen Sosial RI 1980.
  • Wilard, Hanna, A., Riwayat Jakarta, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1988.
  • “Boentoetnya Pemberontakan Awak Kapal De Zeven Provincien” dalam Sin Tit Po, 13 Februari 1933.
  • “Boentoetnya Pemberontakan Awak Kapal De Zeven Provincien” dalam Sin Tit Po, 14 Februari 1933.
  • “Melongok Karantina Haji di Pulau Onrust” dalam Republika, Kamis, 8 Januari 2004.
  • “Karantina Haji di Pulau Onrust”, (htttp://www.republika.co.id, diakses 17 Juni 2005).
  • www.ned-indie.org; www.londoh.com





Comments

You need to login to give a comment