Lebih dari Kartini, Sebuah Renungan

Setiap pagi hari tanggal 21 April, kesibukkan orang tua bertambah, ada yang menemani anaknya pergi ke salon, ada pula yang mendandaninya sendiri. Sewa baju atau bahkan menjahit pakaian adalah rutinitas yang biasanya dilakukan para orangtua di awal bulan April. Mereka berlomba-lomba untuk membuat anaknya tampil cantik dan menawan layaknya sosok Kartini yang anggun.

Beragam perlombaan banyak diselenggarakan oleh sekolah, mal, perusahaan dan lain-lain untuk menyambut Hari Kartini, Sang Pendekar Emansipasi Wanita. Namun apabila kita bercermin apakah kita mengetahui siapa sosok Kartini sesungguhnya? Apa peran beliau? Mengapa ia ditetapkan sebagai pahlawan? Mengapa sosoknya mendunia?

Rasanya pertanyaan tersebut jarang kita lontarkan, dan jawabannya belum tentu memuaskan. Maka melalui tulisan ini izinkanlah saya untuk bercerita mengenai sosok Kartini melalui kacamata saya sebagai seorang guru sejarah keliling. Anda boleh tidak setuju dengan saya karena kemerdekaan yang sejati adalah kemerdekaan dalam pikiran Anda masing-masing dan tentunya setiap orang berhak untuk mengeluarkan pendapatnya selama itu berdasar. Karena dalam sejarah tidak ada kebenaran yang sejati karena kita tidak hidup dan tidak mengalami hal tersebut secara langsung.

Hari yang sakral bagi perempuan itulah fenomena yang terjadi di masyarakat ketika hari Kartini tiba. Mengapa tanggal 21 April dianggap hari yang istimewa? Hal ini tidak lain dan tidak bukan dalam rangka memperingati hari lahir R.A. Kartini. Seorang wanita pertama yang mendapatkan gelar pahlawan.

Kartini ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1964 melalui Kepres No.108/1964 yang ditandatangani oleh Presiden Soekarno. Kartini atau yang lahir dengan nama Raden Adjeng Kartini merupakan anak dari Bupati Jepara, lahir di Jepara pada tanggal 21 April 1879.

Semasa kecil Kartini hidup berkecukupan, sebagai anak seorang Bupati tentunya Kartini memiliki kesempatan yang lebih dalam mengakses pendidikan dibandingkan dengan teman-teman sebayanya. Sebagai anak pejabat di masa itu tentunya dapat dikatakan bahwa keluarga Kartini pro Belanda karena pada saat itu tidak mungkin seseorang ditunjuk sebagai pejabat apabila ia tidak loyal dengan pemerintah Belanda. Kartini juga merupakan sosok yang sangat penurut, ia tidak pernah menentang orang tua. Apapun kehendak orang tua ia turuti. Bahkan ketika dipaksa orang tuanya menikah dengan Bupati Rembang sebagai istri ke-4, Kartini pun manut.

Kartini yang tidak berdaya hanya dapat menuliskan keinginanya untuk bersekolah melalui surat-surat yang ia kirimkan kepada sahabatnya di Belanda. Kumpulan pemikiran (curhatan, red.) Kartini melalui surat itulah yang pada akhirnya kita kenal sebagai “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Sosok Kartini besar melalui tulisan dan pemikiran yang belum terealisasikan. Jika kita lihat sebenarnya masih banyak pahlawan wanita lain yang nyata-nyatanya berjuang hingga titik darah terakhir (berperang, red) melawan penjajah Belanda, sebut saja Panglima Malahayati (panglima angkatan laut wanita pertama dari Aceh), Cut Nyak Dien (Pahlawan dari Aceh yang berani menghunuskan rencongnya kepada Belanda), Dewi Sartika (mendirikan sekolah wanita pertama yaitu Kautamaan Istri) dan lain sebagainya. Akan tetapi mengapa Kartini diistimewakan hingga dijadikan perayaan nasional?

Sosok Kartini sebenarnya diangkat (dimunculkan) pertama kali oleh Pemerintah Hindia Belanda melalui Departemen Pendidikan, Seni dan Kerajinan. Adalah Tuan Abendanon lah yang ketika itu menjadi kepalanya. Istri Abendanon, merupakan sahabat Kartini yang sering dikiriminya surat di Belanda. Penetapan Kartini sebagai sosok perempuan pribumi yang pro Belanda sebagai “pejuang” versi Belanda, sangat erat kaitannya dengan Politik Etis.

Kartini yang tidak pernah menentang Belanda dianggap sebagai sosok teladan bagi kaum pribumi yang aman untuk dimunculkan kepermukaan. Kartini tidak pernah mengajarkan ajakan untuk menentang Belanda kepada muridnya di sekolah yang ia dirikan di area komplek Kabupaten Rembang. Ia hanya mengajarkan bagaimana menjadi anak yang pintar dan baik. 

Tidak ada perlawanan yang secara frontal menentang pemerintah Belanda dalam surat yang ditulis oleh Kartini. Meski masih diliputi misteri tentang kebenaran surat-surat Kartini, karena masih banyak surat-surat lain yang berserakan. Kartini secara umum banyak bercerita tentang keluh kesah dirinya menjadi anak perempuan Jawa yang dipingit, serta bagaimana kedudukan perempuan di Jawa, Hindia Belanda dan keinginanya agar perempuan memiliki kesempatan yang sama di bidang pendidikan.

Sosok Kartini tidak menciptakan perempuan yang harus sejajar dengan laki-laki atau dapat diatas laki-laki. Ia sadar bahwa perempuan telah memiliki kodrat yang tidak mungkin ditentang yang telah diciptakan oleh Tuhan yaitu menstruasi, hamil dan menyusui, serta bukan menciptakan perempuan pembangkang. Kartini menyadari itu.

Inilah yang sering disalahartikan, bagaimana perempuan saat ini dengan mengatasnamakan emansipasi, tetapi menentang kedua orang tua, bahkan suaminya sendiri. Kita harus sadari wanita saat ini tentunya bukanlah objek tapi harus dipandang sebagai subjek, akan tetapi harus sadar akan posisi, hak dan kewajiban sebagai perempuan yang tidak sempurna tanpa laki-laki yang melindunginya, begitupun sebaliknya, lelaki saat ini pun harus lebih fleksibel dalam memandang perempuan. Perempuan jangan diperlakukan sebagai objek, tetapi sebagai subjek. Jadi satu sama lain harus saling mendukung dan menghargai. Karena laki-laki dan perempuan memiliki peran, serta hak dan kewajiban yang berbeda yang tentunya diciptakan untuk saling melengkapi.

Sekalipun banyak sekali manipulasi yang diciptakan oleh situasi politik kolonial saat itu terkait penetapan sosok Kartini, bahkan penetapan Kartini sebagai pahlawan di masa Soekarno, serta meskipun perjuangannya tidak sehebat perempuan lainnya, Kartini adalah sosok yang harus tetap kita hargai dan teladani sebagai perempuan Indonesia yang telah hidup dan berjuang sesuai cara dan kemampuannya pada konteks zaman itu.

Tak kenal maka tak sayang, jangan merayakan sebelum tahu secara mendalam siapa sebenarnya sosok yang kita teladani dan rayakan itu. Pelajari sejarah, karena belajar dari sejarahlah kita dapat mengetahui dan menghargai sesuatu serta menciptakan pribadi yang bijak di masa kini guna membangun masa depan yang lebih baik dari kemarin.

Salam Historia, Lets Make History!

Asep Kambali

*Sumber Foto: KITLV Belanda



Comments

You need to login to give a comment