Mengulas Sejarah bersama Komunitas Historia Indonesia REP | 24 February 2014

89.6 Fm I – Radio Jakarta. Pasti anda sudah tak asing dengan satu nama stasiun radio yang baru saja saya sebutkan ini bukan. Dengan penyiar – penyiar berpengalaman I – Radio telah berhasil menyita banyak perhatian publik dan keluargaindonesia bahkan sampai kemanca negara. Diluar negri tak jarang pula orang  mendengarkan acara – acara yang dibawakan oleh penyiar – penyiar handalnya seperti Sandy Andarusman, Poetri Soehendro, M. Rafiq, Liza Harun dan para penyiar lainnya.

Stasiun radio yang diresmikan pada 28 Maret 2001 dengan slogan “ 100% Musik Indonesia” I – Radio menampilkan lagu hits Indonesia dan menjadikan musik – musik Indonesia sebagai musik tuan rumah dinegrinya sendiri.

Baru ini I – Radio Jakarta dalam acaranya “soresoreweekends” yang dipandu oleh Kamal dan Rissa mengundang salah seorang sejarawan muda yang juga sekaligus penggagas berdirinnya sebuah komunitas pecinta sejarah di Indonesia. Siapa lagi kalau bukan Asep Kambali. Beliau adalah seorang sejarawan yang telah berhasil menggarap sebuah komunitas pecinta sejarah dengan anggota mencapai ribuan orang yang tersebar hampir keseluruh penjuru indonesia. Bukan hanya itu saja Komunitas Historia pun kini sudah tersebar hampir ke – 10 negara bagian di dunia.

Dalam kesempatannya kali ini Kang Asep ( panggilan akrab Asep Kambali)  di acara “soreoreweekends” akan membicarakan tentang sejarah tentunya. Acara yang berlangsung selama kurang lebih empat jam itu terasa meriah sekali. Suasana yang diciptakan oleh pernyiar I – Radio sendiri Kamal dan Rissa begitu melebur. Tema sejarah pun tak lepas dari pembicaraan mereka tentunya ditulis lewat situs jejaring sosial facebok  “bentar lagi di “soresoreweekends” bakal kedatangan tamu gaul bgt dan cinta matee ama Indonesia. Siapa yaa?” tulisan didinding facebook ini telah berhasil menarik perhatian pengguna layanan ini dan membuat mereka penasaran.

Dan dalam tulisan lainnya dituliskan bahwa “Sejarah itu nggak sudah kok!! Malah jdi sesuatu yg menyenangkan!! Ga percaya? Dengerin aja Kumunitas Historia Indonesia hanya di #soresoreweekend” hal ini membuktikan bahwa I – Radio memang benar bukan hanya sebatas radio biasa yang hanya memutarkan lagu biasa melainkan siaran radio yang bisa memberikan wawasan tersendiri bagi para pendengar setianya.

“KIta nanti itu adalah kita hari ini, dan kita hari ini adalah kita dimasa lalu.”

“Agak ngiri kalo ngeliat Amerika yang sangat mengagung – agungkan sejarahnya. Baru – baru ini gua baca 1001 Historical Sites You  Must See Before You Die. Bayangin 1001 dari buku itu dari Indonesia Cuma 1 yang masuk. Museum Borobudur. Padahal banyak banget dari Indonesia yang bagus. Baca buku itu jadi males juga. Udah miris juga. Karna kenapa. Karena disepelekan, nggak di anggap, masa depan suram dan lain. Waktu gua S1 pernah gua plesetin karena gua S1, jas merah itu jangan sekali – sekali masuk sejarah. Yang belajar tarian tradisional, pencak silat. Gak ada yang nangkep mereka. Gak ada yang hidup mereka. Akhirnya matikan. Sementara di Texas Pencak Silat disana 70 US Dolar. Yang ngelatih orang Indonesia yang belajar orang Amerika.”

“Dah nemu masalahnya belum mas kenapa jarang ada yang suka sama sejarah?.”

“Masalahnya, kenapa sejarah jarang disukai itu karena gurunya kurang bisa ngajar. Coba tanya anak – anak yang suka sejarah itu pasti karena gurunya pinter ngajar karena gurunya menarik. Triknya adalah kita harus banyak baca. Guru sejarah itu harus banyak baca dan pandai bercerita jangan sumbernya itu cuma buku paket doang. Gua penah ngajar di SMA 3, mereka tuh dulu suka banget sama sejarah. Walaupun mereka itu nggak harus kuliah jurusan sejarah.”

Diikuti dari pembicaraannya dengan Kamal dan Rissa, Kang Asep Kambali dalam menjawab pertanyaan dari salah seorang I – Listeners yang bertanya melalui situs jejaring social juga “Kang coba buat film sejarah tentang Indonesia?”.

“Film tentang tokoh – tokoh. Maksud gua pas jaman orde baru aja kan banyak (film – film tentang sejarah),tapi kenapa sekarang kurang. Kalo dulu kan ada Ahmad Dahlan atau siapalah. Sebenernya banyak pemerintah atau sponsor – sponsor yang bertanya – tanya laku gak ni, laku kagak. Mana ini kansnya , ini sejarahnya udah bener belom.”

“Tapi kalo nggak salah saya pernah liat ada 1 Production House yang emang menkhususkan diri membuat film – film tentang sejarah kayak Film King, tentang petenis Indonesia. Itu apa nggak tertarik buat kerjasama sama mereka?”

“Saya kira kita akan bergabung. Tapi prinsipnya kita yang suplai, kita yang nyiapin data, kita yang nyiapin risetnya. Kembali ya kalo skenarionya kita g mungkin dong.”

“Kalo tokoh. Tokoh siapa yang mau di filmkan?”

“Soekarno.” Jawab Kang Asep mantap.

“Kalo yang memerankan Soekarnonya siapa Kang?”

“Jangan Sule nggak cocok.” Kata Kamal menambahi. Canda tawa mengisi perbincangan “soresoreweekends” bersama Kang Asep itu. Tapi bener juga sih. Masa Soekarno diperankan sama Sule. Hahahaha. Kayaknya nggak cocok abis.*Bercanda ya Om Sule. Hehehe.

Tak terasa perbincangan antara antara Kang Asep dan penyiar I – Radio. Harapan Kang Asep dalam perbincangan kali ini adalah KHI akan tetap menjadi organisasi, tetep menjadi gerakan – gerakan untuk lebih mencintai Indonesia melalui sejarah dan budayanya. Karena saat ini setiap hari di Indonesia lahir 5000 bayi dari puluhan ribu desa atau kelurahan, dari 5000 bayi ini kalau tidak diberikan pelajaran sejarah tidak dibangun pendidikannya.

Mereka yang akan menghancurkan Indonesia. Mereka yang akan menjadi musuh kita dalam “lampu merah” banyak melakukan kejahatan. Karena mereka tidak berpendidikan. Makanya dengan sejarah ini mereka diharapkan mempunyai kesadaran agar berbangsa dan bernegara.

Mempunyai  kesadaran bahwa  mereka berbudaya sehingga mereka menjadi tidak indiovidualis menjadi tidak matrealis sehingga mereka lebih suka hal yang berbau kebudayaan Indonesia.

“Diharapkan anda (I – listeners) bisa menjadi bagian dari perjuangannya (memperjuangkan sejarah) lewat www.komunitashistoria.org, twitternya di @indohistoria dan difacebooknya Komunitas Historia Indonesia.” Kang Asep menambahi. Semoga saja anak cucu kita bisa membedakan mana yang bermanfaat untuk mereka. Sadar bahwa sejarah itu mahal. Bisa mengambil pelajaran dari sejarah terdahulu.

“Terimaksih Kang Asep.” Kata ucapan itu menjadi penutup untuk perbincangan “soresoreweekends” kali ini. Padahal bincang- bincangnya lumayan lama. Tapi kenapa terasa begitu cepat saya rasa. Ya sudah tak apa – apa semoga dikesempatan berikutnya kapan – kapan Komunitas Historia Indonesia bisa On Air lagi ya diradio kesayangan kita. 89.6 Fm I – Radio.


klik di sini untuk sumber


Comments

You need to login to give a comment