Benteng-Benteng Bersaksi Dari Ternate

Ternate adalah lambang kejayaan masa lalu bangsa Indonesia. Di sinilah pusat penghasil rempah-rempah terbesar di dunia pernah lahir. Banyak sekali kisah memilukan, perjuangan dan pertempuran demi mempertahankan kota tersebut. Benteng-benteng dan bangunan bersejarah di kota ini merupakan saksi bisu yang masih menyimpan kisah-kisah tersebut.

Rasa lelah, jenuh dan bosan selama hampir 2x2 jam berada dalam penerbangan akhirnya hilang begitu roda-roda pesawat yang kami tumpangi menyentuh landasan pacu Bandara Sultan Baabulah, Ternate, Maluku Utara. Sesaat kami rasakan sejuknya hembusan udara lereng Gunung Gamalama yang berdiri menjulang di balik kemegahan bandara tersebut. 

Ini adalah kali pertama kami menginjakan kaki di bumi Ternate. Bersama lebih dari 100 orang yang tergabung dalam kegiatan Arung Sejarah Bahari III. Sebuah perhelatan tahunan yang diadakan oleh Direktorat Geografi Sejarah, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI. Tujuan kami hanya satu. Menapaki kembali kejayaan masa lalu Ternate sebagai salah satu pusat perdagangan rempah-rempah dunia.

Ketika mobil yang kami tumpangi menelusuri jalanan yang membelah kota ini, senyum ramah masyarakat sekitar tak terputus menyapa kedatangan kami. Sungguh jauh dari pemberitaan yang kami lihat di media-media massa. Mengingat beberapa hari sebelum kedatangan kami, Ternate dilanda kerusuhan hebat akibat konflik politik dalam ajang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Sisa-sisa kerusuhan tersebut masih bisa kami lihat dari beberapa kerusakan di halaman depan kantor gubernur.

Benteng Bersejarah

Perjalanan napak tilas ini kami mulai dengan mengunjungi Benteng Kalamata yang terletak di sebelah selatan Kota Ternate. Perjalanan sepanjang 3 kilometer (km) untuk mencapai lokasi ini bisa kami tempuh hanya dalam waktu kurang dari lima belas menit saja menggunakan kendaraan darat. Dibandingkan dengan Benteng Oranye,  kondisi Benteng Kalamata masih jauh lebih baik. Kesan bersih dan terjaga terlihat di dalam  bangunan yang didirikan pada tahun 1540 ini. Lokasinya berada persis di pinggir laut. Hingga dari benteng ini kita bisa melihat keanggunan  Gunung Maitara dan Tidore yang menjulang di tengah laut.

Sejarahnya, Benteng Kalamata atau yang sering disebut juga Benteng Santa Lucia ini dibangun oleh Bangsa Portugis pada tahun 1540. Pada tahun 1609, salah satu Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Pieter Both, memugarnya. Benteng Kalamata pernah juga diduduki oleh Bangsa Spanyol setelah dikosongkan oleh Geen Huigen Schapen pada tahun 1625. Tahun 1779, benteng ini kembali dipugar oleh Mayor Von Lutnow. Sekarang yang  kita lihat dari benteng ini adalah bentuk arsitektur modern hasil pemugaran yang sudah tidak lagi menampakan keasliannya. Nama Kalamata sendiri konon berasal dari nama salah seorang Pangeran Ternate yang meninggal dunia di Makassar pada tahun 1779.

Kondisi serupa juga kami temui ketika mengunjungi Benteng Talukko yang terletak di sebelah utara Kota Ternate. Beberapa kali mengalami pemugaran, benteng tersebut sekarang tetap berdiri kokoh. Meskipun sebagai bangunan peninggalan sejarah, cara pemugaran benteng tersebut terkesan asal dan menghilangkan sedikit kesan aslinya. Terletak di Kelurahan Dufa-dufa, benteng ini berjarak kurang lebih 3 Km dari pusat kota Ternate.

Dalam sejarahnya, benteng ini semula dibangun oleh Fransisco Serao yang berkebangsaan Portugis pada tahun 1540. Pieter Both, kemudian merenovasinya pada tahun 1610.  Sering disebut sebagai Benteng Santo Lucas, benteng ini pernah diduduki oleh  Sultan Mandarsyah, yang memerintah Kesultanan Ternate selama 24 tahun (1648-1672),  beserta sekitar 160 orang pasukannya atas izin pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1661.

Perjalanan kami berikutnya adalah mengunjungi Benteng Oranye yang terletak di jantung kota Ternate. Ketika kami dan rombongan tiba di lokasi, beberapa anak kecil, yang sebagian bertelanjang dada asyik memainkan bola sepak. Mereka adalah anak-anak yang tinggal di dalam lokasi benteng yang kini dijadikan sebagai komplek perumahan Anggota Polri dan TNI AD.  

Dalam sejarahnya, Benteng Oranye merupakan peninggalan Bangsa  Portugis yang kemudian dibangun kembali oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1607 oleh Cornelis Matclief de Jonge dan baru diberikan nama oleh Francois Witlentt Path pada tahun 1609.

Sayangnya kondisi benteng tersebut kini cukup memprihatinkan. Rumput-rumput liar dibiarkan tumbuh di beberapa sudut benteng. Bau amis dan tak sedap pun kerap menyeruak ketika kami menelusuri beberapa ruangannya. Padahal sebagai bekas pusat pemerintahan Hindia Belanda, benteng ini pernah ditinggali oleh pejabat-pejabat tinggi Hindia Belanda seperti Gubernur Jenderal Pieter Both, Herarld Reyist, Laurenz  Reaal, dan J.C. Coum.  Di benteng ini pula Sultan Mahmud Badarudin II dari Palembang pernah diasingkan sekitar tahun 1822 hingga meninggal pada tahun 1852. Dari atas benteng kita bisa melihat sebagian kota Ternate. Beberapa buah meriam peninggalan VOC masih tersimpan ditempatnya dengan moncong yang di arahkan ke segala penjuru. Jika tak jeli, mungkin anda sedikit kesulitan menemukan letak meriam tersebut. Karena kondisinya yang tertutupi oleh semak belukar dan pepohonan pisang.

Napak tilas kami berikutnya adalah mengunjungi Kedaton Sultan Ternate yang terletak di atas Bukit Limau Santosa. Kedaton yang didirikan di areal seluas 44.560 m2 ini dibangun tahun 1813 pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Ali. Bangunan kedaton berbentuk limas segi delapan dengan dua buah tangga di sisi kanan dan kiri depannya dan memiliki arti filosofi yang menggambarkan seekor singa duduk dengan dua kaki depan menopang kepalanya. Kondisinya masih utuh dan terawat dengan baik. Di halaman istana terhampar lapangan Sunyie Ici dan Sunyie Lamo.  Di lapangan inilah prosesi upacara adat kesultanan biasa digelar hingga kini.

Di dalam Kedaton, terdapat singgasana Sultan yang bercorakan warna kuning emas. Sementara itu di sekelilingnya banyak tersimpan benda-benda bersejarah koleksi peninggalan keluarga Sultan. Mulai dari Al Qur’an tulisan tangan tertua di Indonesia, Mahkota, dan beberapa senjata perang serta koleksi hadiah dari para  penguasa Belanda dan Portugis pada masa itu. Ada juga beberapa koleksi pakaian adat tradisional Kerajaan Ternate. 

Perjalanan selanjutnya kami akhiri dengan mengunjungi Benteng Kastela (Nostra Senora Del Rosario) yang terletak di Desa Kastela. Awal pembangunan benteng tersebut dilaksanakan oleh Antonio De Brito, Bangsawan Portugis,  yang dilanjutkan oleh Garcia Henriquez pada tahun 1525, kemudian dilanjutkan  oleh Gonzalo Priera pada tahun 1530 dan diselesaikan pada masa pemerintahan George De Castra di tahun 1540.

Kondisi fisiknya benar-benar memprihatinkan. Semak belukar tumbuh dimana-mana. Bentuk utuh dari bangunan ini pun tak terlihat lagi. Bisa dikatakan hanya menyisakan keruntuhannya saja. Padahal benteng in menyimpan sepenggal kisah yang  tak bisa dilupakan oleh masyarakat Ternate. Yaitu ketika terjadi pembunuhan terhadap salah satu pemimpin mereka yang paling berpengaruh, Sultan Khairun, pada 27 Februari 1570 atas perintah Antonio Primental. Karena tragedi tersebut, perlawanan masyarakat Ternate mengusir penjajahan pun mulai bangkit. Dibawah kepemimpinan Sultan Baabulah, Putera Sultan Khairun, mereka berhasil mengusir Bangsa Portugis dari bumi Ternate pada tahun 1574.

Sampai dengan tahun 1663, benteng ini pernah diduduki oleh Bangsa Spanyol sebelum akhirnya diambil alih oleh  pasukan VOC mulai tahun 1664 hingga keruntuhannya.

Ada satu pelajaran berharga yang bisa kami petik dari perjalanan singkat ini. Yaitu bahwasanya Indonesia pernah menjadi bangsa yang besar pada masa lalu. Pertanyaannya, akankah kebesaran tersebut bisa kita pertahankan kembali ditengah-tengah kemunduran yang sedang melanda Bangsa Indonesia? Maka kemudian sejarah menjadi penting dalam hal ini. Mari belajar dari sejarah!***

Teks: Asep Kambali, Foto: Wiko Rahardjo.Tulisan dibuat tahun 2007. DIpublikasikan pertama kali di website ini. 


Comments

You need to login to give a comment
  • User Avatar

    Asep Kambali KHI

    2 years, 8 months ago

    Apa kabar bro Maulana? Gimana kabar di Jepang? hehehe... Sukses terus yaaa... Segera kita bikin Jelajah Ternate yaaa :D

  • User Avatar

    Maulana Ibrahim

    3 years, 8 months ago

    Tulisan perjalanan yang menarik,.. Kondisi benteng2 tsb saat ini tidak berbeda dgn kondisi saat tulisan di atas dibuat (2007) . Peninggalan sejarah belum menjadi isu yg penting bagi Bangsa Kita. Salam Historia!

  • User Avatar

    Danar Setya Permana

    3 years, 8 months ago

    keren :)