KHI - Menularkan virus cinta Indonesia melalui sejarah

Tahukah Anda bagaimana negara ini dinamakan Indonesia? Pertanyaan tersebut terlontar dari mulut Asep Kambali, pendiri sebuah komunitas yang peduli terhadap sejarah Indonesia, yang saya temui di sebuah museum di Jakarta.

Kecintaan Asep Kambali kepada sejarah terpicu oleh sebuah prinsip yang ia temukan di sejarah dan menjadi statement yang sering diutarakannya, “untuk menghancurkan suatu bangsa, maka hancurkanlah ingatan (sejarah) generasi mudanya!” Lalu pada tahun 2001, Asep mulai merintis Komunitas Historia Indonesia (KHI). Menurutnya melalui KHI, ia dapat menularkan virus cinta Indonesia melalui sejarah dan budaya.

Awal dari komunitas ini dimulai dari keprihatinan beberapa mahasiswa jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Indonesia (UNJ) yang dulu bernama IKIP Jakarta, dan mahasiswa Jurusan Sejarah Universitas Indonesia (UI) terhadap kondisi masyarakat yang enggan mempelajari sejarah dan budaya. Dari sini, terbentuklah Komunitas Peduli Sejarah dan Budaya Indonesia (KPSBI-Historia) yang seiring waktu, komunitas ini sekarang dikenal dengan nama Komunitas Historia Indonesia (KHI). Pada tanggal 22 Maret 2003 KHI secara resmi terbentuk.

Beberapa kegiatan menarik yang dilakukan KHI contohnya Wisata Kota Tua Jakarta yaitu menjelajahi Kota Tua Jakarta, Wisata Kampung Tua, China Town Journey yang menjelajah perkampungan orang-orang Tionghoa di Jakarta, dan juga Arabic Village Tour yang mengeksplorasi perkampungan orang- orang Arab di Jakarta. Kegiatan lainnya adalah Napak Tilas Proklamasi, di sini KHI menelusuri situs-situs sejarah Indonesia dari Pergerakan Nasional hingga Proklamasi. Bagi Anda yang suka traveling, KHI juga memiliki Wisata Bahari: Historical Island Adventure, yang mengajak kita berpetualang menjelajahi pulau- pulau bersejarah di Teluk Jakarta. Kegiatan yang juga populer di masyarakat adalah wisata museum yang diberi nama Night @ The Museum. Di sinilah kita memiliki kesempatan untuk menelusuri museum malam-malam. Beberapa kegiatan yang menghibur diadakan di sini seperti menonton film tempo doeloe, makan malam tempo doeloe, all about reenactment. Jika Anda suka cosplay, ini saatnya Anda untuk tampil.
Picture
Di pinggir taman yang berada di museum tempat saya berbincang dengan Asep, ia menyadarkan saya bahwa sejarah bukanlah sebuah topik yang diminati generasi muda Indonesia. Hal ini saya rasakan ketika masih bersekolah, kecintaan terhadap negara ini bukanlah sesuatu yang ada dalam pikiran saya saat itu. Jika kita coba melihat alasannya, bisa saja keadaan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terlintas di benak saya, seperti para pengajar yang kurang mendalami materi, kurangnya dukungan dari semua pihak, dan mungkin saja kemasan yang tidak menarik, sehingga sejarah hilang nilainya di masyarakat. Asep mengutarakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah. Pertanyaannya adalah, maukah kita menjadi bangsa yang besar? Pertanyaan tadi menjadi salah satu pertanyaan yang mendasar dari Asep.

Asep menjelaskan bahwa sejarah bermain mental dan ingatan. Membicarakan ingatan, ia berkata bahwa amnesia adalah suatu bentuk dari kegilaan, di saat seorang tidak memiliki ingatan, akan mudah bagi orang lain untuk mempengaruhinya melakukan hal-hal demi kepentingan pihak tertentu. Hal ini sama seperti bangsa yang tidak mengingat sejarahnya, akhirnya akan digunakan untuk kepentingan pihak lain.
Picture
Di dalam perjalanannya, Asep mengajar di beberapa tempat di Indonesia. Ia sering kali menanyakan dan cenderung menantang para pelajar yang mengikuti seminarnya dengan menyuruh siapapun dari mereka untuk mengambil uang Rp100.000,- darinya jika di dalam telepon genggam mereka ada lagu Indonesia Raya. Yang disayangkan adalah uang itu tetap utuh dan masuk kembali ke dalam kantongnya. Cerita lain yang diceritakannya kepada saya adalah ketika berada di Papua ketika seorang bertanya kepadanya, mengapa kita harus belajar sejarah Jawa dan orang itu menanyakan apakah mereka tidak punya sejarah daerah mereka sendiri. Siapa yang bisa menyalahkan pertanyaan masyarakat Papua ini? Ini adalah sebuah kenyataan bahwa perasaan tidak adil yang dirasakan masyarakat di luar pulau Jawa masih belum terlihat oleh mata saya akan penyelesaiannya.

Asep melihat bahwa era globalisasi ini membuat bangsa ini menjadi terfokus kepada pembangunan fisik saja, tetapi pembangunan mentalnya seakan tertinggal jauh. Menurutnya, sistem yang dibuat oleh pemerintah memang tidak pro terhadap upaya pembangunan jiwa. WR Supratman dalam karyanya menulis, “bangunlah jiwanya, bangunlah badannya”. Belajar dari penggalan lirik ini, sudah seharusnya jika jiwa dulu yang dibangun sebelum membangun fisik kita. “Kita ini sekarang semua materialistic, hedonis, pragmatis, individualis, badan yang kita pikirkan,” demikian kata-kata yang terlontar dari mulutnya. Ia menekankan bahwa jiwalah yang menjadi pijakan sekaligus pendorong kuat bagi ketahanan mental bangsa ini.

Dengan belajar sejarah kita akan makin cinta kepada bangsa ini, karena kita akan mengenali masa lalu bangsa, baik itu masa-masa kejayaan, masa-masa kejatuhan, dan dengan pijakan itu kita akhirnya dapat membangun dan membentuk karakter bangsa. Harapan Asep melalui Komunitas Historia, banyak orang akan sadar bahwa kita perlu melestarikan sejarah Indonesia, kita perlu menghargainya, dan kita perlu mengenalinya. “Harapan saya adalah, mari bersama-sama, terutama generasi muda, kenali sejarah bangsa ini. Terus bangun pendidikan kita, supaya kita makin cinta dan makin aware dengan bangsa ini." ujar Asep Kambali.

Source: Klik disini


Comments

You need to login to give a comment