KHI - Melihat Sejarah dengan Bebas

Mencintai asal-usul leluhur bukan hal yang gampang dilakukan. Orang sering sengaja melupakan sejarah karena tak punya kebebasan untuk mencernanya dari sudut pandangnya sendiri. Syukur, sebuah komunitas hadir menawarkan pendekatan yang berbeda hingga memahami sejarah sebagai aktivitas rekreatif yang menyenangkan.

Semangat ekonomi kapitalis akhir-akhir ini amat mendominasi perkembangan kota-kota kita. Akibatnya, bangunan-bangunan yang sarat dengan nilai sejarah dan budaya kian terpinggirkan. Kondisi itu menggugah pemerhati sejarah bangsa untuk berjuang menjaga kelestarian yang tersisa. Secara perlahan, gerakan mereka mampu menarik perhatian orang hingga tumbuh wadah bagi mereka yang cinta warisan tempo dulu.

Gejala pertumbuhan komunitas seperti itu sempat menyedot perhatian publik. Kunjungan bertajuk “Wisata Kota Tua”, misalnya, seolah sudah menjadi agenda wajib berbagai komunitas pencinta sejarah. Mungkin belum semua benar-benar mendorong anggotanya untuk lebih mengenal dan lebih mencintai sejarah bangsanya.

Salah satu yang berhasil dan dikenal luas, yaitu Komunitas Historia Indonesia— selanjutnya disebut KHI. Ada setidaknya 10.000 orang mengaku menjadi anggota. Beberapa lembaga memberikan penghargaan kepadanya, antara lain, The Most Recommended Consumer Community dan The Best Enterpreneurial & Business Consumunity 2010. Kemampuan para pengelola menjalankan manajemen yang baik merupakan kunci kemajuan mereka.

KHI tidak sekadar sebagai wadah pencinta sejarah, tetapi lebih jauh mengupas sejarah sejernih mungkin. Asep Kambali, ketua dan pendiri KHI, amat aktif terlibat dalam berbagai acara yang berkaitan dengan urusan mencintai sejarah bangsa, baik di dalam maupun di luar komunitasnya.


— Baca artikel lengkapnya di Majalah Warisan Indonesia Vol.01 No.05

Atau klik disini



Comments

You need to login to give a comment