KHI Jadikan Sejarah Sebagai Budaya Populer

GoHitzz.com, Jakarta, - Apa kesan Anda belajar sejarah? Mungkin banyak orang beranggapan sejarah itu membosankan. Tapi, ada lho cara asyik memelajari sejarah yakni melalui Komunitas Historia Indonesia (KHI).

Ternyata, Asep Kambali, pendiri KHI, pernah mengalami kebosanan saat belajar sejarah. “Waktu itu, saya kuliah di jurusan sejarah UNJ (Universitas Negeri Jakarta) tahun 2000. Awalnya, nggak suka sejarah sih. Ini batu loncatan untuk pindah ke jurusan lain PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan). Nah, dari situ, gue mulai menemukan…”

Namun, seiring berjalannya waktu, Asep memiliki trik mengatasi kebosanannya terhadap sejarah. “Masuk tahun pertama udah kayak neraka. Dari situ gue mulai berpikir gimana caranya agar sejarah bisa disukai. Karena poin awal saat gue menderikan komunitas se-Indonesia itu adalah sejarah itu dipandang aneh, ngapain belajar sejarah? Untuk apa? Dari situlah gue mulai mendesain agar sejarah mulai disukai,” ungkap Asep kepada Gohitzz, saat berbincang di Jakarta.

Namun, membuat sesuatu out of the box bukanlah hal yang mudah. Komunitas yang didirikan sejak tahun 2003 lalu ini pun mengalami berbagai kendala. Asep mengatakan, hal yang paling sulit dilalui saat ini adalah masyarakat masih tetap menganggap jika sejarah itu sangat membosankan. Banyak yang memandang sepele tentang sejarah bangsa sendiri.

“Kalau orang belum pernah ketemu gue, orang pasti memandang sepele Komunitas Historia. Komunitas sejarah dipandang sepele. Komunitas Historia, itu nggak seperti Bike to Work. Kita pakai otak, belajar sejarah, tapi masih dianggap nggak tren, makanya gue bikin jadi lifestyle. Kayak orang Eropa deh, kalau kita ke Eropa pasti lihatnya tempat bersejarah deh. Nah, gue pengin bikin Indonesia jadi populer,” terangnya.

Asep mengungkapkan, awal berdirinya komunitas bertujuan agar pelajaran sejarah tidak dianggap sebelah mata oleh masyarakat. Alasannya, bila sebuah negara tidak memiliki sejarah, negara tersebut akan hancur.

Komunitas Historia Indonesia sendiri, saat ini sudah memiliki 23.000 orang anggota yang tersebar diseluruh dunia. Mereka juga memiliki berbagai program, seperti Wisata Kota Tua, Jelajah Malam, Menginap di Museum, Seminar, Program Aku menjadi Penyelidik Sejarah, serta Gerakan Nasional Hari Belajar Sejarah Indonesia pada 23 Maret.***

Teks: Maria Cicilia Galuh
Editor: Paramita
Foto: Stevano

Comments

You need to login to give a comment