Biografi: Toean Suska, Eks. Direktur PFN

Adakah yang pernah mengenal Soeska? Dia pernah menjabat sebagai direktur Perusahaan Film Nasional (PFN) di awal kemerdekaan. Saya pernah satu sekolah dengan putranya. Dimana keluarga ini? Ada yang tahu?

Sebelum terjun ke dunia film, dirinya bergelut di dunia pers dengan menjadi pemimpin harian Persamaan di Padang, Sumatera Barat. Pria yang merupakan sahabat karib dari Andjas Asmara ini selalu membidik penonton kalangan bawah dalam produksi filmnya dikarenakan penonton kelas bawah lebih mudah menghargai produksi film dalam negeri. 

Suska ikut tersedot ke studio Andjar setelah menyutradarai film Panggilan Darah (1941), produksi Oriental Film Coy. Suska selalu membidik penonton kelas bawah, ia juga menulis skenario "Poetri Rimba" untuk disutradarai Inoe Perbatasari, tetapi juga memfilmkan cerita dari Khazanah Stamboel, Ratna Moetoe Manikam. Ia dengan sadar menjauhi apa yang dituntut oleh kalangan terpelajar dan pergerakan. "Poetri Rimba" adalah kisah tentang masyarakat primitif di sebuah pulau antah berantah yang berisi aksi, sensasi serta lagu merdu dan romance yang tidak beda dengan kebanyakan film buatan Tan Tjoei Hock untuk penonton paling bawah. 

Sementara itu "Ratna Moetoe Manikam" yang disutradarai Suska ceritanya berdasarkan Jula-Juli Bintang Tiga. Penulis A. Th. Manusama menyebut cerita tersebut sebagai jenis cerita Stamboel. Ketika jaman modern Suska kembali kepada cerita kuno. Ia beralasan karena meskipun zaman beredar dan kehidupan manusia bertukar, tapi ada satu kebutuhan yang tidak berubah, yakni Romantik. Sebagai bukti dari pendapatnya itu, ia menunjuk suksesnya pemutaran film buatan Hollywood "The Thief of Bagdad", cerita 1001 malam, lengkap dengan jin-nya, di pasaran saat itu. 

Maka ia mengatakan kenapa Indonesia orang tidak menampilkan kembali cerita-cerita kuno dengan cara modern. Alasannya adalah bahwa penonton kelas bawah masih merindukan tontonan dengan menguyah bahan impian yang gemerlap dan keindahan itu (sinetron). Yang pasti dengan cara ini orang film terhindar dari kerewelan penonton kalangan atas yang telah menjauhi film Indonesia dan semakin tidak sudi menontonnya. Hehehe :P

Silahkan berkomentar! Terima kasih.

Salam Historia!


Comments

You need to login to give a comment