Babilonia dan Babilonia dalam Tahanan

Oleh: Sumar Songkosastrowardoyo*

Terdapat banyak istilah yang dipergunakan untuk menunjuk secara harafiah pada Imperium Babilonia yang bersejarah dan menunjuk secara metafora (kiasan)  pada serangkaian bermacam-macam peristiwa-peristiwa dan konsep-konsep yang berhubungan dengan sejarah. Kota Babilonia secara tradisional ialah tempat menara Babil, dan nama negeri biasanya dipakai untuk menunjuk pada kota maupun negeri (Imperium Khaldea) yang adalah ibukotanya. 

Kota Babilonia terletak di tengah-tengah lembah Tigris-Euphrates dan kota ini terutama termasuk bagian-bagian sebelah selatan dari tanah yang ditinggalkan oleh air sesudah surut, kendatipun perbatasan-perbatasan bermacam-macam menurut keberhasilan dan kegagalan dalam peperangan-peperangan dengan tetangga-tetangganya yang kuat - Sumer, Assyria, Mesir, dan Persia. Abad Babilonia yang termashur bertepatan dengan pemerintahan Nebudkhadnezzar II (605-502 S.M.).

Selama pemerintahan itu, baik Suriah maupun Palestina dibuat negara-negara bawahan, dan Mesir sendiri terancam. Hegemoni Babilonia pada akhirnya diakhiri oleh orang-orang Persia di bawah Sirus Agung dalam tahun 539 S.M.  Selama pemerintahan Nebudkhadnezzar II, beberapa penyerangan dilakukan pada Yerusalem, dengan akibat terpencar-pencarnya penduduk Kerajaan Yudah. Dalam tahun 598 S.M., rencana diam-diam Raja Yehoiakim  dengan Firaun mengakibatkan jatuhnya kota Babilonia, mangkatnya Raja, dan deportasi (pengasingan)  puteranya secara paksa, pengikutnya, orang-orangnya yang berani, ahli-ahlinya yang memiliki keterampilan teknik, dan pekerja-pekerjanya barang besi ke Babilonia.
 
"Babilonia dalam Tahanan"  pertama ini dibuat lebih umum dengan pengasingan kedua.

Sumber: Handbook of World History, 1967, diterjemahkan secara bebas, dimoderasi, dan diberi beeberapa anotasi seperlunya.
 
Salam Historia!
Pak Sumar

*Anggota senior tinggal di Long Island, New York, USA.


Comments

You need to login to give a comment