The Museum Week: Ketika Mall Diserbu 13 Museum

Oleh: Annatasya Maryana

Tanggal 27 Agustus—1 September publik Jakarta dibuat terkagum-kagum dengan kehadiran 13 Museum di dalam sebuah mall. Momen yang sangat langka ini disambut antusias oleh masyarakat yang haus akan wisata jiwa. Acara ini diselenggarakan oleh The Jakarta Pos sebagai wujud kepedulian sejarah dan budaya bangsa serta mengenalkan museum sebagai tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi.

“Museum di Indonesia belum menjadi primadona layaknya di negara maju. Kesan yang timbul dari sebuah museum adalah tempat kuno dan menyeramkan sehingga jarang dijadikan pilihan destinasi wisata oleh keluarga, tak jarang banyak yang lebih memilih mall dibandingkan museum, maka The Jakarta Post ingin mengubah pandangan tersebut kepada masyarakat melalui The Museum Week,” ujar Riyadi Suparno, Executive Director The Jakarta Post.


Tata kelola yang indah dan rapih serta rangkaian acara yang menarik menjadi daya tarik pengunjung mall Senayan City.13 Museum yang meramaikan The Museum Week antara lain : Museum Sumpah Pemuda, Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Museum Joeang’45, Museum Nasional, Monumen Nasional, Museum Bahari, Museum Basoeki Abdullah, Museum Tekstil, Museum Asmat (TMII), Museum Sejarah Jakarta, Museum Bank Indonesia dan Museum Harry Darsono. Kegiatan interaktif dengan pengunjung dijadikan Acara ini dipenajai juga oleh SKK Migas, Total, Djarum Foundation, Indofood, Sinarmas, PTTEP, Bukit Asam dan Triputra Group serta didukung penuh oleh Komunitas Historia Indonesia (KHI). Tiap museum menghadirkan koleksi eksklusif serta kegiatan interaktif sehingga keluarga terutama anak-anak antusias untuk mengelilingi tiap museum yang ada dalam The Museum Week. Membuat wayang yang dapat dibawa pulang, berperan sebagai Suku Asmat, mengetik naskah proklamasi dan masih banyak lagi adalah potret kegiatan yang dapat dilakukan di The Museum Week.

Asep Kambali selaku pendiri KHI sangat mengapresiasi apa yang dilakukan oleh The Jakarta Post dalam upayanya memperkenalkan museum pada masyarakat. “Berbelanja kebutuhan fisik sangat wajar di sebuah mall, namun yang sekaligus dapat berbelanja kebutuhan jiwa saya rasa hanya The Museum Week yang mengakomodasi dimana Museums goes to mall,” kata Asep Kambali. “Museum dan sejarah adalah hal yang tidak dapat dipisahkan, sejarah akan mati ketika manusia mati namun dengan adanya museum, sejarah akan tetap hidup walaupun manusianya telah mati, dan bangsa yang besar adalah yang mampu menghargai sejarah dan budaya bangsanya sendiri” ujarnya menegaskan.***

Comments

You need to login to give a comment
  • User Avatar

    inal fagundez

    4 years, 11 months ago

    Alhamdulillah saya hadir waktu itu...

  • User Avatar

    admin

    5 years, 1 month ago

    acara yang seru :)