History

KOMUNITAS HISTORIA INDONESIA - KHI

Keprihatinan beberapa mahasiswa jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Jakarta (UNJ) –dahulu IKIP Jakarta dan mahasiswa Jurusan Sejarah Universitas Indonesia (UI) terhadap kondisi masyarakat yang enggan mempelajari sejarah dan budaya telah melahirkan Komunitas Peduli Sejarah dan Budaya Indonesia (KPSBI-Historia) atau yang kini lebih dikenal dengan nama Komunitas Historia Indonesia (KHI) (2006). KHI didirikan di Jakarta pada 22 Maret 2003 berdasarkan hasil kesepakatan pada rapat di kampus UNJ Rawamangun yang dihadiri beberapa orang mahasiswa dari UNJ dan UI. Hasil rapat itu memutuskan Asep Kambali sebagai pendiri/ketuanya.

Beberapa hal yang menjadi keprihatinan KHI antara lain banyaknya masyarakat dan generasi muda yang tidak peduli dengan potensi sejarah dan budaya yang dimiliki bangsa ini. Apa lagi jika dikaitkan dengan pelajaran sejarah di sekolah yang sering diangap para siswa sebagai pelajaran yang membosankan, bikin ngantuk, gak gaul dan tidak menyenangkan. Dikalangan mahasiswa, bahkan jurusan sejarah dianggap paling memiliki masa depan yang suram - "madesu." 

Inspirasi dibentuknya KHI bermula dari buah pemikiran, inisiatif dan prakarsa Asep Kambali (mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah UNJ angkatan 2000) yang ketika itu menjabat sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Jurusan Sejarah UNJ yang menggelar Lomba Lintas Sejarah pada tahun 2002 bagi siswa SMA se-Jabodetabek, Karawang, Purwakarta dan Bandung. Dalam kegiatan itu para siswa melakukan napak tilas dan amazing race ke beberapa museum dan situs sejarah yang berhubungan dengan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia selama satu hari penuh. Kegiatan yang didukung oleh semua museum tujuan dan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI ini ternyata mendapat respon positif dari berbagai pihak dan sangat dinikmati oleh para peserta lomba.

Kegiatan yang diharapakan dapat dilanjutkan oleh pengurus BEM berikutnya, ternyata berhenti setelah kepengurusan Asep digantikan. Kalau pun ada, konsepnya memiliki nama dan bentuk yang berbeda. “Saya pikir sayang kalau kegiatan ini berakhir begitu saja. Tetapi bagaimana caranya supaya saya tetap bisa punya wadah untuk melakukan kegiatan itu? Lahirlah kemudian konsep awal Komunitas Historia Indonesia,” ujar Asep.

Hubungan baik yang dibina KHI dengan berbagai pihak, terutama yang terkait dengan pendidikan, pariwisata, sejarah dan museum, akhirnya membawa KHI menjadi mitra utama berbagai pengelola bangunan tua di Jakarta kala itu, seperti Museum Sejarah Jakarta, Museum Bank Mandiri, Museum Bank Indonesia, Kantor Pos Jakarta Taman Fatahillah, Musuem Juang 45, Café Batavia, Cafe Galangan, Batavia Hotel, Museum Bahari, Museum Kebangkitan Nasional dan lain sebagainya. Kini, KHI telah bermitra dengan ratusan lembaga pendidikan (sekolah dan kampus), organisasi/ intitusi/ korporasi besar di Indonesia dan Dunia. Klik disini untuk mengetahui beberapa diantara partner dan klien kami.

Selain itu, dukungan dari berbagai media massa, baik elektronik maupun cetak, menjadikan KHI semakin dikenal luas. KHI sering dipercaya menjadi mitra dan fasilitator berbagai program radio dan televisi, sekolah nasional plus dan internasional, perusahaan, perkumpulan dan ekspatriat dalam mempelajari sejarah dan budaya Indonesia secara fun dan mendidik (edutainment). Kegiatan-kegiatan KHI sering diliput berbagai media massa baik lokal, nasional dan maupun media massa internasional.

Kerjasama yang demikian baik itu membuahkan hasil, kiprah KHI sebagai komunitas peduli sejarah dan budaya Indonesia yang terbesar, gaul, dan populer semakin membumi. Semua itu menjadikan pertumbuhan KHI dewasa ini semakin pesat.

KHI dalam gerakannya selalu berupaya mencari format dan strategi baru guna mengemas sejarah dan budaya menjadi menarik, menyenangkan dan bermanfaat. Upaya ini dilakukan secara terus menerus agar sejarah dan budaya semakin digemari kaum muda dan masyarakat. Konsep kegiatan yang “rekreatif, edukatif dan menghibur” merupakan strategi yang dikembangkan KHI dalam membangun pola pikir masyarakat sehingga tercipta suasana yang menyenangkan dan membekas di hati setelah mereka belajar sejarah dan budaya.

Dengan bergabung di KHI, mempelajari sejarah dan budaya menjadi tanpa paksaan dan apa adanya. “Yang kami lakukan adalah bagaimana membuat sejarah menjadi menarik dan menyenangkan. Pada akhirnya mereka dengan mudah mendapatkan hikmah dari suatu peristiwa sejarah.” Kondisi demikian lah yang dikenal sebagai kesadaran sejarah.***